|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Lumut yang nempel di pagar halaman rumah terlihat basah, tampaknya embun pagi belum mengering saat sinar matahari menembus rimbunan pepohonan, beberapa capung mulai beterbangan di atas pohon rambutan yang tertanam lurus dengan pojokan pagar. Anak-anak sekolah mulai berangkat melintasi jalanan yang teraspal tipis, ada keceriaan saat tawa mereka lepas menggema, sebuah tawa kemerdekaan. Di Sabtu pagi ini, masih ada semangat yang tersisa, seorang ibu menggoes sepeda ontelnya mengantar putri kesayangannya ke PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).
Ada pasangan suami isteri duduk di teras rumah sambil meminum teh, kursi bamboo hasil karya sang suami telah lama menemani perjalanan sejarah keduanya, sambil mencium cucunya yang sudah siap dengan sepatu putih yang baru dibelikannya sebulan yang lalu. Cucuku, tegurnya.. Jangan lupa untuk membaca doa, cucunya langsung membaca cepat doa yang telah lama dihapalkan di PAUD.
Suara gilingan padi bergerak mulai dihidupkan mesinnya, suara bisingnya mengusing ketentraman kampong, setelah melepas cucunya berangkat sekolah, kakek itu lansung bergegas mengganti pakaiannya lalu mengeluarkan kambing-kambing peliharaannya, barisan kambing yang berjalan di depan pemiliknya terasa menambah keaslian penghasilan penduduk kampong, sabar anakku : pemilik kambing itu berkata pada anaknya, setiap hari anaknya merengek agar dibelikan motor seperti teman sebayanya.
Anak itu baru naik kelas ke kelas 2 SMA, ia memang rajin setiap hari membantu mengembalakan kambing milik bapaknya, Pak Sukirman selalu mengajarkan anaknya : belilah keserhanaan anakku, bapak belum mampu membelikan motor impianmu, karena bapak juga tidak mau menjual sepetak tanah untuk kepentingan sementaramu, dari sepetak tanah itu kita mengais rezeki, embekan kambing tidak melunturkan Pak Sukirman untuk selalu menasehati anaknya.
Anggukan anak itu membuat Pak Sukirman puas, ia takut bila anaknya memaksa, subhanallah ungkapnya dalam.
Lalu lalang motor hasil dari menjual sepetak sawah atau hasil dari bekerja di luar negeri semakin banyak memenuhi kampong dan debu pun beterbangan
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---