HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://abuaufa.kotasantri.com
Bergabung
6 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Pontianak - Kalimantan Barat
Pekerjaan
Lecturer
Abu Aufa, nama pena itu yang digunakan dalam setiap goresan penanya. Terlahir 38 tahun silam dengan nama Ferry Hadary, ia adalah suami dari Mirya Emeralda, serta abi dari Hikari Aufa Rafiqi (Aufa, almarhum) dan Zafirah Asy Syifa (Asy Syifa, 1 tahun 9 bulan). Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini, lahir …
ferryhadary
Tulisan Ferry Lainnya
Usah Kau Lara Sendiri
1 April 2010 pukul 18:33 WIB
Diary Hati untuk Ricky
21 Maret 2010 pukul 18:22 WIB
Riak Gelombang di Telaga Tua
19 Maret 2010 pukul 18:00 WIB
Peluklah Aku, Bunda
8 Maret 2010 pukul 17:45 WIB
Musim Manga
27 Februari 2010 pukul 20:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 18 April 2010 pukul 17:00 WIB

Bidadari Kecil Itu Tak Pernah Sendiri

Penulis : Ferry Hadary

Matanya bulat, cantik, dan jernih seolah tak berdosa. Tawanya pun selalu lepas, sehingga menambah keceriaan di wajah. Usianya memang telah dewasa, namun ia berprilaku bagaikan balita yang polos dan tak banyak meminta. Kelembutan yang terpancar dari jiwa, juga telah menghapus kesempatannya untuk berbuat nakal dan dosa.

Ia adikku, Dian namanya. Limpahan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala, menjadikan dirinya ditakdirkan terlahir dengan keterbelakangan mental. Chromosome 15 Trisomy Syndrome yang diderita membuatnya bagaikan seorang kanak-kanak. Namun, tak pernah sekalipun ia terlihat menyesali nasibnya.

Dian memang anak istimewa. Selain cacat mental, menjelang akhir hayatnya ia juga menderita sakit ginjal, diabetes, kelainan jantung, lalu lumpuh, dan bisu. Bahkan beberapa hari sebelum maut menjemput, kebutaan pun merampas penglihatannya. Tangis ketakutan yang kekanak-kanakan, akan membuat siapa pun yang mendengar giris hatinya.

"Ma... ma... Aku takut, gelap, ma. Mama di sini sama aku ya, ma," terdengar rengekannya yang pernah membuat air mata mamaku tumpah. Beliau lalu mengajak Dian berdzikir dan membaca do'a-do'a.

Apa yang diderita Dian pernah membuatku dan saudara-saudara yang lain berburuk sangka kepadaNya, "Ya Allah, mengapa Engkau timpakan penderitaan sepedih ini kepada adik kami?" Pertanyaan itu sering kali menyeruak, dan bertubi-tubi menghujani hati ini.

Kami pun pernah sedih karena memikirkan Dian yang tak pernah hidup normal seperti layaknya saudara-saudaranya yang lain. Tumbuh dewasa, menikah, lantas merasakan kebahagiaan berumah tangga. Namun, bukankah Allah Yang Maha Pencipta tentu lebih tahu segalanya. Mungkin Ia hanya tersenyum bijaksana, menatap kesalahpahaman kami semua.

Dian memang cacat fisik dan mental, tapi tidak hatinya. Tubuh yang penuh tutulan obat merah dan perban karena koreng bernanah, bahkan sebagian hidupnya yang harus dijalani dengan kursi roda, tak mampu menutupi keistimewaan yang ada pada dirinya.

Suatu peristiwa saat ia berusia 5 tahun, menampilkan sosok jiwanya yang begitu lembut. Ia tak pernah tega walaupun terhadap semut-semut yang mengerubungi piring nasinya. Ia hanya menjerit-jerit, "Ma... Nyamut, nyamut, ma!" karena saat itu ia tidak bisa membedakan antara nyamuk dan semut.

Lalu aku yang saat itu mendengar, tergopoh-gopoh menghampirinya, "Jangan menangis, Dian, ini kan cuma semut. Pukul saja, ntar juga semutnya pergi." Lalu kuusir semut-semut itu, dengan tepukan tangan di lantai teras depan rumah kami.

Allah Yang Maha Pengasih memang sangat mencintai Dian. Betapa tidak? Kelahirannya disambut dengan penuh kebahagiaan, dan kematiannya di usia 30 tahun adalah peristiwa terindah yang pernah kudengar.

Ketika itu, menjelang malaikat maut hendak menjemput, mamaku meminta Dian untuk selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala sambil membelai-belai lembut kepalanya, "Dian, nyebut ya sayang, ya Allah... gitu, nak. Ya Allah... Allahu Akbar!" Lalu mama membaca surah Yaasiin di pinggir tempat tidur, sedangkan bapak melakukan shalat Ashar, tak jauh dari sisi tempat tidur Dian.

Lidah Dian mulai sulit bergerak. Namun orangtuaku dengan tabah berusaha membimbingnya mengucapkan, "Allahu Akbar, ya Allah." Hingga suatu saat, ketika mama membisikkan kalimat itu, Dian menggenggam tangannya dengan kuat dan bergumam lirih, "Aaaaaahhhhhh..."

Air bening pun bergulir dari sudut mata Dian yang telah buta. Mungkin sebagai isyarat permintaan maaf, dan mohon kerelaan karena ia sebentar lagi akan berpulang kepada Sang Pencipta.

"Pulanglah Dian ke haribaan Allah," kata mama dengan tabah di sela isakan tangisan. Lalu dengan tenang Dian meninggalkan kami semua dengan hembusan nafas terakhirnya.

Di saat penguburan, mama mengecup telapak tangannya sendiri kemudian melambai ke pusara Dian. "Selamat jalan, bidadari kecilku. Tunggu mama di sana ya, nak," katanya seraya menatap lubang peristirahatan terakhir Dian yang mulai ditutupi tanah merah oleh para sanak saudara dan sahabat.

Adikku Dian memang benar-benar anak istimewa, bahkan teristimewa di antara saudara-saudaranya. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala pun mengirim bapak untuk pulang menyertai Dian, tak lama setelah kepergiannya. Mungkin sebagai jawaban kepada bapak yang memang selalu merindukan anak istimewanya.

Sekarang bidadari kecil kami tak perlu takut sendirian, karena bapak telah berada di sana untuk menemaninya.

Dian, adikku tersayang...
Jangan takut untuk kembali kepada Allah ya, sayang. Engkau tahu, engkau tak sendirian. Mama pun selalu berkata, engkau tak akan pernah sendirian, karena do'a dan segenap cinta kami selalu bersama dirimu, adikku tercinta.

Kembali kepada Allah adalah sesuatu yang indah. Bahkan teramat indah dari apa yang mungkin pernah engkau bayangkan. Selamat jalan, sayang, selamat tinggal adikku yang teristimewa. Engkau memang bidadari kecil yang tak pernah sendirian.

Seperti yang dituturkan ibu Sri Lawson, Highland-Michigan, tentang adiknya almarhumah Rr. Dian Tri Wulandari.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Widia | guru
Semailah hikmah dengan berpikir, tumbuhkan hikmah dengan menulis, dan petiklah hikmah dengan membaca. Semuanya bisa dilakukan di KotaSantri.com. Tampilannya keren, biru menyejukkan. I like it! Tulisannya sederhana, indah, dan sarat makna. Bisa nulis dan bisa baca juga. Semoga selalu memberikan manfaat bagi pengunjungnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1343 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels