Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://rifafarida.kotasantri.com
Bergabung
11 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - Jakarta
Pekerjaan
CEO Nasywa Cafe
I'm Muslimah and Very Happy ^_^
http://rifarida.multiply.com
rifatulfarida@ymail.com
rifatulfarida@ymail.com
rifatulfarida@ymail.com
Tulisan Rifatul Lainnya
Sambut Ramadhan
14 Agustus 2009 pukul 20:00 WIB
Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslimah!
13 Agustus 2009 pukul 19:21 WIB
Perpaduan Rasa Ilahiyah
7 Agustus 2009 pukul 17:07 WIB
Aku, yang Kini Tertohok Rasa
27 Juli 2009 pukul 17:46 WIB
Pelangi
Pelangi » Bingkai

Senin, 17 Agustus 2009 pukul 18:00 WIB

Meraba Ketulusan, Adakah Bagian yang Hilang?

Penulis : Rifatul Farida

Meraba ketulusan, masih utuhkah? Atau ada bagian yang hilang? Ketika tiba-tiba rasa yang tak biasanya menyeruak dari tempat terdalam sanubari, menyentil kepekaan jiwa seiring jatuhnya kesadaran. Sempat terpikir, mungkin hanya imajinasi rasa yang ingin sejenak bermain-main di tengah rutinitas yang kadang memahat kreativitas. Namun semakin diselami, semakin dalam menenggelamkan pengembaraan pikiran.

Ada hati yang menggugat lantang, mendapati kamuflase dari sisi diri yang sering dianggap baik dan menyenangkan. Sudahlah kawan, simpan saja kata-kata itu, tolong simpan saja kata; “Jangan berkata begitu.”, “Kamu luar biasa.”, “Kata-katamu dalam sekali.”, “Kamu memang smart.”, “Bla bla bla...”, karena itu adalah kebohongan sisi diri yang lain.

Saat ini, aku tak membutuhkan pujian-pujianmu dan memang sesungguhnya tak pernah. Karena hanya akan menciptakan jarak yang tak seharusnya ada. Hanya membuatku kembali dan kembali meraba ketulusan untuk segala gerak yang terlakukan. Untuk segala amal yang diniatkan sebuah kebaikan.

Jangan tertipu dengan baikku, karena jelas ada sisi buruk yang mungkin kau belum mengenalnya. Jangan kagumi dengan apa yang kau lihat, karena bisa jadi kau akan muntah jika mengetahui yang tersembunyi.

Haruskah kukatakan padamu aib-aib diri ini, sementara Allah yang Maha Penyayang telah menutupinya? Ia menjadikannya sebagai pelucut diri agar selalu lebih baik dan baik lagi. Bukankah setiap kita telah ditakdirkan memiliki kelebihan dan kekurangan, kebaikan dan keburukan?

Kawan, ingatkan aku! Jangan puji aku! Karena pujianmu membuatku tak menginginkan apa pun lagi, membuatku seperti ingin meloncat untuk jatuh, atau mematahkan sayap untuk terbang, membuatku menginginkan lilin di benderang duniaku, membuatku meraba ketulusan berulang kali untuk sekedar memastikan tak ada bagian yang hilang.

Kawan, jangan membuatku muak dengan segala hal yang kini ada. Maafkan aku, karena kali ini aku tak hanya menyalahkan diriku sendiri, tapi juga turut serta menyalahkanmu.

***

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah SWT.

http://rifarida.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ibu Hafif | Ibu RT
Webnya www.kotasantri.com bagus euy.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1051 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels