|
Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Senin, 7 September 2009 pukul 17:40 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Masih menikmati aroma tanah yang diterpa hujan hari ini. Secangkir capuccino terasa begitu luar biasa dalam perpaduan hawa dingin dan semilir angin malam yang menyeka lara jiwa. Lengkaplah suasana dengan bulatan indah bersinar redup di birunya langit yang kini sempurna purnama. Dan ternyata aku pun bahagia.
Melupakan hatiku yang kemarin terseok sembilu di antara kamuflase ketegaran. Meleburkan asaku pada rasa tawakal yang kini mulai menyelusup ke seluruh ruang sanubari. Menanti hujan kembali datang membawa takdir lain yang kan kusambut dengan ceria dan sepenuh keyakinan di jiwa.
Dalam kepasrahan yang kini mulai terebahkan, kuingin menikmati bahagia yang ternyata cukup lama terlupakan. Menyentuh kembali rasa optimis yang selama ini kukira tak lebih dari sebuah pembodohan kenyataan hari esok. Mengusir penatku dan menghadirkan kembali hal-hal menyenangkan meski aku belum tahu dalam wujud apa nantinya.
Aku pun kini bahagia, ingin tetap bahagia, dan tak kan kubiarkan lagi ia pergi terlupakan, seperti yang telah lalu. Karena menyadari rasa bahagia itu ternyata sungguh menyenangkan jiwa, menghadirkan simpul-simpul senyum, memudarkan berjuta rajutan kekhawatiran yang selalu dan terus menyelimuti diri.
Rasa itu sangat nyata, begitu menyentuh penuh seluruh sisi hati, mengukir asa baru yang entah mengapa lebih dari sekedar asa, sebuah mimpi akan kebaikan hari esok dalam takdirNya. Dan berjuta bintang pun menjadi saksi bahwa aku kini bahagia, dalam taubat dan syukur, dalam cinta dan harap, dalam kerinduan yang sungguh tak dapat kuukur sedalam apakah kini.
Namun... tunggu!. Rasa apakah itu gerangan? Kenapa ada yang bersorak di sisi yang lain? Turut serta bahagia karena rasa bahagia yang kini mampu kurasakan. Aha… sebuah kenyataan tentang bahagianku karena bisa merasa bahagia. Subhanallah… indahnya rasa-rasa bahagia ini menempati setiap jengkal waktuku kini dan esok, insya Allah.
Aku memang bahagia, benar-benar bahagia.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.