Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
Alamat Akun
http://abuaufa.kotasantri.com
Bergabung
6 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Pontianak - Kalimantan Barat
Pekerjaan
Lecturer
Abu Aufa, nama pena itu yang digunakan dalam setiap goresan penanya. Terlahir 38 tahun silam dengan nama Ferry Hadary, ia adalah suami dari Mirya Emeralda, serta abi dari Hikari Aufa Rafiqi (Aufa, almarhum) dan Zafirah Asy Syifa (Asy Syifa, 1 tahun 9 bulan). Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini, lahir …
ferryhadary
Tulisan Ferry Lainnya
Riak Gelombang di Telaga Tua
19 Maret 2010 pukul 18:00 WIB
Peluklah Aku, Bunda
8 Maret 2010 pukul 17:45 WIB
Musim Manga
27 Februari 2010 pukul 20:45 WIB
Tetesan Air Mata
26 Februari 2010 pukul 16:30 WIB
Nek Cik
24 Februari 2010 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 21 Maret 2010 pukul 18:22 WIB

Diary Hati untuk Ricky

Penulis : Ferry Hadary

Duhai sayang,
Belahan hati pujaan ibu seorang
Apa kabar dirimu saat ini, Nak?
Anakku,
Inilah suara hati ibu untukmu
Tanda cinta tiada tepi, walau engkau telah jauh dari sisiku

Anakku sayang,
Izinkan aku bertutur tentang dirimu, Nak. Kepada semua orang, kuingin bercerita tentang betapa namamu selalu menggoreskan berjuta kenangan. Engkau belahan jiwa yang pernah tak kuharapkan awal kehadirannya. Namun, ternyata dari dirimu jua aku dapat belajar tentang makna ikhlas dan sabar akan sebuah keniscayaan.

***

13 Desember 1996

Oee.. oee...

Ya Allah, amanahMu telah lahir untuk menyapa dunia. Ini ibu, sayang. Kemarilah, agar dapat kau hirup air susu beraroma surga. Akan aku tawarkan pula cinta seorang ibunda. Lengking tangisanmu terdengar indah, Nak, seperti bayi-bayi lainnya. Namun entahlah, gerakan reflek kedua bola mata itu sepertinya tak sama.

***

1997

Setahun telah berlalu. Engkau terlihat berbeda, tak seperti kedua kakak perempuanmu. Ada apa denganmu, Nak? Kudekap dirimu, biar dapat aku alirkan kekuatan cinta seorang ibu. Bersabarlah saat begitu banyak alat-alat menyiksa tubuh kecilmu, Nak. Jangan! Jangan kau tatap aku dengan sorot mata bertanya, mengapa? Kalaulah engkau tahu, aku pun tak tega melihat engkau diperlakukan seperti itu.

Namun syukurlah...
Engkau diperkirakan normal, walau harus mengalami beberapa kali pemeriksaan.

Tapi aku ibumu, dan dari rahim ini engkau ada di dunia. Batin ini tak dapat dibohongi, karena engkau dan aku disatukan oleh ikatan hati. Kubiarkan air mata ini terus beruah, ketika engkau yang masih kecil kembali lagi diperiksa. Syaraf, otak, juga pembuluh darah. Lagi, alat-alat canggih itu menyakitimu, Nak.

Anakku sayang,
Engkau pasti sakit. Kalaulah boleh, biar saja ibu yang merasakan itu. Tapi bertahanlah, karena selalu ada ibu di sisimu.

***

Mei 1998

Astaghfirullah...
Jakarta resah, merah putih gelisah. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Orangtuamu ini pun terkena dampaknya. Bapakmu yang bekerja di pabrik tekstil diberhentikan dari pekerjaannya. Tak lama kemudian, kita juga harus pindah dari rumah kontrakan karena anak pemilik rumah ini mau menempatinya. Tak cukup hanya itu, sayang. Ternyata hasil pemeriksaan terbaru membawa kabar buruk, dirimu mengalami kelainan kromosom dengan translokasi Robertson.

Nak,
Air mata ini rasanya tak akan pernah mengering. Tak kunjung usai cobaan yang datang menghampiri kita. Semoga ini tanda Allah sayang kepada hamba-hambaNya.

***

1999

Nak,
Dirimu mulai terlihat gagah. Lihatlah, engkau mulai belajar menapak meski dengan bantuan kettler, karena kedua tungkai kakimu berbentuk X dan tak sama tingginya. Melangkahlah terus sayang, walau goyah. Ucapkan kata yang kau bisa, karena aku bahagia mendengarnya. Tataplah dunia, dengan juling bola mata dan tebalnya kacamata. Bukankah dengan itu pun dapat kau lihat keindahan alam semesta?

