QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
Alamat Akun
http://abuaufa.kotasantri.com
Bergabung
6 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Pontianak - Kalimantan Barat
Pekerjaan
Lecturer
Abu Aufa, nama pena itu yang digunakan dalam setiap goresan penanya. Terlahir 38 tahun silam dengan nama Ferry Hadary, ia adalah suami dari Mirya Emeralda, serta abi dari Hikari Aufa Rafiqi (Aufa, almarhum) dan Zafirah Asy Syifa (Asy Syifa, 1 tahun 9 bulan). Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini, lahir …
ferryhadary
Tulisan Ferry Lainnya
Bidadari Kecil Itu Tak Pernah Sendiri
18 April 2010 pukul 17:00 WIB
Usah Kau Lara Sendiri
1 April 2010 pukul 18:33 WIB
Diary Hati untuk Ricky
21 Maret 2010 pukul 18:22 WIB
Riak Gelombang di Telaga Tua
19 Maret 2010 pukul 18:00 WIB
Peluklah Aku, Bunda
8 Maret 2010 pukul 17:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Bingkai

Senin, 26 April 2010 pukul 18:22 WIB

Duka Telah Memagut Cinta

Penulis : Ferry Hadary

Duka memang membuat resah jiwa
Gamang, mengisi hari-harinya
Tapak kaki pun menjadi goyah bahkan tak sanggup lagi melangkah
Namun...
Adakah gundah gulana akan mengembalikan semua kenangan indah?

Raut wajahnya kuyu dan kusam. Mata sembab menyisakan isak tangisan. Kepedihan masih terasa menyayat dan menggurat, menghela tumpukan gundah di dada yang semakin membuncah.

Perlahan rapuh meranggas jiwanya hingga raga lelah dan kalah. Pupus segala harap, melukai indahnya impian masa depan. Perih ditatapnya setiap sudut rumah, apa yang tampak seperti ingin bercerita. Hati kecilnya ingin berontak, namun kenyataan tak dapat diingkari dengan mudah. Tak kuasa jiwa menahannya, tumpah, dalam derai air mata.

Dalam sesegukan yang memilukan, terbentang serpihan siluet kenangan.

Sederhana...
Hanya sepatah kata yang dapat menggambarkan sosok dirinya. Lelaki itu memang biasa saja. Namun, setiap sentuhan dan ucapannya selalu bermakna cinta yang teramat dalam. Ia pun tak pernah ragu menantang kerasnya kehidupan. Bau keringatnya setelah seharian mencari nafkah, selalu menebarkan aroma kerinduan.

Lelaki itu sungguh biasa saja. Ia hadir saat hati ini telah terlalu lelah berharap, lalu berikrar untuk selalu bersama dalam sebuah ikatan cinta. Tak ada yang dijanjikannya, kecuali hasrat menyulam pinta keridhaan Sang Pencipta. Waktu pun bergulir indah, bersama mengecap manisnya mahligai cinta.

Hari-hari yang telah berlalu menjadi begitu penuh warna. Ceria selalu mengisi rongga dada. Resah yang terkadang singgah, terhapus oleh kebesaran jiwa. Duhai Pemilik Cinta, betapa sujud panjang dan tetesan air mata kesyukuran, seakan tak ada artinya dengan apa yang telah Engkau berikan.

Hingga...
Badai menerpa. Laut bagaikan bergolak, langit pecah dan bumi merekah. Pengabdian tanpa kenal lelah demi keluarga tercinta berbuah derita. Sakit pun menyiksa hari-hari yang panjang lalu menidurkan untuk selama-lamanya. Duka telah memagut mati cinta, "Wahai jiwa yang tenang, keluarlah sekarang dengan ampunan dan kerelaanNya."

Kini belahan jiwa yang dikasihi terbujur kaku, berselimut putih. Hanya tetesan air mata kepiluan yang terdengar memecahkan sunyi. Tak ada lagi tawa canda, untaian nasehat atau pun lantunan syahdu ayat suci Al-Qur'an saat dirinya masih berada di sisi. Semuanya hanyalah kenangan yang menebarkan repihan duka, hingga membentuk anak-anak sungai di pelupuk mata.

Yaa Rabbi...
Sanggupkah diri ini menghadapi sisa hidup tanpa kekasih hati?

Kehilangan pasangan jiwa telah membuat terpuruk jiwa dan raganya. Tegar yang dulu bersemayam, luruh dalam kepiluan dan kekhawatiran. Jiwa pun tak mampu menahan ketidakberdayaan. Duka yang disengat kematian memporak-porandakan cinta dan hasrat hidup bahagia selama-lamanya. Gamang, seakan tak ada lagi tempat berpijak untuk masa depan.

Namun...
Andaikan aqad nikah adalah awal dari sebuah cerita indah dalam kehidupan dua anak manusia, maka perpisahan dengan pasangan jiwa bukanlah akhir dari segalanya. Memang, pasti ada yang hilang. Namun, masih ada banyak tinta pena untuk menulis kisah selanjutnya. Kisah-kisah yang tak kalah indah seperti kisah regukan cinta di malam pertama.

Sungguh tak ringan untuk memahami kenyataan bahwa duka telah memagut cinta, namun roda kehidupan tak pernah berhenti berputar. Gundah dan keluh kesah yang tak habis-habisnya pun tak akan mengembalikan dirinya ke dunia fana. Bukankah yang terbaik adalah menata hati, jiwa, dan raga demi masa depan?

Pasti tak mudah untuk membuka mata dan menatap bentangan jalan di muka. Hidup memang selalu mengukir kenangan, namun seharusnya hidup juga punya berjuta harapan.

Semoga.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Yussi | Karyawati
Subhanallah sekali bisa bergabung di KotaSantri.com. Barakallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1255 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels