|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|





Jum'at, 10 Agustus 2012 pukul 18:00 WIB
Penulis : Radinal Mukhtar Harahap
Dalam buku Self-Publishing Manual, Dan Poynter mengutip ungkapan menarik dari Sam Horn dalam bukunya Tongue Fu! mengenai seorang penulis. Sam Horn mengatakan bahwa ia tidak pernah menemukan seorang penulis yang menyesal telah menulis sebuah karya. Yang banyak ia temukan adalah penulis yang menyesal karena tidak menuliskan karya itu lebih cepat dari apa yang telah dilakukannya.
Ungkapan tersebut, seakan-akan, menyindir apa yang telah dituliskan oleh Joe Vitale, guru The Secret Rhonda Byrne, dalam bukunya Hypnotic Writing bahwasannya ia pernah berkali-kali mulai menulis, menilai tulisan itu jelek dan berhenti. Berminggu-minggu atau berbulan-bulan kemudian, ia tak sengaja menemukan tulisan yang belum selesai ini dan membacanya lagi. Tulisan itu bagus! Dibacanya enak dan tujuannya jelas. Mengapa ia tidak menyelesaikannya? Sudah terlambat untuk memulainya lagi karena saya sudah kehilangan momentum awal. Kemudian saya akan marah-marah karena tidak menyelesaikannya!
Lantas, Gregory Poirier, dalam buku Chicken Soup for Writer's Soul menyarankan agar jika ada hal lain yang bisa kalian lakukan dalam hidup kalian, maka silahkan pergi dan lakukan saja hal itu. Jalan ini--menjadi seorang penulis.red-- tidak cocok untuk kalian jika kalian ragu-ragu. Tapi jika inilah satu-satunya pekerjaan yang cocok untuk kalian, jika inilah pekerjaan yang menghidupkan jiwa kalian, maka terjunlah dan bekerja keraslah. Berjuang, mengangis, dan gigihlah menulis. Dan jangan lupa untuk mencintai pekerjaan ini, bahkan ketika tulisanmu telah menghasilkan!
Membaca deretan kata yang diungkapkan oleh para penulis luar negeri di atas, saya berpikir dan bertanya, "Apakah ini penyebab munculnya pernyataan menulis itu mudah?" Dengan pernyataan itu, muncullah rumus klasik cara mudah untuk menulis: menulislah, menulislah, dan menulislah. Rumus itu, akhirnya, didengungkan berkali-kali sehingga menjadikan banyak peserta pelatihan penulisan dapat menebak isi dari pelatihan tersebut: disuruh untuk menulis.
Benarkah untuk menjadi penulis yang kita butuhkan hanya kegiatan menulis? Ketika tulisan itu selesai, apa yang dilakukan setelah itu? Bagaimana menjadikan tulisan itu benar-benar bagus? Apakah dengan menulis saja kita dapat menghasilkan tulisan yang bagus? Bagaimana jika tulisan kita masih mempunyai kekurangan di berbagai sisi? Bagaimana caranya menambahkan hal-hal baru yang bisa menambah keindahan tulisan? Banyak pertanyaan yang akan lahir. Puncaknya, Bagaimana agar tulisan dapat dibaca oleh banyak orang?
Buku Chicken Soup for Writer's Soul karya Jack Canfield dan Mark Victor Hansen, edisi bahasa Indonesia-nya berjudul sangat jauh dari isinya. Judulnya adalah Harga Sebuah Impian, padahal, isinya pengalaman jatuh-bangun seorang penulis untuk menulis. Mengapa harus "Harga Sebuah Impian"? Apakah semua orang mempunyai impian untuk menulis atau menjadi penulis? Saya rasa tidak! Coba saja kita bertanya ke beberapa anak sekolah, baik tingkat dasar, menengah, atau atas bahkan mahasiswa, berapa banyak yang bercita-cita menjadi penulis?
Lama saya berpikir tentang itu. Hingga akhirnya bertemu dengan tulisan M. Arief Hakim yang berbunyi, “Betapa indahnya jika tulisan kita dibaca, diperbincangkan, dan diapresiasi oleh banyak orang, bahkan kadang-kadang ditanggapi dan diperdebatkan oleh beberapa penulis lainnya!”
Aha... itulah mimpi semua penulis. Mimpi yang begitu berharga mahal. Mimpi yang harus diperjuangkan meski harus mengorbankan banyak hal. Mimpi yang lebih berharga dari tumpukan uang-- seberapapun itu. Mimpi yang berupa pengakuan pembaca. Mimpi agar tulisan sampai ke tangan banyak orang dan dibaca. Itulah mimpi penulis.
Itulah mimpi yang tidak bisa diraih hanya dengan menulis saja! Ada banyak tahapan lain yang perlu dilakukan agar tulisan sampai ke tangan pembaca. Tulisan harus melalui proses editing untuk menemukan beberapa kekurangan untuk selanjunya direvisi agar tampil lebih baik. Tulisan yang sudah melalui proses editing dan revising itulah yang akhirnya di-publish. Proses editing, revising, dan publishing itulah proses yang tidak akan dapat dijalankan hanya dengan kegiatan menulis. Proses itu lebih mengedepankan kemampuan membaca: membaca kesalahan, membaca tempat meletakkan tambahan value atau nilai sebuah tulisan, hingga akhirnya membaca kebutuhan pembaca sehingga tulisan menemukan pembacanya.
Bahkan, bukan hanya kegiatan membaca saja yang dibutuhkan dalam tiga proses di atas. Ada proses diskusi untuk mencari masukan dari orang-orang terdekat. Ada proses membandingkan tulisan itu dengan tulisan lainnya agar mempunyai 'nilai tambah'. Ada proses lay-out untuk menciptakan bentuk atau model tulisan yang menarik. Dan proses-proses lainnya yang tidak mungkin saya bahas satu per satu dalam tulisan ini.
Lantas, bagaimana agar tulisan dapat dibaca banyak orang?
Satu hal yang pasti untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah jangan pernah menulis dan menyimpan tulisan itu, baik di bawah bantal, kasur, bahkan peti yang dikunci rapat dan ditimbun di kedalaman yang tidak dapat dijangkau orang lain. Tunjukkanlah tulisan itu pada orang lain. Biarkan pembaca menilai tulisan itu. Semakin banyak yang membaca, semakin banyak masukan yang akan diterima untuk menjadikan tulisan itu lebih baik. Jadikan kritik sebagai motivasi tersendiri untuk melahirkan karya lebih baik. Dengan itu, tulisan akan dapat dinikmati banyak orang.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Radinal Mukhtar Harahap sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.