|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Bekerja dengan kepribadian
Di pinggiran jalan di Jakarta, disamping toko-toko besar terdapat beberapa grobak kecil yang memberikan layanan service jam, yang menarik bila diperhatikan ada sebagian dari tukang jam tersebut seorang yang cacat, hanya dengan satu tangannya ia mampu dan telaten membenahi jam-jam pelanggan yang masuk ke grobak kecilnya, baik hanya sekedar untuk mengganti battery jam, penggantian kaca dan perlengkapan jam lainnya, dengan bantuan kemampuan yang ada pada dirinya dan satu tangannya, karena ia kehilangan satu tangannya disebabkan kecelakaan saat ia menumpangi kereta api dan terjatuh, tapi ia tidak menampakkan kekurangan dan kelemahannya, walaupun ia kehilangan tangannya tapi ia tidak kehilangan kepribadiannya, sehingga ia tetap bekerja diatas trotoar didepan toko dengan kelemahan dan setengah kemampuan badannya.
Ia sangat ceketan dan cepat dalam menunaikan pekerjaannya, tekun dalam setiap pekerjaan yang ada dihadapannya, seorang sepertinya yang dengan satu tangan ia mampu membenahi jam baik besar dan kecil, dalam dirinya ada kepribadiaan yang mampu mengalahkan kekurangan dan kelemahannya atau ia memang mempunyai kekuatan yang mampu mengalahkan kelemahannya, kekuatan zaman yang dilambangkan dengan jam, jam yang telah rusah yang diusahan untuk dibenahi kembali oleh orang lemah sepertinya agar kembali hidup dan agar kembali bermanfaat bagi pemiliknya, ia mencoba mengembalikan jarum-jarum jam itu bergerak berputar kembali mengikuti arus matahari, rembulan, angin, bintang dan semua yang menunjukkan waktu, masa bahkan kehidupan. Sementara kehidupannya sendiri tidak berputar, ia tetap duduk diatas kursi tuanya diatas trotoar sejak dulu hingga seumur anaknya yang sudah duduk dibangku kelas dua SMA, tapi ia mampu menggerakkan jarum jam, menggerakkannya agar bergerak berputar kembali, inilah kehidupan yang dijalaninya.
Kondisi seperti ini pernah kita lihat di kota-kota besar terutama, seseorang yang bekerja dengan setangah badannya, bahkan pernah saya menyaksikan sebuah tayangan televisi, yang menayangkan seorang pemuda Afghanistan yang cacat seluruh tubuhnya karena terkena dan menjadi korban kekerasan peperangan, tetapi dengan tangan dan kakinya yang tersisa ia terus menulis, membaca dan melaksanakan semua tugas kehidupannya tanpa pernah berputus asa dan merasa bahwa dunia ini telah berakhir. Ia tetap merasa ada pengharapan kehidupan, ada cita-cita dan ada masa depan, selama hayat dikandung badan maka ia harus dihargai dan dihormati, dan ia harus tetap berputar mengikuti ritme kehidupan yang telah ditentukan walaupun yang tersisa hanya setengah badan.
Banyak pelukis besar yang hanya melukis dengan giginya, banyak para pemusik memainkan alat-alat music dengan lengannya, bahkan hasil karya-karya mereka masih tetap agung dan hidup hingga kini.
Manusia dapat membangun peradaban dan kota dengan setengah tangannya, dengan setengah hatinya ia dapat merindu, dengan setengah matanya ia dapat melihat dan mencerna dan dengan setengah negaranya ia masih tetap dapat hidup dan dengan setengah kematian ia tetap dapat melanjutkan kehidupan.
Tengoklah di sekitarmu, trotoar pasar Jatinegara ! dan kereta itu berlalu meninggalkan bising bersama gerakan waktu…
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---