|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|
|
|
nailasyafiraq |
|
nailasyafiraq@yahoo.com |





Sabtu, 4 Juli 2009 pukul 16:00 WIB
Penulis : Nia Ummu Alif
Siapa yang tak kenal dengan sosok ikhwan yang satu ini di Universitas Negeri di Kota saya. Seorang aktifis dakwah kampus yang telah malang melintang dalam dunia dakwah. Setiap aksi mahasiswa, ia selalu tampil terdepan dengan suara lantang menyuarakan kebenaran, bahkan ikhwan yang terkenal dengan suara yang sangat vokal mengkritik berbagai kebijakan pemerintah ini pernah tercatat sebagai daftar pencarian orang oleh salah satu partai politik di kota saya.
Beberapa pelatihan untuk para kader dakwah tak pernah lepas dari peran ikhwan yang satu ini sebagai pembicara. Ketika saya dan beberapa akhwat lain berkumpul, kadang ia menjadi bahan pembicaraan kami, karena kagum akan semangat juangnya untuk dakwah ini. Di berbagai organisasi mahasiswa, ia pun selalu tampil menjadi ketuanya, baik ketua LDK ataupun ketua BEM di kampusnya. Meskipun aktif dalam berorganisasi, prestasi akademiknya pun tak diragukan lagi. Organisasi oke, prestasi akademik TOP, begitulah slogan yang pantas untuknya.
Akhir tahun 2005, rekan-rekan dakwah kampus sepakat untuk mengirimkan kader terbaiknya sebagai kandidat presiden mahasiswa, dialah ikhwan itu. Namun Allah berkehendak lain, ia dan kader-kader dakwah lainnya harus mengakui kemenangan kandidat dari organisasi mahasiswa lain. Sejak peristiwa tersebut, saat itulah ujian Allah datang. Rekan-rekan dakwah berkumpul untuk membahas kekalahan ini, karena mengingat banyak kader-kader dakwah di universitas yang mendukungnya. Saat itulah terjadi saling menyalahkan, kritikan-kritikan pedas tak luput dialamatkan kepadanya.
Akhirnya, ia mulai kecewa. Di balik kekecewaannya itu, tampillah seorang wanita yang merupakan teman sekampusnya memberikan dukungan dan semangat untuknya. Saat itulah virus itu mulai tumbuh. Perlahan tapi pasti, ia meninggalkan dunia dakwah ini, yang pernah membesarkan namanya dan akhirnya memilih wanita tersebut. Bahkan ia justru mengatakan bahwa kefuturannya karena disebabkan oleh rekan-rekan dakwahnya. Kini keberadaannya di kampus sudah sangat jarang terlihat, bahkan informasi terakhir yang saya ketahui, pada tahun 2008, ia belum juga menyelesaikan studinya.
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga untuk saya khususnya dan rekan-rekan dakwah lainnya. Betapa tidak, sosok ikhwan yang pernah dikagumi akan semangatnya dalam berdakwah, kini telah jauh berubah. Tidak ada yang pernah tahu apa dan bagaimana rencana Allah kepada hamba-hambaNya. Seleksi alam telah menjadi sunnatullah. Allah akan senantiasa memberikan ujian kepada hamba-hambaNya, mana yang benar-benar ikhlas berjuang dan mana yang tidak, sehingga orang-orang yang tersisa adalah mereka yang akan tetap eksis dalam dakwah.
Dakwah itu tidak pernah membutuhkan kita, kitalah yang membutuhkan dakwah, karena ada atau tidaknya kita, dakwah itu akan tetap ada. Ini telah menjadi janjiNya. 5 tahun, 10 tahun, bahkan 20 tahun nanti, tidak ada yang pernah tahu di mana kah posisi kita berada, tetap menjadi pejuang dakwah, minimal pejuang untuk diri kita sendiri, ataukah menjadi orang yang hilang ditelan sejarah.
Wallahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nia Ummu Alif sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.