***

Tahun Ajaran 2000-2001

Alhamdulillah...
Syukur tak henti kuucapkan kepada Allah. Begitu banyak orang yang menyayangimu, Nak. Sahabat dan saudara begitu berlimpah. Persahabatan memang indah, karena saat resah kita dapat berbagi duka. Biaya besar untuk pendidikan di sekolah terapi khusus untuk anak sepertimu, seperti menjadi begitu mudah. Kadang aku sering bertanya, mengapa mereka begitu memperhatikanmu, sayang. Tapi kutahu jawabannya, hanya cinta yang dapat mengikat hati-hati kita.

***

Juni 2003

Waktu terus bergulir lamban. Setiap saat, kutatap wajahmu ketika lelap. Perlahan, kucium engkau dengan mesra. Tak lupa aku bersyukur melihat engkau tumbuh dan berkembang, meski semakin jelas tampak berbeda. Dirimu semakin mengisi setiap sudut hatiku. Melahirkan kasih putih yang berlimpah ruah. Menciptakan rasa cinta yang begitu membuncah. Rasa itu semakin hari membuat aku jadi khawatir kehilanganmu, Nak.

Namun,
Adakah seorang ibu yang tak takut kehilangan buah hatinya? Kepada Allah jua kumohonkan do'a, agar IA selalu menjaga dirimu, sayang.

***

Jumat, 11 Juli 2003

Hari ini, engkau mengeluh kepalamu pusing. Tak perlu khawatir, kata dokter yang memeriksamu dua hari setelah itu. Namun besoknya tubuhmu menggigil. Apakah engkau keracunan obat, Nak? Reguk-lah, air kelapa hijau yang kuberikan kepadamu. Ternyata dirimu terkena demam berdarah, ketika Selasa menjelang maghrib kubawa engkau ke rumah sakit.

Ya Allah...
Ternyata engkau harus rawat inap di ICU, sayang. Cobalah untuk istirahat, pejamkan mata di ruangan serba putih itu.

***

Rabu, 16 Juli 2003

Pukul 4-5

Aduh...!!!
Terdengar di dini hari ini engkau berteriak, sakit. Kejang! Tubuhmu bagai menggelepar. Sabar dan cobalah untuk tabah, sayang. Namun kurasakan aura sakaratul maut itu perlahan mulai merenggut engkau dari aku.

Marilah kutuntun, Nak. Ikuti apa kata ibu.

Laa ilaha illa Allah...
Ricky anak ibu, laa ilaha illa Allah...

Kemudian, matamu menatapku. Duhai, inikah tanda perpisahan itu?

Pukul 5.40

Akhirnya...
Usai sudah perjalanan hidupmu di dunia fana. Pergilah dengan tenang. Biarkan jiwa sucimu melayang, didekap dengan selimut kasih sayang para malaikat. Ibu, bapak, dan juga kakak-kakakmu ikhlas, Nak.

Kelak, tak akan akan pernah engkau dengar teman-temanmu yang berteriak bahwa kau orang gila. Karena engkau sehat dan normal, sayang. Kalaulah dirimu terlihat berbeda di mata mereka, bukankah engkau pun tak pernah menginginkannya?

Anakku sayang,
Suatu saat, pernah tak kuharapkan kehadiranmu di rahim ibu. Sering pula aku menangis karena menolak kehendakNya menitipkan engkau kepadaku. Bila menurutkan kata hati ini, sekarang pun aku ingin kembali menangisi kepergianmu, Nak. Tapi aku malu kepada Allah, karena IA lebih tahu tentang makna cinta. Berapa juga besarnya yang ada pada manusia, tapi Allah-lah Sang Pemilik Cinta.

Selamat jalan, sayang.
Bermainlah di alammu sana, bercanda riang penuh tawa.

Semoga pula Allah mengampuni segala dosa yang pernah kulakukan. Percayalah, betapa sebenarnya ibu teramat sayang kepadamu. Tunggulah ibu, Nak. Nanti akan kembali kupeluk engkau sepenuh hatiku.

***

WaLlahu a'lamu bish-shawab.

Tulisan ini berdasarkan kisah nyata seorang ibu di Jakarta dan telah dimuat di buku Abu Aufa, SAPA CINTA DARI NEGERI SAKURA.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Achmad Fachrie | Pekerja IT
Subhanallah... KotaSantri.com makin lama makin berkembang, baik dari sisi content dan context. Semoga makin bermanfaat untuk para pembaca. Yang belum gabung, gabung aja... Barakallah :)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1255 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels