|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Jum'at, 7 Agustus 2009 pukul 17:07 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Merunut jatah usia ini dalam bilangan waktu, sebuah kesadaran hadir bahwa ada masa dimana saatnya harus menjadi sosok diri ideal, dewasa, dan bijak dalam perpaduan kemusliman yang mengakar ke lahan sanubari, dalam capaian stabilitas mental dan pikiran.
Merenungi perjalanan hati ini, ada kalanya dipenuhi gelora rasa cinta, haru, dan indah. Namun tak jarang menggelora rasa hampa, pilu, dan sakit. Kala melebur dalam keimanan yang mewujud, maka sungguh sangat luar biasa refleksi ketakwaan itu. Menciptakan kuncup-kuncup syukur dan sabar. Dan mekarlah kini pada kelopak waktu bertangkai kepasrahan.
Keyakinan ini, keimanan ini, kesyukuran ini, berproses dalam episode yang menggilir semangat dan futur, harap dan kecewa, tawa dan air mata. Kini, membingkai indah sketsa jiwa dalam perpaduan warna-warni garis kehidupan.
Di relung hati ini, ada cahaya Ilahiyah. Memancar sempurna dalam gelap nafsu yang coba menjerumuskan. Ada kesungguhan tekad, untuk tidak hanya sekedar menapak pada jalan yang lurus, tapi juga berjalan sebaik mungkin. Ada kecintaan untukNya dan karenaNya. Ada kepasrahan yang menyembul dari pucuk-pucuk ikhtiar. Ada dzikir dan istighfar mengiring husnudzan. Ada penghambaan sepenuh ketulusan di jiwa.
Wahai Pemilik Jiwa dan Raga ini,
Wahai Pemilik Alam Raya,
Wahai yang Maha Pengatur dan Berkehendak,
sesungguhnya RahmatMu meliputi segalanya,
paripurnakan hidup ini dalam khusnul khatimah.
Aamiin...
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.