HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Alamat Akun
http://latief.kotasantri.com
Bergabung
13 Oktober 2011 pukul 09:23 WIB
Domisili
Al Ain - Al Ain
Pekerjaan
Pegawai
latape2003@gmail.com
latape2003
la_tape2003
latape2003
latape2003@gmail.com
http://twitter.com/latape2003
Catatan Abdul Lainnya
Yang berbeda harus tiada atau ditiadakan
14 Juni 2013 pukul 23:30 WIB
Tawa dan sedihnya dibayar.
14 Juni 2013 pukul 23:29 WIB
Semua fakir
14 Juni 2013 pukul 23:27 WIB
Membel kesederhanaan
14 Juni 2013 pukul 23:26 WIB
Ini bukan salahmu
14 Juni 2013 pukul 23:23 WIB
Catatan
Jum'at, 14 Juni 2013 pukul 23:24 WIB
Penampilan

Oleh Abdul Latief Sukyan



Ibu tua itu hidup sendirian, ia biasa dipanggil Bu Tempal, dari rumahnya yang tidak jauh dari sungai yang membelah kampung, selalu terdengar suara anak-anak memancing, apalagi saat libur sekolah, seperti hari minggu. Anak bungsunya bekerja sebagai pelaut (berlayar), biaya hidupnya digantungkan pada anaknya yang tidak pernah lupa untuk memberikan kiriman bulanan untuk keperluan ibunya, bahkan sering kali anaknya mengirim lebih agar dapat menyumbang kegiatan social keagamaan kampung, seperti maulid Nabi, isra' mi'raj dan kegiatan social lainnya.
Rumah yang dihuni Bu Tempel adalah rumah warisan turun temurun dari suaminya yang meninggal berapa tahun lalu, tapi ia tidak pernah kesepian, disebabkan suasana kampung yang guyub, para tetangga selalu menjenguk kondisi keseharian ibu tersebut, termasuk Pak Haji Saman.
Suatu hari, anaknya yang dikenal dengan sapaan Daman mengirim surat, Bu Tempal yang tidak pernah mengenyam pendidikan merasa bingung, bagaimana saya bisa membaca surat ini anakku ? sambil melamun memandang bintang gemintang.
Terpikir olehnya untuk meminta tolong pada Pak Haji Saman, pak haji ini memang cukup unik, sejak kepulangannya dari tanah suci ia tidak pernah meninggalkan sorbannya, kemanapun ia pergi ia selalu mengenakan sorban merah kesayangannya. Tekad bu Tempal untuk meminta tolong padanya semakin kuat, ia hanya ingin mengetahui isi surat anaknya.
Sambil mengucapkan salam setibanya di depan langgar Pak Haji, bu Tempal langsung mengutarakan maksud kedatangannya, istri Pak Haji Saman yang ada disebelah langgar sambil menumbuk kopi, merasa kebingungan, karena ia mengerti bahwa suaminya memang tidak bisa baca bahasa Indonesia.
Dengan nada rendah Pak Haji meminta maaf, karena ia tidak bisa membantu membacakan isi surat dari anaknya bu Tempal. Lalu tanpa disadari bu Tempal berkomentar : ah masa Pak Haji dengan sorban kebesarannya yang selalu pak haji kenakan tidak bisa baca surat ini Pak ? dengan sigap pak haji menjawab : ini sorbanku, bawalah ia siapa tahu sorbanku dapat membantumu membacakan isi surat tersebut.

Dialog itu membuat isteri Pak Haji tercengang dan berhenti menumbuk kopi, lalu bu Tempal pergi tanpa permisi dengan membawa kekesalan pada penampilan pak Haji.

Bagikan

--- 0 Komentar ---

Vitra | Exim Staff
Sangat hebatzzz, KSC!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0532 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels