|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
|
http://indra.web.id |
|
saya@indra.web.id |
|
|
steven widjaja |
|
http://facebook.com/steven indra widjaja |
|
http://friendster.com/steven widjaja |





Kamis, 23 Juni 2011 pukul 15:45 WIB
Penulis : Indra Widjaja
Menilik nama saya, pembaca tentu mafhum latar belakang keluarga dan lingkungan yang membesarkan saya. Ya, saya memang lahir dan dibesarkan di lingkungan masyarakat yang mayoritas memeluk agama Kristen Katolik. Kedua orangtua saya sangat ketat memelihara dan mengamalkan ajaran Katolik. Tak heran, jika akhirnya saya disekolahkan di Sekolah Rakyat (sekarang SD) Katolik Aliur Oba, Flores Timur, lulus tahun 1952. Setelah itu, saya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Teknik Pertukangan di Larantuka, Flores Timur, hingga tamat tahun 1958.
Karena ayah saya seorang aktivis gereja, saya pun direkrut oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) Katolik untuk melaksanakan program-program bantuan sosial kepada masyarakat pedesaan. Sebagai seorang ahli pertukangan, saya ditugaskan untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan yang berkaitan dengan teknotogi tepat guna, yang memang sangat dibutuhkan warga desa.
Karena tugas-tugas itu, saya bergaul akrab dengan warga desa. Mereka sangat berterima kasih dengan kehadiran saya. Sehingga ketika diadakan pemilihan kepala desa (pilkades), saya secara aklamasi dipilih menjadi Kepala Desa Meluwiting. Karena dianggap cukup berprestasi, jabatan kepala desa itu saya jabat selama tiga periode.
Sebagai kepala desa, tentu saya dituntut untuk menyerap sebanyak mungkin informasi, khususnya informasi pembangunan guna disosialisasikan kepada warga desa. Salah satu sumber informasi yang paling sering saya serap adalah melalui siaran RRI (Radio Republik Indonesia).
Karena itu pula saya jadi sering mendengar lantunan suara adzan yang dikumandangkan RRI lima kali dalam sehari. Lama-lama saya tahu kalau itu panggilan atau seruan untuk mengingatkan kaum muslimin agar mereka segera menunaikan shalat.
Selain suara adzan, melalui RRI pula saya jadi terbiasa mendengar alunan ayat ayat suci Al-Qur'an yang dikumandangkan menjelang masuk waktu shalat. Baik suara adzan maupun alunan ayat suci Al-Qur'an telah menggugah kesadaran saya yang paling dalam untuk mencari kebenaran yang hakiki (sejati).
Saya pun mulai mencoba mempelajari kitab suci umat Islam itu. Melalui terjemahan yang diterbitkan Departemen Agama RI, saya jadi bertambah yakin bahwa Al-Qur'an itu memang kitab suci. Selain masih terjaga dari segi bahasa -hanya menggunakan bahasa Arab-, juga konsisten dalam kandungan isinya.
Berbeda dengan kitab suci umat Kristen (Alkitab) yang terbagi empat : Matius, Markus, Yohanes, Lukas. Keempat kitab suci itu isinya tak jarang saling bertolak belakang. Apalagi redaksi bahasanya. Hal ini sempat membuat saya ragu akan kebenarannya. Saya mulai meragukan Alkitab sebagai wahyu Allah.
Apalagi selama bertugas di Larantuka, saya pernah menemukan Al-Qur'an disembunyikan di dalam kamar seorang pendeta. Untuk apa pendeta menyembunyikan Al-Qur'an? Mungkin ia ingin mempelajari Al-Qur'an. Itu membuktikan Al-Qur'an memang wahyu Allah.
Hal-hal tersebut semakin mendorong tekad saya untuk mempelajari Islam lebih serius. Setelah itu, saya mulai tekun membaca buku-buku tentang Islam, di samping banyak bertanya dan berdiskusi dengan para tokoh Islam. Alhamdulillah, pada tahun 1972, saya resmi mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat.
Setelah menjadi seorang muslim, saya menemui banyak tantangan. Antara lain, saya diberhentikan dari jabatan sebagai Kepala Desa Meluwiting. Bahkan, saya difitnah menggelapkan kas desa sehingga membuat saya harus berurusan dengan pihak kepolisian. Tapi, semua ujian dan cobaan itu saya hadapi dengan sabar.
Alhamdulillah, saat ini saya aktif mengikuti Jama'ah Tabligh. Saya juga sering mengikuti perjalanan dakwah (khuruj fii sabilillah) ke berbagai kota di Indonesia. Kini, saya hidup bahagia bersama dua orang istri dan sembilan orang anak. Delapan orang anak saya sudah masuk Islam. Tinggal seorang lagi yang masih beragama Katolik.
Dalam kesempatan ini pula, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Haji Panity sebagai pimpinan rombongan Jama'ah Tabligh Jakarta untuk kawasan Flores Timur yang telah membimbing kami untuk memperbaiki diri dan memperdalam iman dan Islam selama 40 hari di Jakarta. Semoga amal ibadah Bapak Haji Panity dan kawan-kawan mendapat ridha Allah SWT.
Dari mualaf.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.