|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
|
nailasyafiraq |
|
nailasyafiraq@yahoo.com |



Senin, 8 Juni 2009 pukul 17:15 WIB
Penulis : Nia Ummu Alif
Betapa bahagianya hatiku, karena sebentar lagi aku akan segera menemukan labuhan hati. Setelah sekian lama ia berlayar, satu persatu cita-cita indah akan masa depan kuukir bersamanya. Senyumku selalu terkembang menghiasi hari-hariku, meski beberapa mencoba menawarkan sebagai labuhan hati yang baru. Namun satu persatu, aku menolaknya karena tak ingin membuatnya kecewa.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tanpa terasa berlalu cepat meninggalkan. Entah berapa banyak air mata ini kutumpahkan, entah berapa banyak pula pikiran yang telah kucurahkan. Penantian demi penantian kulewati dengan kesabaran tanpa suatu kepastian, meski sungguh sangat menyakitkan. Hanya karena keyakinan hati yang membuatku mampu untuk bertahan, bahwa sebentar lagi, dia nun jauh di sana akan datang untuk merajut cita-cita indah bersamaku, tapi entah sampai kapan.
Kini, hari-hari keceriaanku telah berganti kedukaan, hatiku dihiasi dengan kegelisahan, aktivitas ibadah yang kujalani berlalu tanpa ruh, ayat-ayat cintaNya yang kulantunkan belum juga membawa kedamaian. Hatiku semakin gelisah dan gundah. Hatiku menangis, karena bintang dalam hatiku mulai redup cahayanya. Hati kecilku merintih, "Aku ingin kembali, kembali merasakan kenikmatan ketika berdua denganMu, aku ingin kembali. Oh, betapa rapuhnya jiwaku karena berharap pada selainMu, betapa hinanya diriku di hadapanMu karena mengemis cinta pada selainMu."
Kucoba membuka mata hatiku yang telah tertutup oleh kabut cinta yang semu. Aku tak bisa terus menerus begini. Sekuat apa pun usahaku terhadap sesuatu yang kusukai, jika bukan takdirnya, pasti tidak akan pernah terjadi. Kenapa aku harus merana karenanya, terhadap takdir yang belum aku ketahui. Aku harus belajar ikhlas untuk melepaskannya. Aku yakin dan percaya pada waktu. Waktu yang akan membantuku untuk melepaskannya dan kembali pasrahkan semuanya pada Allah, karena Dia yang paling tahu kebahagiaan seperti apa yang aku butuhkan.
Kini, aku tak ingin ada tangis lagi untuknya. Kalaupun ada tangis di mata ini, itu hanya karena tangisan penyesalan atas dosa-dosaku. Kalaupun harus ada air mata ini, itu hanya karena takut tidak mendapatkan ampunanNya. Karena aku yakin dan percaya, kelak ku menemukan penggantinya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nia Ummu Alif sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.