QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 14 April 2011 pukul 14:00 WIB

Sri Wahyuni : Islam Agama Pemersatu

Penulis : Indra Widjaja

Dengan kekuasaan dan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, pada awal tahun 1975 saya lahir dengan selamat ke alam dunia ini. Saya adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Bapak saya bernama Nyoman Bakta, sedangkan ibu saya bernama Nyoman Sembrog. Semua keluarga saya penganut agama Hindu Dharma yang selalu taat mengabdi kepada Tuhan Sang Hyang Widi Washa.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa setiap anak yang lahir ke alam fana ini, sudah barang tentu akan mengikuti ajaran agama yang dianut oleh kedua orangtuanya. Demikian pula dengan diri saya yang sejak kecil hidup dalam lingkungan pergaulan masyarakat yang menganut agama Hindu. Tepatnya kami tinggal di Kampung Barnasi, Desa Buduh, Kecamatan Mongui, Kabupaten Badung, Bali. Menengok kehidupan masa kecil saya, teringat pula kehidupan keluarga saya yang tergolong petani miskin. Kendati demikian, perhatian kedua orangtua saya dalam masalah pendidikan buat anak-anaknya cukup membanggakan. Ini terbukti dari keberhasilannya menyekolahkan semua anak-anaknya hingga tamat SMP, termasuk saya.

Sejak masuk usia sekolah, sedikit demi sedikit saya mulai mengenal ajaran agama Hindu yang dianut oleh seluruh keluarga kami, yakni suatu ajaran yang menyembah kepada tuhan Sang Hyang Widi dengan cara melipat kedua tangan tiga kali seraya berdo'a kepada Sang Dewa yang menguasai alam jagat raya ini. Konon, menurut para tetua Hindu yang pernah saya dengar, alam ini dikuasai oleh banyak dewa yang bersemayam di mana-mana. Misalnya, di gunung-gunung, di pohon kayu besar, di laut, dan sebagainya.

Setelah saya bisa membaca huruf latin yang diajarkan di sekolah, saya mulai gemar membuka sekaligus mempelajari buku-buku yang berkaitan dengan agama Hindu. Kegemaran saya ini seiring dengan ketekunan saya datang ke pura untuk melaksanakan persembahyangan dan acara-acara adat yang dikerjakan oleh penganut Hindu.

Perlu diketahui, terutama dalam hal pendidikan agama bagi anak-anaknya, agama Hindu jauh berbeda dengan agama Islam. Maksud saya, di agama Hindu tidak ditemukan tempat khusus bagi anak-anak untuk memperdalam ilmu agamanya sendiri. Sehingga tidak mengherankan, kalau sebagian penganutnya tidak mengenal ajaran agamanya sendiri. Lain halnya dengan Islam yang setiap waktu saya saksikan anak-anak, para remaja, dan orangtua berbondong-bondong mendatangi tempat pengajian.

Setelah tamat SD, saya melanjutkan studi ke SMP yang ada di tempat tinggal saya. Di SMP inilah saya mulai mengenal beberapa orang teman yang memeluk agama Islam. Mereka selalu ramah, sopan terhadap siapapun tanpa memandang agama dan kasta.

Sayangnva, setelah saya tamat SMP, ibunda tercinta dipanggil oleh Tuhan Yang Mahakuasa untuk selama-lamanya. Sepeninggal ibu, hidup saya mulai terlunta-lunta tanpa arah dan tujuan. Ketekunan saya datang ke pura pun mulai berkurang. Niat saya ingin melanjutkan studi kandas di tengah jalan, karena tak ada dukungan biaya.

Dengan bermodalkan ijazah SMP, saya mencoba mencari pekerjaan ke kota kabupaten (Badung). Di kota inilah nasib mujur saya raih. Saya diterima bekerja di sebuah toko penjahit pakaian. Di tempat saya inilah saya mengenal beberapa orang teman Hindu yang sudah masuk Islam. Selain itu, saya juga berkenalan dengan seorang pemuda muslim yang berasal dari Lombok dan bekerja sebagai buruh bangunan.

