HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
Alamat Akun
http://latief.kotasantri.com
Bergabung
13 Oktober 2011 pukul 09:23 WIB
Domisili
Al Ain - Al Ain
Pekerjaan
Pegawai
latape2003@gmail.com
latape2003
la_tape2003
latape2003
latape2003@gmail.com
http://twitter.com/latape2003
Catatan Abdul Lainnya
Bekerja dengan kepribadian
10 Maret 2012 pukul 20:08 WIB
Renungkan
16 Januari 2012 pukul 18:48 WIB
Dulu di kampung kami
8 Januari 2012 pukul 19:20 WIB
Ibuku adalah bumi
5 Januari 2012 pukul 19:42 WIB
Rumah kerajaan anak
4 Januari 2012 pukul 15:19 WIB
Catatan
Sabtu, 10 Maret 2012 pukul 20:03 WIB
Anakku

Oleh Abdul Latief Sukyan

Anakku

Berbicara mengenai anak berarti membicarakan dunia, membincangkan kebahagiaan, kebanggaan dan semua harta yang paling berharga bagi manusia. Merencanakan masa depan mereka adalah menjadi santapan setiap hari keluarga, ingin mewujudkan cita-cita yang terbengkalai yang belum sempat terpenuhi oleh kedua orang tuanya, sekarang menjadi tugas anak-anak untuk menyempurnakannya, tapi…
Bukankah ini merupakan pembebanan yang bukan pada tempatnya ? ketidak adilan ?
Karena belum tentu bakat, kesenangan, cita-cita dan pengharapannya bukan seperti bakat, kesenangan dan cita-cita kedua orang tua mereka.

Di suatu sore, setelah mencari informasi kesana kemari, melalui tv, koran dan informasi dari beberapa teman, akhirnya kami menemukan sebuah tempat yang mengajarkan anak-anak mengaji dan mempelajari agamanya. Dan tepatnya jam 15.25 kami berangkat mengantarkan anak kami ke tempat tersebut, setibanya disana kami menunaikan shalat jamaah ashar terlebih dahulu yang selanjutnya kami menyerahkan anak kami kepada petugas yang ada disana, tempat ini memang masih dalam lingkungan masjid, lalu kami keluar dan kembali kerumah untuk menjemputnya kembali pada 17.25.

Setelah kelas mengaji selesai, anakku keluar dari ruang belajar mengajar dengan membawa bukunya sambil tersenyum, aku menghampirinya dan bertanya : apa khabarmu nak ? ia hanya terus tersenyum dan sambil memandangi teman-teman barunya yang juga dijemput oleh orang tua mereka, lalu aku bertanya kembali : apa yang kamu pelajari tadi didalam nak ? ia hanya tersenyum dan menjawab ; aku hanya duduk saja. Jadi anakku tidak belajar sama sekali ? tanyaku penasaran, aku masih kecil, aku belum boleh belajar abiku, aku masih kecil, sambil menampakkan raut kecewa dan sedih di wajahnya.

Aku hanya termenung, anakku kecewa, kecewa karena ia dianggap masih kecil, kecewa karena ia baru saja bertemu dengan teman-teman barunya dan harus berpisah kembali, sedih karena buku baru yang telah aku belikan sia-sia, ia ingin melukis langit tapi tanpa bintang, ia ingin menggambar sungai tapi tanpa air mengalir, ia ingin bermain bersama tapi tanpa teman.

Anakku memang masih kecil baru menginjak di tahun kelima, tapi ia sudah berani, berani menulis, berani bernyanyi, berani bercerita, berani sekolah KG dan berani bergaul dengan siapa saja walaupun bahasanya tidak dipahami.
Pernah aku melontarkan usulan pada isteriku tersayang : bagaimana kalau anak kita dimasukkan universitas dulu, lalu SMA, SMP, SD dan kemudian TK (KG) ?
Hah ini usulan gila, ungkap isteriku sambil berlalu ke dapur istana kebanggaannya, dengar penjelasanku sambil membuntutinya : disini semua serba tidak dimengerti, coba bayangkan : bahasa yang ada di masyarakat adalah bahasa Arab pasar (dialek), bahasa disekolah-sekolah swasta kebanyakan bahasa inggris, bahasa sebagian anak-anak adalah bahasa Urdu (mayoritas pendatang di UAE), sedangkan kami berbahasa Indonesia. Bingung !

Jadi teringat sebuah pesan singkat Gus Dur (almarhum) : sengaja sering berkomentar membingungkan agar masyarakat NU mau belajar, jawabnya ketika ditanya oleh seorang peserta seminar di kantor PBNU. Semoga berangkat dari kebingungan ini, kami menjadi lebih mau belajar.


Bagikan

--- 0 Komentar ---

UmmuRaihanah | IRT, Wiraswasta
Inspiratif, banyak ilmu. Tampilan webnya sudah banyak berubah. Maju terus, tetap istiqomah. ;)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0546 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels