|
HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Penduduk pantai biasanya jarang menikmati keindahan pantai, penduduk lereng gunung biasanya jarang mendaki gunung, tidak mengetahui lembah, jurang atau hamparan bumi yang memamerkan keindahannya, begitu juga penduduk padang sahara, mereka jarang berenang menjelajahi bebukitan pasir.
Setiap yang terbiasa kita lihat biasanya tidak tampak jelas dalam penglihatan kita, bagi yang sering mencium aroma got yang mengalir lamban dihadapan rumah kita biasa kita imun dengan penciuman tersebut, kata imun ini jadi teringat pada Emha Ainun Nadjib yang sering menggunakan istilah ini.
Perpindahan, safari atau melancong dari tempat ke tempat lain, dari nuansa ke nuansa lain, dari aroma ke aroma lain, dari rasa ke rasa lain dan seterusnya, membuat penglihatan seorang musafir atau pelancong berubah menjadi mata elang, setiap pemandangan yang ada dihadapannya hendak dilahap oleh kamera canggih yang ada digenggamannya, padahal matahari sore yang dibidik cameranya adalah matahari yang ada dikampungnya, tapi kali ini dalam suasana berbeda, suasana padang pasir.
Dalam pelancongan, kita akan mengungkap diri kita yang baru dari kaca mata keindahan, bukan dari kaca mata kejenuhan dan kerutinan. Ada dunia baru yang muncul dari dalam jiwa saat berhadapan dengan aroma, nuasa, alam dan pengalaman baru yang dihadapinya.
Dalam pelancongan, kita mendapati raga, jiwa, akal, hati dan nurani kita dalam cermin yang lebih besar, cermin alam yang luas dan cermin yang memantul dari adat, kebiasan dan budaya orang lain.
Dalam pelancongan rasa baru ditemukan, sebuah rasa yang diramu dari rempah-rempah alami, dalam pelancongan didapati alam baru, sebuah nuansa alam yang jauh berbeda dengan alam tumpah darah kita, dalam pelancongan ditemukan ritme music baru, sebuah music yang digubah dari semangat alam sekitarnya, dalam pelancongan didapati bahasa baru, sebuah bahasa yang dilahirkan dari rahim ibu dalam perjuangan panjang untuk menjamin keberlangsungan generasinya, dalam pelancongan didapati pohon baru, sebuah pohon yang berbuah kelezatan pemberian Tuhan, dalam pelancongan diseberangi sungai baru, sungai yang aliran airnya jernih mengairi hutan-hutan yang tidak berpenghuni, dalam pelancongan banyak yang didapat.
Kita belajar kerinduan dalam pelancongan, rindu ibu, anak dan rindu negeri.
Kita belajar kesabaran dalam pelancongan, sabar untuk membawa kembali keberhasilan dan kesuksesan yang tidak pernah direguk dikampung halaman kita.
Kita belajar mengingat dalam pelancongan, mengingat masa lalu yang terbuang dalam kesia-siaan.
Kedua mata ini terus menatapi perjalanan panjang pelancongan, menengadah menghadap gunung, memandang lurus menghadap sungai dan memandang sekitar melihat suasana.
Tulisan ini terinspirasi oleh kedatangan seorang teman ke rumah kita yang sama-sama menjadi TKI, tetapi ia gelisah, ia tidak sabar, ia ingin merubah tapi yang ia lakukan hanya diam, ia ingin membangun peradaban tapi ia tidak belajar, ia bercita-cita menjadi seorang professor tapi itu hanya angan-angan, ia mau menjadi pebisnis tapi ia tidak punya modal dan tidak punya kesungguhan, ia ingin pindah kerja ke tempat yang lebih baik, tapi itu hanya dalam doa katanya sambil mata menerawang.
Benak kita teringat pada ungkapan bijak As Syafii :
Melanconglah, akan Anda dapati pengganti orang yang ditinggalkan
Dan bekerjalah dengan giat, karena sesungguhnya kenikmatan hidup hanya didapat setelah kelelahan.
Syair diatas bukan sebagai penutup tapi sebagai penyemangat untuk kembali merebut yang belum pernah kita impikan.
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---