|
HR. Ahmad : "Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Dulu, dikampung kami
Suara kodok yang kegirangan mengiringi malam yang mulai turun menyelimuti bumi, jalan-jalan dan pematang sawah masih basah karena terguyur hujan, kelelawar berterbangan keluar masuk dari daun pisang satu ke daun pisang lainnya, adzan yang berkumandang dari musalla tempat kami mengaji mengajak kami berlari agar tidak terlambat menunaikan shalat jamaah.
Kisah ini kami ceritakan untuk mengingat kembali masa lalu kami, masa lalu adalah sejarah, masa kini adalah kenyataan dan masa depan adalah pengharapan. Ketika musalla sudah mulai penuh sesak dengan barisan rapi anak-anak kampong seperti barisan tentara saat iqomah dikumandangkan, semua menjadi sunyi hanya ada suara indah guru ngaji kami dengan lantunan indah Al Quran dibacakan dengan teratur mengikuti kaedah tajwid yang selalu diajarkan kepada kami.
Setelah salam yang menyudahi shalat dilantunkan, para santri mulai duduk dengan Al Quran mereka masing-masing, guru ngaji dengan senyumnya memulai pengajaran dengan membaca Basmalah yang diikuti semua santri dan selanjutnya para santri maju satu persatu satu kehadapannya untuk belajar langsung kepada sang guru, dan begitu seterusnya sehingga barisan santri semuanya selesai mengaji.
Begitulah kegiatan malam kami dimulai dari setelah maghrib hingga shalat isya', kegiatan mengaji dan belajar dan hanya itu yang kami lakukan, tidak ada tv untuk kami tonton, tidak ada game untuk kami permainkan yang ada hanyalah bermain bersama dengan teman-teman selepas mengaji untuk menghibur diri, setelah itu kami beranjak pulang dan tidur.
Musalla kami berada ditengah-tengah kampong, bersebelahan dengan ladang-ladang kami yang padinya mulai menguning, tapi kami belum berani pulang kerumah kami sendiri setelah mengaji karena kami harus menunggu penerangan dan kawalan orang tua kami, gulap gulita hanya lampu-lampu templek yang menerangi rumah-rumah kami.
Kami sangat menghormati dan menghargai guru kami, dan penduduk kampong sangat menyeganinya, setiap bulannya kami hanya membawa sebotol minyak tanah dan 5 Kg beras sebagai ungkapan terima kasih kami yang terhingga kepada guru ngaji kami. Dan dari minyak tanah dan 5 Kg beras ini kami menjadi pandai mengaji, kami menjadi beradab dan kami menjadi mengerti urusan agama kami.
Setelah bertahun-tahun kami meninggalkan kampong kami mencari nafkah ke luar negeri, kami kembali menjenguk kampong kami, kampong kami yang mulai tampak kemajuan, tiang-tiang listerik berdiri tegak disepanjang jalan beraspal, suara sapi membajak sawah telah tergantikan oleh bising mesin pembajak sawah, suara kaki kuda telah tergantikan klanson mobil, teriakan anak-anak telah tergantikan oleh deringan handphone dan lebih dari itu suara anak-anak mengaji di musalla telah tergantikan oleh suara tv.
Sebenarnya kami kembali ke kampong kami, ingin menjemput kenangan masa lalu, masa yang dipenuhi oleh kegiatan yang sangat agamis, tapi semuanya telah berlalu bersama masa lalu.
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---