|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Anakku
Berbicara mengenai anak berarti membicarakan dunia, membincangkan kebahagiaan, kebanggaan dan semua harta yang paling berharga bagi manusia. Merencanakan masa depan mereka adalah menjadi santapan setiap hari keluarga, ingin mewujudkan cita-cita yang terbengkalai yang belum sempat terpenuhi oleh kedua orang tuanya, sekarang menjadi tugas anak-anak untuk menyempurnakannya, tapi…
Bukankah ini merupakan pembebanan yang bukan pada tempatnya ? ketidak adilan ?
Karena belum tentu bakat, kesenangan, cita-cita dan pengharapannya bukan seperti bakat, kesenangan dan cita-cita kedua orang tua mereka.
Di suatu sore, setelah mencari informasi kesana kemari, melalui tv, koran dan informasi dari beberapa teman, akhirnya kami menemukan sebuah tempat yang mengajarkan anak-anak mengaji dan mempelajari agamanya. Dan tepatnya jam 15.25 kami berangkat mengantarkan anak kami ke tempat tersebut, setibanya disana kami menunaikan shalat jamaah ashar terlebih dahulu yang selanjutnya kami menyerahkan anak kami kepada petugas yang ada disana, tempat ini memang masih dalam lingkungan masjid, lalu kami keluar dan kembali kerumah untuk menjemputnya kembali pada 17.25.
Setelah kelas mengaji selesai, anakku keluar dari ruang belajar mengajar dengan membawa bukunya sambil tersenyum, aku menghampirinya dan bertanya : apa khabarmu nak ? ia hanya terus tersenyum dan sambil memandangi teman-teman barunya yang juga dijemput oleh orang tua mereka, lalu aku bertanya kembali : apa yang kamu pelajari tadi didalam nak ? ia hanya tersenyum dan menjawab ; aku hanya duduk saja. Jadi anakku tidak belajar sama sekali ? tanyaku penasaran, aku masih kecil, aku belum boleh belajar abiku, aku masih kecil, sambil menampakkan raut kecewa dan sedih di wajahnya.
Aku hanya termenung, anakku kecewa, kecewa karena ia dianggap masih kecil, kecewa karena ia baru saja bertemu dengan teman-teman barunya dan harus berpisah kembali, sedih karena buku baru yang telah aku belikan sia-sia, ia ingin melukis langit tapi tanpa bintang, ia ingin menggambar sungai tapi tanpa air mengalir, ia ingin bermain bersama tapi tanpa teman.
Anakku memang masih kecil baru menginjak di tahun kelima, tapi ia sudah berani, berani menulis, berani bernyanyi, berani bercerita, berani sekolah KG dan berani bergaul dengan siapa saja walaupun bahasanya tidak dipahami.
Pernah aku melontarkan usulan pada isteriku tersayang : bagaimana kalau anak kita dimasukkan universitas dulu, lalu SMA, SMP, SD dan kemudian TK (KG) ?
Hah ini usulan gila, ungkap isteriku sambil berlalu ke dapur istana kebanggaannya, dengar penjelasanku sambil membuntutinya : disini semua serba tidak dimengerti, coba bayangkan : bahasa yang ada di masyarakat adalah bahasa Arab pasar (dialek), bahasa disekolah-sekolah swasta kebanyakan bahasa inggris, bahasa sebagian anak-anak adalah bahasa Urdu (mayoritas pendatang di UAE), sedangkan kami berbahasa Indonesia. Bingung !
Jadi teringat sebuah pesan singkat Gus Dur (almarhum) : sengaja sering berkomentar membingungkan agar masyarakat NU mau belajar, jawabnya ketika ditanya oleh seorang peserta seminar di kantor PBNU. Semoga berangkat dari kebingungan ini, kami menjadi lebih mau belajar.
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---