Setelah beberapa bulan berkenalan, saya memberanikan diri untuk mengajak pemuda yang bernama Miswadi ini untuk berdiskusi tentang ajaran agama masing-masing. Secara jujur saya katakan, saya selalu kalah dalam setiap adu argumentasi dengannya. Setiap pertanyaan saya selalu dijawabnya dengan jawaban yang masuk akal.

Pada suatu ketika saya berjalan di dekat sebuah masjid. Ketika itu saya saksikan sebuah pemandangan yang sangat menarik, dan tidak pernah saya lihat dalam agama Hindu. Saat itu umat Islam sedang melaksanakan lbadah pada tengah hari (shalat dzuhur). Alangkah indahnya gerakan yang mereka lakukan, yakni suatu gerakan yang sungguh menggetarkan batin saya. Seluruh jama'ah di masjid itu melakukan gerakan yang sama, dengan barisan yang lurus teratur, mereka menunduk, lalu kepalanya menyentuh tanah.

Dengan menyaksikan itu, saya berkesimpulan bahwa Islam adalah agama pemersatu bagi umat manusia. Islam adalah agama yang tidak memandang suku, ras, dan kasta. Hal ini dibuktikan dengan cara mereka melakukan ibadah, yakni shalat.

Sesudah menyaksikan apa yang dilakukan oleh umat Islam itu, kemudian saya mencoba menemui Miswadi. Di depan pemuda muslim tersebut saya mengutarakan niat saya memeluk agama Islam. Rupanya Miswadi tidak begitu saja menerima niat saya itu. Saya pun kemudian diberondong berbagai pertanyaan. la khawatir, jangan-jangan setelah memeluk agama Islam, saya akan murtad lagi, kembali ke agama semula.

Saya berusaha meyakinkan Miswadi. "Aku masuk Islam bukan karena ada paksaan dari orang lain. Tetapi niatku ini benar-benar tulus, datangnya dari Allah SWT," tegas saya mantap. Setelah mendengar jawaban saya itu, Miswadi pun mengajak saya untuk pergi ke Lombok. Ajakannya ini pun saya ikuti. Di tengah perjalanan pulang ke Lombok, Miswadi pun mengutarakan isi hatinya, yaitu kalau saya sudah masuk Islam, dia bersedia menjadi pendamping hidup sekaligus pembimbing saya.

Singkat cerita, pada 25 Oktober 1997, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat, dibimbing Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bayan, Bapak Sayid Aqil Alkaff, disaksikan Bapak Mustari, Nurmasari, dan Audi, serta pegawai KUA lainnya. Dan ketika itu juga saya memperoleh nama baru, yaitu Sri Wahyuni.

Alhamdulillah, setelah saya masuk Islam, Miswadi pun memenuhi janjinya. Dan, pada 26 Oktober 1997 saya resmi menjadi istri Miswadi. Namun ketahuilah, seperti apa yang saya katakan di atas, saya masuk Islam bukan lantaran ingin menikah atau ada paksaan dari orang lain. Ini benar-benar karena kemauan saya sendiri. Sebab, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Islam adalah agama yang hakiki, agama yang mempersatukan antara sesama, tanpa memandang kasta dan
lain sebagainya.

Akhirnya saya berharap semoga keluarga saya diberikan petunjuk oleh Allah Yang Mahakuasa sehingga mereka mau mengikuti jejak saya untuk masuk Islam. Dan, semoga Tuhan Rabbul Izzati memberikan keturunan yang shaleh dan shalehah. Amin.

Dari mualaf.com

http://indra.web.id

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

mashalli | karyawan
Alhamdulillah... Meski baru bergabung di KSC, semakin nambah wawasan dan berbagi pengalaman religius.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1328 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels