Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Seorang sahabat pernah bercerita, dalam satu kesempatan mudik lebaran beberapa tahun lalu, dia 'tertidur' saat mengendarai motor. Ia baru sadar - dan tentu saja terkejut - ketika suara klakson mobil di lampu merah simpang lima Semarang terdengar nyaring tepat di belakangnya. Entah berapa kilometer jalan yang ia lalui dalam kondisi tak sadar seperti ini. Kelelahan fisik jelas menjadi penyebabnya. Dan di sinilah barangkali 'indera keenam'nya memainkan peran. Hal yang sama, banyaknya beban pikiran terkadang membuat kita tidak konsentrasi, termasuk saat berkendara di jalan raya.
Bagaimana halnya jika dalam sholat, 'indera keenam' kita yang berperan. Bacaan sholat, gerakan rukuk, sujud dan sebagainya bukan kita kerjakan dengan penuh kesadaran dan pemahaman, tapi karena sebuah kebiasaan. Saat takbiratul ikhram kita masih sadar, tapi tiba-tiba baru tersadar kembali setelah salam. Bukan saja saat sholat berjamaah, tapi saat sholat sendiripun ini bisa terjadi. Bahkan - astaghfirulloh - saya pernah mengalami ( setidaknya ada beberapa hal yang saya lakukan tanpa 'kesadaran' ) hingga harus mengulang sholat kembali. Setahu saya, khusyuk itu bukan berarti lupa segalanya, tapi justru sadar dan mengerti apa yang dibaca dan dilakukannya. Bagaimana pendapat anda?
Mujahid Alamaya
Saya juga pernah mengalami hal yang sama, apalagi dalam kondisi mengantuk.
29 Juni 2011 pukul 22:14 WIB
Sugarda Setiabudi
Sholat itu ibadah yang dilakukan harus dengan kesadaran penuh… itu syarat syahnya sholat…
Mengenai masalah khusyuk… khusyuk = nikmat, kalau kita bisa merasakan nikmatnya sholat (bermesraan dengan Allah) InsyaAllah kita mulai mendekati khusyuk…