|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Amanat (amanah) yang sering digunakan dalam bahasa sehari-hari bahkan dalam ceramah-ceramah keagamaan ternyata bila ditelusuri kata ini berasal dari Al Quran atau bahasa Arab, lalu apa sebenarnya arti amanah tersebut ?
Amanah adalah menunaikan hak dan menjaganya, dalam hal ini seorang muslim hendaknya menunaikan hak pada tempatnya yang hak (benar), salah satu contohnya adalah menunaikan hak Allah dalam ibadah, menjaga anggota badannya dari semua perbuatan haram, mengembalikan barang titipan pada pemiliknya. Ada sebuah hadits nabi Saw yang memuat perkara amanah ini : "Tidak sempurna iman seseorang yang tidak mempunyai amanah, dan tidak sempurna agama seseorang yang tidak menepati janjinya", penegasan hadits ini mengenai amanah merupakan dalil bahwa keimanan dan kebaikan akhlak seseorang tergantung pada keamanahannya.
Tingkah laku manusia keseharian harus dipenuhi oleh sifat amanah, amanah dalam keluarga, amanah dalam kerja, amanah dalam jabatan bahkan amanah dalam beragama. Dengan berpegang teguh pada sifat ini, maka : negara akan aman dari tindakan korupsi, KKN dan perbuatan merugikan rakyat lainnya, dalam keluarga : anggota keluarga akan tentram, damai dan anak akan mengikuti tauladan kedua orang tuanya yang amanah, dan dalam kelompok masyarakat : setiap anggota masyarakat menjalankan tugasnya masing-masing dengan penuh amanah maka akan terwujud keserasian social dan dalam beragama : seseorang yang mempunyai kemampuan dan keahlian dibidang ilmu agama, maka hendaknya ia menyampaikan ilmunya dengan penuh amanah agar terwujud masyarakat yang bertakwa dan begitu selanjutnya.
Ada kisah menarik mengenai sifat amanah ini, dan mungkin kisah ini dapat menjadi pelajaran bagi kita dan keluarga kita :
Suatu hari ada seseorang yang mendapatkan buah apel di pinggir pagar kebun seseorang, tanpa banyak berpikir orang itu langsung menggigit dan melahap habis buah apel tersebut, lalu terbesit dalam dirinya bahwa ia telah memakan sesuatu yang bukan hak miliknya, lalu ia terus mengecam dirinya yang telah melakukan tindakan salah, lalu ia memutuskan untuk mendatangi rumah pemilik kebun dan meminta maaf atau membayar harga sebuah apel yang telah dimakannya, kemudian orang itu berangkat menemui pemilik kebun apel dan menceritakan yang telah terjadi, lalu pemilik kebun terperanjat atas keamanahan orang ini, dan bertanya : siapa namamu ?
Nama saya ; Tsabit, dan pemilik kebun itu semerta-merta berkata : sekali-kali tidak akan saya maafkan perbuatanmu kecuali dengan syarat kamu mau menikahi anak perempuan saya, tapi perlu kamu ketahui bahwa anak perempuan saya itu : buta, tuli dan lumpuh, Tsabit dengan terpaksa menikahi anak pemilik kebun agar ia terselamatkan dari siksa dunia dan akhirat, dan pada saat Tsabit menemui calon isterinya ia mendapatkannya kecantikan yang sempurna, memiliki pengetahuan yang luas dan ketakwaan, sehingga Tsabit kebingungan melihat kenyataan yang berbeda dengan perempuan yang disifati oleh ayahnya, lalu ia ingin melepas kebingungannya dengan bertanya : calon isterinya dengan tersenyum menjawab : saya buta dari melihat hal-hal yang haram, tuli dari mendengar dan mengucapkan hal yang dimurkai Allah dan lumpuh dari berjalan menuju tempat-tempat yang haram dan di jalan haram, kemudian Tsabit menikahi perempuan itu dan pada akhirnya keduanya mendapatkan keturunan seorang imam besar yang bernama Abu Hanifah An Nu'man
Kisah diatas dengan berbagai versinya yang pernah kita simak dari guru-guru kita, semoga dapat mengobarkan kembali semangat amanah dalam kehidupan kita, sehingga terwujud buah amanah tersebut pada generasi kita.
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---