HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Dominikus Doni : Terpikat Suara Adzan di Radio
23 Juni 2011 pukul 15:45 WIB
Tawina : Bergerilya dalam Ibadah
28 April 2011 pukul 14:00 WIB
Sri Wahyuni : Islam Agama Pemersatu
14 April 2011 pukul 14:00 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 7 Juli 2011 pukul 15:55 WIB

Christiana Adriana : Ragu terhadap Ajaran Kristen

Penulis : Indra Widjaja

Christiana Adriana adalah nama pemberian orangtua. Sesuai nama saya yang berawalan Christiana, orang sudah mafhum dengan agama saya. Saya memang pengarut agama Kristen Katolik. Sejak kecil, kedua orangtua kami selalu menanamkan ajaran Kristen dalam mendidik kami, anak-anaknya. Bersama kedua orangtua, saya pun aktif dalam setiap kegiatan gereja. Bahkan, ibu saya adalah seorang aktivis gereja yang bertugas memberi makan para pendeta.

Sebagai penganut agama Kristen Katolik yang taat, saya sangat rajin membaca Alkitab. Selain itu, saya juga banyak membaca kisah-kisah Nabi Isa. Saya juga sangat kagum dengan gambar Bunda Maria yang saya tempel di banyak sudut rumah.

Bersamaan dengan rasa kagum kepada agama yang saya anut itu, sebagai anggota masyarakat, saya juga perlu bergaul dengan sesama. Kebetulan, saya tinggal di wilayah Yogyakarta yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Di lingkungan yang berbeda agama inilah saya menyempatkan diri untuk bergaul. Ini saya lakukan sejak kanak-kanak hingga dewasa. Saya sangat senang bergaul dengan mereka, sebab mereka tidak pernah mempersoalkan perbedaan agama.

Pergaulan saya yang luas dengan kalangan Islam ini membuat kedua orangtua saya was-was. Mereka kemudian melarang saya bergaul dengan orang-orang Islam. Karena sudah terlalu dekat dengan teman-teman itu, maka saya secara sembunyi-sembunyi menjumpai mereka. Lama-kelamaan tingkah laku saya itu diketahui juga oleh ayah. Saya didamprat habis-habisan. Bukan itu saja, saya juga mendapat hukuman.

Tahun 1971, selepas dari Sekolah Guru Agama (SGA), saya secara resmi menyandang gelar biarawati. Sebagai biarawati, saya diharuskan tinggal di dalam asrama. Tugas saya yang pertama adalah mengajar di taman kanak-kanak. Setelah itu, tugas saya adalah sebagai misionaris yang meliputi wilayah garapan Jakarta dan sekitarnya.

Sebagai seorang misionaris, saya berusaha mengajak pemeluk agarna Islam untuk menjadi penganut agama Kristen. Dan itu berhasil. Ternyata banyak orang Islam yang pindah ke agama Kristen. Umumnya mereka berasal dari kalangan orang yang kesusahan. Mereka berani menggadaikan imannya karena merasa berutang budi kepada misionaris.

Setelah tiga tahun menjadi misionaris, saya mulai risih dengan ajaran-ajaran agarna saya sendiri. Saya sering membandingkan ajaran Kristen dengan ajaran Islam. Karena sering membandingkan, akhirnya saya berkesimpulan bahwa agama Islamlah yang mempunyai ajaran dan hukum yang sangat jelas, seperti halal, haram, mubah, dan makruh. Bukan itu saja, saya terkadang bertanya tentang ketuhanan Yesus. Mengapa Yesus sebagai Tuhan bisa disalib dan tidak berdaya?

Selain itu, saya juga bertanya mengenai sikap umat Kristen yang seharusnya taat pada perintah Alkitab, tapi malah percaya kepada dogma-dogma Paulus. Misalnya, pada Imamat : 11 yang mengharamkan babi, tapi umat Kristen malah memakannya. Selain itu, umat Kristen juga melalaikan perintah sunat atau berkhitan.

Dari pertanyaan yang ditunjukkan umat Kristen ini, membuat saya ragu akan kebenaran agama yang saya anut sejak kecil itu. Pertanyaan dan sikap penganutnya ini yang menjadi awal keraguan saya terhadap agama Kristen.

Dari keraguan inilah, saya mengalami hal-hal aneh yang belum pernah terjadi dalam hidup saya selama ini. Pertama, saya berdo'a kepada Tuhannya orang Islam. Dalam do'a itu, saya minta agar ditunjukkan kekuasaan-Nya sehingga dengan itu akan menambah keyakinan saya.

Kedua, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, saya melihat orang-orang yang suci bersih berbaris dengan rapi. Tiba-tiba muncul gumpalan-gumpalan awan yang memayungi orang-orang suci itu.

Ketiga, di saat subuh, ketika saya bersiap untuk melakukan do'a, tiba-tiba ada yang memegangi tangan saya dari belakang. Mulut saya juga dibekap hingga tak bisa bicara. Pikir saya saat itu, saya sedang dirampok. Karena kondisi demikian, saya berusaha untuk berteriak. Namun, saya malah berteriak Allahu Akbar dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah berteriak seperti itu, pegangan tangan itu pun mengendur dan lenyap. Kemudian, saya tak sadarkan diri. Dalam keadaan seperti itu, saya mengalami halusinasi. Saya merasa dibawa entah oleh siapa ke sebuah padang yang sangat luas. Di hadapan saya terdapat gumpalan bara sebesar gunung. Semua rumput bersujud. Kemudian secara sayup-sayup saya mendengar kumandang suara adzan. Lantunan suara suci itu begitu menyayat hati. Saya merasa begitu bersalah selama ini.

Keempat, setiap kali saya mendapat kesulitan, muncul seseorang memakai sorban yang berdiri tegar di hadapan saya. Orang itu kemudian mengatakan, "Apa yang engkau inginkan? Apa belum cukup kebesaran yang Aku tunjukkan?"

Setelah mengalami kejadian aneh itu, saya berkeinginan secara ikhlas untuk memeluk agama Islam. Niatan itu saya sampaikan kepada kepala suster. Bukan sambutan hangat yang saya terima, malah kemarahan yang saya dapatkan. Kepala suster marah dan melarang saya.

Namun, tekad saya sudah bulat untuk pindah agama. Untuk mewujudkan itu, saya hengkang dari asrama. Keinginan itu juga didengar oleh orangtua saya. Saya dimarahi dan diobati oleh paranormal. Mereka mengancam untuk tidak mengakui saya sebagai anak. Namun yang keluar dari mulut saya hanya kalimat tauhid. Karena tidak mempan, akhirnya orangtua saya membawa saya ke rumah sakit jiwa dengan alasan kena sihir.

Akhirnya, saya dapat mewujudkan keinginan itu. Berkat usaha seorang teman, saya berhasil dibimbing untuk memeluk Islam di sebuah pondok pesantren di Jakarta Timur. Nama saya segera saya ganti menjadi Supriantini.

Setelah pindah agama, saya lebih memfokuskan belajar mendalami Islam. Saya juga tidak bosan-bosan mendo'akan kedua orangtua saya agar mereka segera diberi taufik dan hidayah oleh Allah SWT.

Dari mualaf.com

http://indra.web.id

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Yussi | Karyawati
Subhanallah sekali bisa bergabung di KotaSantri.com. Barakallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1457 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels