|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Dikisahkan ada tiga orang yang sedang menempuh perjalanan, di pertengahan perjalanan mereka menemukan harta, kemudian mereka sepakat untuk membagi rata harta tersebut, sebelum pembagian harta selesai, perut mereka menuntut untuk segera diisi makanan, sehingga salah satu dari mereka berangkat ke perkotaan untuk membeli makanan untuk mereka, keduanya mengingatkan agar tidak menceritakan penemuan harta tersebut kepada siapa pun, agar tidak ada orang yang iri. Lalu beranjaklah seorang dari mereka untuk membeli makanan, tapi dalam benaknya terpikir untuk menghabisi nyawa kedua temannya, agar ia dapat menguasai semua harta temuannya, secara diam-diam ia membeli racun yang kemudian ditaburkan ke makanan yang telah dibelinya.
Pada waktu yang sama kedua temannya yang sedang menunggu, mempunyai rencana untuk membunuhnya sekembalinya dari kota, sehingga dua orang tersebut yang akan menikmati pembagian harta tersebut. Lelaki tadi kembali dengan membawa makanan yang telah dibumbui racun pembunuh, tapi kedua temannya sebelum menikmati makanan mampu menghabisi nyawa temannya, kemudian dengan lahapnya kedua temannya yang masih hidup duduk menikmati makanan yang ada dihadapannya, tapi keduanya merasa sakit perut lalu meninggal pengaruh racun di makanan tersebut.
Dahulu kisah seperti ini sering menjadi dogeng pengantar tidur, tanpa sadar ternyata ada moral yang ingin disampaikan oleh orang tua kita, bahwa ketamakan akan memakan harga diri, harta dan nyawa sekalipun.
Untuk menghindari ketamakan maka ada satu kata dalam kamus keislaman yang disebut qana’ah, ia adalah kerelaan terhadap pemberian Allah, As Syafii dalam sebuah syair indahnya menyatakan ;
Aku melihat bahwa qana’ah inti kekayaan, sehingga aku terus berpegang pada tali temalinya
Nabi Saw telah mengarahkan ummatnya untuk berusaha menghiasi jiwanya dengan sifat ini, hal ini dapat terlihat dalam salah satu sabda-nya ; “Relalah dengan pembagian Allah padamu, maka kamu akan menjadi manusia terkaya”. Termasuk dalam doa yang selalu dipanjatkan oleh Nabi Saw adalah permohonan qanaah ; Ya allah berilah kepuasan (qanaah) dengan pemberian rezeki-Mu padaku, berkahilah dan berilah setiap yang tidak ada padaku sebuah kebaikan”.
Dengan demikian setiap orang yang merasa puas dengan pemberian Allah, maka akan datang ketentraman jiwa, sehingga ia tidak lagi iri dengan milik orang lain, yang pada akhirnya ia akan dicintai Allah dan dicintai manusia. Perlu disebutkan pula bahwa derajat syukur tidak akan tergapai kecuali oleh pemilik sifat qanaah ini, suatu hari Abu Hurairah dinasehati oleh Nabi Saw ; Wahai Abu Hurairah, bila kau menjadi wara’ maka kau akan menjadi manusia yang paling banyak ibadahnya, dan bila kau memiliki sifat qanaah maka kau akan menjadi manusia yang paling bersyukur”.
Dan seiring dengan perkembangan zaman dan kegelamorannya mengintai setiap rumah kita melalu jaringan media massa, maka untuk tergoda adalah hal yang wajar, tapi tidaklah wajar bila kita terjerumus pada lubang yang jelas menganga dihadapan mata, sungguh indah bila kisah diatas terus dikisahkan pada anak-anak kita, agar dunia hanya terselip di kantong kita bukan dalam kisi hati kita.
Selamat berkisah dengan versimu tentu
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---