|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|
|
|
nailasyafiraq |
|
nailasyafiraq@yahoo.com |




Selasa, 30 Juni 2009 pukul 18:00 WIB
Penulis : Nia Ummu Alif
Saudaraku, seharusnya kita merasa malu kepada Allah! Betapa tidak, banyak sekali kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, namun masih sedikit yang kita syukuri. Tidak jarang justru kita membalas kebaikan tersebut dengan perbuatan durhaka kepadaNya. Bahkan ketika Allah mengurangi sebagian nikmat yang telah Ia berikan kepada kita dikarenakan kita sendiri yang kurang bisa mensyukuri nikmat tersebut, terkadang malah berprasangka yang bukan-bukan kepadaNya. Kita pun seringkali tidak adil dalam bersikap kepadaNya, selalu mengharap kenikmatan yang melimpah dariNya, namun seringkali kita malas dan setengah-setengah dalam menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya. Tidak jarang kita gunakan dalih sibuk, lelah, nanti saja, dan berbagai macam bentuk alasan lainnya. Intinya agar bisa menghindar dari seruan Allah.
Bukankah kita juga berharap nantinya dimasukkan ke dalam surgaNya? Tapi lihatlah bekal yang telah kita persiapkan, ternyata masih terlalu sedikit untuk perjalanan menuju ke sana. Seharusnya kita selalu bersungguh-sungguh dalam berbakti kepada Allah dan baru boleh bersantai saat dimasukkan ke dalam surga sebagaimana tekad Imam Ahmad saat ditanya oleh salah seorang muridnya tentang kapan ia istirahat dari beribadah. "Bila kaki telah menginjak surga, saat itulah kita istirahat," begitu jawabnya.
Maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan beramal shaleh, namun jangan sampai kesungguhan kita nanti menjadikan ujub karena merasa yang paling baik. Kesungguhan amal ibadah yang kita lakukan belum seberapa bila dibandingkan dengan para mujahid alumnus perang Badar dan akan kelihatan begitu sepele dibandingkan dengan amal ibadah para murid lulusan madrasah Rasulullah SAW.
Hasan Al-Basri pernah berkata pada muridnya, "Demi Allah, sungguh! Andai saja salah seorang dari kalian bertemu dengan generasi awal (umat ini) sebagaimana yang telah aku dapati serta melihat salah seorang dari salafush shaleh sebagaimana yang aku lihat, niscaya di pagi hari dia dalam keadaan bersedih hati dan pada sore harinya dalam keadaan berduka. Dia pasti mengetahui bahwa orang-orang yang bersungguh di antara kalian akan seperti orang yang bermain-main. Dan orang yang rajin di antara kalian akan serupa dengan orang-orang yang suka meninggalkan (di kalangan mereka)."
Seharusnya kita malu mengaku sebagai orang beriman, sementara masih sering berbuat maksiat. Seharusnya pula kita malu tatkala mengajak orang lain untuk kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, sementara akhlaq kita justru jauh dari tuntunan keduanya. Karena di masa yang belakangan akan sering kita jumpai banyaknya orang yang mengajak kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, sementara dirinya sendiri sedikit sekali atau bahkan tidak mengenal sama sekali ajaran keduanya. Oleh karena itu, tidak mustahil bila akhlaqnya tidak mencerminkan sama sekali terhadap apa yang diserukan.
Allah berfirman, "Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga." (QS. Al-Baqarah : 78).
Sumber : Mas Udik Abdullah, "Madrasah Jiwa Perindu Syurga"
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nia Ummu Alif sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.