|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
nailasyafiraq |
|
nailasyafiraq@yahoo.com |





Sabtu, 15 Mei 2010 pukul 17:15 WIB
Penulis : Nia Ummu Alif
Beberapa bulan yang lalu, kita pernah dihebohkan dengan berita tentang seorang bocah berusia 3 tahun yang mempunyai kebiasaan merokok, minum kopi, dan berkata yang tidak pantas, bertingkah layaknya seperti orang dewasa. Ketika salah seorang wartawan televisi bertanya kepada sang ibu tentang awal mula kebiasaan anak lelakinya itu, sang ibu menjawab seperti tanpa ekspresi penyesalan. “Ketika anak saya berusia 2 tahun, dia meminta sebatang rokok. Saya merasa ‘kasihan’ jika dia menangis, maka saya beri dia sebatang rokok."
Lain halnya dengan cerita di atas, tetangga jauh saya, seorang ibu muda dengan dua orang putra yang kini duduk di bangku sekolah dasar, pernah mengadukan kebiasaan buruk sang anaknya kepada saya. Ketika sang anak menginginkan sesuatu, harus diperoleh saat itu juga, tidak peduli apakah sang ibu mempunyai uang atau tidak. Jika sang anak tidak mendapatkan apa yang diperolehnya, maka ia akan memberontak. Ketika anak-anak tersebut masih kecil, sang ibu selalu memperturutkan apa yang menjadi keinginan mereka, karena sang ibu merasa ‘kasihan’ kalau anak-anaknya menangis. Demikian pengakuan ibu muda tersebut kepada saya.
***
Menjadi orangtua bukanlah merupakan perkara yang mudah, karena setiap anak terlahir dengan tingkah laku yang unik dan berbeda satu dengan yang lainnya, sehingga memperlakukannya pun menggunakan cara yang berbeda pula. Di sinilah pentingnya belajar, dan terus berproses untuk belajar, baik ayah maupun ibu, tentang seni dalam mendidik anak.
Memberikan apa yang diinginkan sang anak karena rasa ‘kasihan’ orangtua ketika melihat anaknya menangis menginginkan sesuatu, kadang bisa menjadi rasa kasihan yang dapat menjerumuskan kehidupan sang anak kelak, karena dengan demikian, sang anak tidak pernah belajar bagaimana bersabar dalam memperoleh sesuatu, tidak ada pembelajaran kepada sang anak untuk dapat membedakan mana yang menjadi keinginan dan mana yang menjadi kebutuhan. Untuk menerapkannya memang membutuhkan kesabaran yang ekstra dari orangtua. Hal ini lebih baik ketimbang kita memberikan cara yang instan, tapi akan berdampak buruk akhirnya. Allah memang memerintahkan kita untuk mempunyai sikap penyayang kepada anak-anak, tapi ini bukan berarti menjadikan sikap penyayang yang dikaruniaiNya menjadi kebablasan, justru ini akan berdampak negatif bagi kehidupan anak-anaknya ketika mereka dewasa kelak.
Ibu Laili Asri dalam taujihnya pada hari Ahad, 18 April 2010 di kota Singkawang, menuturkan bahwa, “Seorang ibu hendaknya senantiasa mengajak anaknya berbicara tentang kebaikan-kebaikan, meski anaknya masih belum pandai berbicara. Dan kata pertama kali yang diperkenalkan kepada anak adalah kata ‘Allah’, bukan ‘ummi’ atau ‘abi’."
Intinya, menjalin komunikasi sesering mungkin kepada anak sejak usia dini menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan meski sang anak belum pandai berbicara.
Semoga setiap peristiwa dalam hidup ini menjadi pembelajaran bagi kita, baik sebagai orangtua maupun sebagai calon orangtua, agar dapat memberikan pendidikan yang terbaik kepada sang buah hati, yang akan menjadi investasi berharga untuk kita di hari akhir nanti. Insya Allah.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nia Ummu Alif sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.