|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Ungkapan ini selalu kita dengar dan sering diucapkan oleh lidah kita, setiap kali kita ingin lari dari tanggung jawab kita, dan betapa banyak orang yang mengucapkan ungkapan ini, baik yang sedang sibuk atau yang sedang santai, kita hampir tidak punya waktu untuk melakukan olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh kita, kita tidak punya waktu mengawasi anak kita, tidak punya waktu untuk mengunjungi kerabat kita, tidak punya waktu untuk membaca dan menutrisi spiritual kita, kita tidak punya waktu untuk melakukan shalat jamaah di masjid yang bersebelahan dengan rumah kita, tidak punya waktu untuk mengembangkan kemahiran kita, tidak punya waktu membaca ayat-ayat Quran agar jiwa kita menjadi bersih dan tidak punya waktu untuk melakukan hobby kita yang dapat meningkatkan semangat dan menggali bakat kita.
Waktu kita dipress dan jiwa kita disibukkan, terkadang waktu itu diisi penuh oleh kejenuhan, sedangkan kekosongan semakin menambah beban kita, apakah ini sebuah symbol ketidak berdayaan, atau merupakan makar dan tipu daya manusia ketika hendak membolak-balikkan kenyataan agar manusia lainnya tertipu ? waktu kerja terasa panjang, sementara waktu berjalan begitu cepat, semakin hari jarak semakin membentang, tuntutan hidup semakin meningkat, permintaan anak semakin banyak, silaturrahim menjadi semakin sulit diterapkan, lalu apa yang terjadi ? singkat kata, bahwa film ini dimulai dari gelap dan semakin pekat, tidak ada istilah dalam kamus kita yang namanya menggunakan waktu. Waktu yang tersisa hanya pantas untuk duduk manis dihadapan tv, sambil menikmati sinetron kesayangan kita, begitu juga untuk mengunjungi situs-situs net kebanggan kita, dan begitu selanjutnya kita disibukkan oleh whatsupp, BB dan beragam messenger lainnya.
Sementara coffee shop dan cuci mata di mall-mall menjadi kesibukan saat jam kerja kita, saat sekolah kita, saat menikmati kebersamaan dengan keluarga yang sekarang menjadi model.
Seorang pengamat menyebutkan ; bahwa memanage waktu merupakan seni keseimbangan antara menunaikan tugas dan melakukan kesenangan yang dapat mewujudkan tujuan kita, lalu apa sebenarnya inti keseimbangan tersebut ? bila semakin hari waktu kita semakin boros terbuang sia-sia
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---