|
QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Perjalanan menuju perpustakaan dengan mengendarai bis kota dapat ditempuh dalam 20 menit, tapi pikirannya membuatnya terasa perjalanan itu begitu cepat, dalam benaknya bertikai mengenai pemikiran bahwa yang berbeda harus tiada atau ditiadakan. Pikiran itu tidak datang tiba-tiba, ia berakar pada beberapa berita dan permasalahan yang banyak dilihat di negeri sendiri, tegasnya pada dirinya sendiri, tidak ada teman dialog, orang yang duduk disamping kursinya, sibuk dengan smart phonenya.
Tapi benarkah yang berbeda harus tiada ? hah, karena ia berbeda jenis kelamin maka ia harus ditiadakan, ia terlahir sebagai wanita maka ia harus dikubur hidup-hidup dengan alasan perbedaan dan bahkan ia akan membawa aib, ini jahiliyah, jahiliyah. Ia menjawab pertanyaan pikirannya sendiri.
Saat bis kota berhenti di halte depan perpustakaan, pikirannya masih tertuju pada jawaban atas pertanyaan sendiri, sebelum ia turun ia sempat berterima kasih pada Pak Supir, terima kasih Pak, sama-sama mas. Pintu bis tertutup dan mulailah ia bergerak perlahan mengantar penumpang pada setiap halte yang ditujunya.
Suasana perpustakaan yang sejuk, tenang dan nyaman membantunya lebih berpikir jernih, tapi sebelum ia sempat melihat catalog ia keduanya matanya tertuju pada iklan lowongan kerja ditempel di mading (majalah dinding) disamping mushalla perpustakaan. Aku harus mencari rujukan lebih banyak mengenai : yang berbeda harus tiada atau ditiadakan, tekadnya keras.
Apakah karena perbedaan, mereka yang mengakui berasal dari satu aliran datang mengunjungi kantor aliran lain dengan membawa parang, pentungan dan perlengkapan untuk melukai bahkan meniadakan lawannya ? pernah terbayangkan olehnya bahwa : “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Pikiran itu terus bergolak, tanya jawab itu tidak pernah henti bergelayut di benaknya.
Lalu kalau memang demikian, bagaimana seseorang bisa tahu bahwa ia berdosa, bila belum pernah terlihat dan terbaca olehnya arti dan pengertian sebuah kebenaran ! tentu, bagaimana dapat membedakan gelap malam, bila terang siang tidak pernah ada !
Bosan dengan pertanyaan-pertanyaan itu, akhirnya ia keluar dari perpustakaan dan memutuskan untuk jalan-jalan santai di taman luas yang berdampingan pagar dengan pagar perpustakaan, dan sambil bergumam : “Perbedaan ummatku adalah rahmat” (Hadits maudhu’ dan batil).
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---