|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Butiran hujan kembali menyirami bumi yang kehausan, menghidupkan, menyegarkan, mensucikan dari kotoran waktu, membersihkan dari kesalahan tindakan manusia, menghilangkan kekaratan dan debu yang bertumpuk-tumpuk , hujan yang menyirami di pagi hari, mendatangkan kebaikan, kebahagiaan dan keceriaan, menjadikan bumi bernyanyi bagaikan doa yang tertuju ke langit agar terus dan terus hujan dan cinta ini berkelanjutan.
Pepohonan ikut bahagia dan kembali segar seakan mau terbang gembira atas siraman hujan, yang ia rindukan setelah lama tidak kunjung datang, bebungaan ternsenyum, berdendang, bergoyang dan bermekaran, burung-burung yang bertenggang diatas pohon kurma beterbangan berebut butiran hujan dan menyambutnya dengan riang, sayap-sayapnya dikepakkan agar tertimpa keberkahannya dan terus melambung ke udara sambil menikmati indahnya keceriaan.
Anak-anak turun ke jalanan, membawa bola dan menendang dan menggiringnya menuju kubangan air yang terletak di pinggir jalan, berlarian dengan badan yang basah kuyup, tanpa lelah mereka tertawa sebagai ungkapan pengharapan mereka atas hujan yang telah lama ditunggunya. Sementara para orang tua mengawasi mereka dari emperan rumah mereka dengan diam, terkadang tersenyum, hati mereka terus berdoa, berdzikir dan memuji nikmat yang turun dari langit, yang terkadang hanya satu tahun sekali.
Perjalanan pulang umroh kami diguyur hujan lebat, dan beratus-ratus kilo kemudian badai pasir menyerang bis tumpangan kami yang terkadang bergerak sambil terseok-seok mengikuti jejak badai pasir yang menutup pandangan supir bis kami. Di perhentian, kami turun untuk menikmati butiran hujan, sekalian shalat jama' maghrib isya' dan mengisi kerontang perut kami.
Dua kebahagiaan yang kami dapat, ujar teman satu kursi, apa itu ungkapku terperangah : pertama nikmat kebahagiaan menunaikan panggilan umroh dan nikmat guyuran hujan di tengah gurun pasir yang kerontang.
Bis kami terus melaju menuju perbatasan dua negara, kami tidak sempat untuk memejamkan mata, karena kami tidak ingin terlewatkan suasana sejuk hujan yang mengairi kanan kiri jalan raya yang membentang ribuan kilo.
Terima kasih ya Allah atas dua kenikmatan ini, walaupun rindu pada baitullah terus mengaliri tubuh dan keimanan kami, semoga pada tahun-tahun berikutnya Engkau masih menyertakan kami dalam keberkahan hujan dan umroh.
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---