|
QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
|
|
|
ferryhadary |





Sabtu, 15 Mei 2010 pukul 19:15 WIB
Penulis : Ferry Hadary
Saya yakin, rekan-rekan pernah membaca tulisan penulis selain tulisan dirinya. Saya juga.
Beberapa orang penulis yang selalu saya sempatkan membaca tulisannya yaitu seperti Aulia A. Muhammad (kolom Iqra) dan Prie G.S (kolom Serambi) di Suara Merdeka.
Aulia ini menulis dengan ciri khasnya, lebih banyak mengulas tentang entertaimen. Bukan dunia entertaimen itu yang saya suka, tapi gaya ia menuliskannya. Perhatikan, betapa runut, teliti, setiap peristiwa dan bisa digambarkannya dengan kata. Saya yakin, ia penulis yang cerdas. Membaca tulisannya dari awal menggoda saya untuk menuntaskannya.
Penulis lainnya, seperti yang saya sebutkan di atas, yaitu wartawan senior Prie G.S. Tulisan beliau ini begitu sederhana, hanya keseharian yang pasti ditemuinya selaku wartawan. Uups!!! Lebih tepatnya selaku seorang manusia yang punya kodrat seperti kita, makhluk sosial. Sederhana, memang. Bahkan biasa. Coba lihat salah satu tulisannya, maaf, Ketika Aku Melihat Resluitingmu Terbuka.
Kata-katanya biasa. Tak pakai ungkapan sastra tingkat tinggi, ataupun tingkat rendah, sekalipun. Tapi sekali lagi lihat cara beliau menggambarkan sebuah peristiwa sederhana itu dalam setiap tulisannya. Menarik. Membuat kita, setidaknya saya, membacanya sambil nyengir, bahkan ketawa kecil. Keseharian, hingga terkadang saya berkata, "Itu gue banget!!!"
Penulis lainnya yang saya suka adalah Anis Matta. Beliau rutin menulis di Kolom Thumuhat, Majalah Tarbawi. Kefasihan beliau dalam banyak bahasa membuatnya lebih 'kaya' dari penulis-penulis lainnya.
Coba lihat kisah manusia-manusia nyata yang dipetik di setiap tulisannya. Perhatikan pula kutipan syair, puisi, ungkapan seseorang, yang dikutipnya. Itu tanda beliau adalah seorang penulis cerdas. Membaca, menelaah banyak buku, memetik inti sebuah peristiwa, kemudian dapat mengambil sarinya dan menjadikan itu sebagai kekayaan dalam setiap tulisannya.
Cerdas! Yakin? Saya yakin banget, bahkan kecerdasan beliau tak hanya pada tulisan. Tapi juga kemampuan verval yang dimilikinya. Nggak heran, hanya decak kekaguman setiap membaca tulisan Anis Matta.
Itulah. Saya yakin, banyak di antara kita --yang suka menulis-- akan melihat jutaan peristiwa setiap harinya. Tawa, tangis, suka, duka, segala macam hal di dunia. Ataupun membaca buku-buku yang ada.
Tapi tanyakanlah, berapa gelintir yang dapat menggambarkannya dengan kata? Dan dari berapa gelintir itu akan lebih sedikit lagi yang dapat menggambarkannya dengan menarik atau idealnya, cerdas. Tak hanya sekadar menulis.
Mungkin tema yang dipilih biasa, keseharian. Tapi tunjukkan kedahsyatan kata-katanya. Sodorkan juga 'kekayaan' dengan petikan kisah dan segala macam hal yang pernah ditemuinya di dunia dengan 'riset'.
Mungkin bagi sebagian calon penulis susah, awalnya. Apalagi jika dimulai dengan kata SUSAH!!!
Tapi hanya dengan cara mau membaca, menelaah, tak jengah berbaur dengan banyak peristiwa, sudi mempelajari gaya penulis lainnya, dan terakhir, berlatih, berlatih, berlatih, suatu saat ia tak hanya menjadi sekadar penulis. Namun, kelak ia akan menjadi penulis cerdas yang tak hanya membuatnya menjadi 'kaya', tetapi juga pembacanya.
Adakah di antara kita yang tak ingin 'kaya' karena kecerdasan yang begitu mewah pada setiap tulisannya?
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.