|
Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Udara terasa hangat walaupun matahari sudah siap berangkat ke peraduannya, burung-burung masih setia berkicau sebagai nyanyian pengantar matahari, dari pohon kurma berpindah ke pohon kurma lainnya, sementara orang-orang yang menunggu di halte bus terus mengucurkan keringatnya, saat adzan berkumandang sebagian mereka bergegas menuju masjid untuk menunaikan shalat maghrib, suasana damai dan sejuk AC mampu menghapus peluh dan penat seharian kerja.
Teman saya yang bergegas keluar dari rumahnya yang bersebelahan dengan masjid, ia hampir saja lupa mengunci pintu rumahnya karena lamat-lamat terdengar suara iqamah, agar ia tidak ketinggalan satu rakaat maka jalannya semakin dipercepat, para jamaah yang berdiri rapi sesuai dengan shaf-shafnya masing, dengan khusu' dan khidmat mengikuti bacaan suara imam yang sangat fasih dan indah.
Sambil membaca doa masuk masjid setelah bershalawat kepada Nabi Saw, langsung saja teman saya bergabung dengan jamaah yang sudah berlangsung beberapa menit yang lalu, selesai shalat ia kembali ke rumahnya dan dengan tidak sabar ia segera menghubungi saya dan dengan sambil tertawa geli ia bercerita.
Saya biasa memanggilnya Abu Farha, suaranya yang lantang bercerita lancar mengenai kejadian tadi saat ia melaksanakan shalat maghrib jamaah di masjid sebelah rumahnya, ungkapnya :
Tadi saat imam sedang membacakan ayat Quran, tiba-tiba mobile seorang ma'mum bordering dan terdengar bacaan ayat Quran yang sama dengan bacaan imam, sehingga sang imam terdiam sejenak sebelum akhirnya pemilik mobile mampu menguasai tombol mobilenya, setelah itu shalat berlanjut hingga akhir, ungkap teman saya sambil menghela nafas.
Setelah shalat ditunaikan dengan selamat walaupun ada sedikit gangguan kekhusu'an yang berbentuk dering mobile, seketika itu para jamaah menoleh pada pemilik mobile dan semuanya berfatwa bahwa ; matikan mobile sebelum shalat seperti yang tertulis di setiap pintu masjid, jangan gunakan nada dering ayat-ayat Quran ditakutkan saat didalam toilet mobile itu berdering, ada pula jamaah yang melerai dan mencoba menenangkan agar tidak terjadi keributan setelah shalat dan alangkah baiknya digunakan untuk berdzikir kepada Allah, begitu cerita lengkapnya sambil menyudahi percakapan via mobil dengan ucapan salam.
Suasana kembali sunyi karena masing-masing jamaah disibukkan dengan shalat sunnah, dan gelap malam terus turun melawan gemerlap lampu kota, masih ada sisa senyum bergelayut di bibirnya, itulah yang terbayang oleh saya dari ceritanya yang terkadang benar nyata.
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---