Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Ng Gek Hua : Dengan Islam Hidup Saya Lebih Damai
11 November 2010 pukul 22:00 WIB
Siti Sarah : Karena Mimpi dan Bisikan Hati
28 Oktober 2010 pukul 22:15 WIB
Frederica Cynthia : Terpaksa Shalat di Kamar Mandi
2 September 2010 pukul 22:45 WIB
I Kadek Hendrawan : Al-Qur'an Membuat Saya Berubah
19 Agustus 2010 pukul 22:40 WIB
Mei Lan : Bermimpi Membaca Al-Qur'an
5 Agustus 2010 pukul 22:35 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 9 Desember 2010 pukul 23:40 WIB

Puspita Dewi Muliana : Suara Adzan Menggetarkan Kalbu

Penulis : Indra Widjaja

Nama saya Puspita Dewi Muliana. Saya dibesarkan dalam tradisi keluarga Kristen Katolik. Ayah saya bernama Yohanes dan ibu bernama Lalan. Ayah menginginkan saya menjadi penganut Kristen yang taat, baik di rumah maupun di masyarakat dan sekolah. Ayah selalu mengedepankan nilai-nilai agama Kristen dalam kehidupan kami. Ayah juga menerapkan kedisiplinan dalam keluarga. Untuk masalah ini, ayah sangat ketat. Setiap pulang sekolah, saya dan adik harus tetap berada dalam rumah. Boleh bergaul, asal jangan main-main, apalagi jika bermain dengan teman-teman non-Kristen.

Hal tersebut sangat diterapkan ayah, mengingat saya tinggal dan bersekolah di lingkungan yang mayoritas muslim. Ayah tidak menginginkan saya terlalu dekat dengan mereka. Ayah takut saya terpengaruh oleh ajaran agama mereka. Pokoknya, bagi ayah sekali Kristen tetap Kristen.

Sikap ayah ini membuat saya heran. Dulu menurut saudara, ayah yang muslim, ayah adalah seorang penganut agama Islam. Karena cinta pada seorang wanita, yang kini menjadi ibu saya, ayah rela melepaskan aqidah Islam untuk masuk ke agama Kristen Katolik.

Kini, saya tahu alasan ayah mengapa saya dididik dan diajarkan secara intens mengenai ajaran-ajaran Kristus. Ayah menginginkan saya dan adik menjadi penganut yang taat. Keinginan ini, menurut saya, dilandasi cintanya pada ibu. Terus terang, saya tidak suka dengan sikap ayah yang seperti itu.

Beragama, jika berdasarkan cinta, bukan karena iman adalah sikap beragama yang semu. Cinta, menurut saya adalah relatif. Iman bagi saya merupakan landasan atau pondasi. Sikap ayah ini menjadi bahan renungan saya. Saya tidak habis mengerti. Rasanya saya mulai kurang sreg dalam beragama seperti itu. Saya mulai berpikir untuk segera meninggalkan agama yang diajarkan ayah itu.

Keinginan untuk segera pindah keyakinan semakin menggebu. Mulanya saya tertarik dengan kumandang suara adzan. Kalimat-kalimat yang dilantunkan melalui pengeras suara dari masjid dekat rumah, sangat menggetarkan hati saya. Bulu kuduk jadi merinding dan ada getaran aneh yang seakan-akan memanggil saya untuk masuk ke agama Islam. Saya heran, mengapa ini bisa terjadi?

Padahal, suara itu dulu sering saya dengar dan tidak terjadi apa-apa. Saya tak tahu mengapa sekarang hati saya bergetar. Saya bingung. Kejadian inilah yang membuat saya merenung kembali.

Kejadian ini segera saya ceritakan kepada saudara saya yang muslim. Menurut saudara saya, suara adzan yang dikumandangkan oleh muadzin merupakan tanda panggilan shalat bagi kaum muslimin. Setiap hari, ada lima waktu yang harus dijalankan oleh setiap muslim. Itu yang dinamakan shalat wajib. Selain shalat wajib, menurutnya, ada shalat sunnah.

Mengenai bergetarnya hati ini, saudara saya mengatakan bahwa itu tandanya saya sudah meresapi makna di balik kalimat-kalimat adzan itu. Artinya, saya sudah mendapatkan titik terang untuk segera menerima Islam. Mendengar itu, hati saya sangat gembira. Tanpa sadar, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Saya terdiam. Kemudian dalam hati saya berkata, "Terima kasih, Tuhan. Engkau telah memberiku petunjuk."

Kejadian dan penjelasan saudara saya itu, saya simpan dalam hati. Saya sengaja tidak menceritakan kepada saudara maupun keluarga. Saya takut jika mereka tahu, apalagi ayah, pastilah beliau akan memarahi saya habis-habisan. Bukan itu saja, mungkin saya akan diusir atau makin dikekang dalam bergaul.

Lama saya pendam niatan untuk pindah agama. Makin lama saya simpan, makin menguat keinginan itu. Akhirnya, saya ceritakan juga pada teman-teman sekolah saya yang muslim. Pada awalnya mereka heran, saat saya duduk dalam kelas mengikuti pelajaran agama. Namun, mereka akhirnya maklum akan keingintahuan saya mengenai agama Islam. Mereka juga tidak mengusir saya, tapi mendekati saya. Saya bahagia dapat mengikuti pelajaran itu. Terus terang, saya senang jika duduk dengan mereka sama-sama mengikuti pelajaran agama Islam.

Kemudian saya utarakan keinginan untuk pindah agama. Mereka kaget bercampur gembira. Oleh mereka, saya disarankan untuk segera menghadap guru agama. Saya terima saran itu. Melalui pengurus rohani Islam yang ada di sekolah, saya dipertemukan dengan guru agama. Pada beliau, saya ceritakan keinginan saya itu. Pak guru agama sangat menyambut keinginan itu. Kepada guru agama di sekolah itulah, saya berkonsultasi keagamaan. Dari beliaulah, saya banyak mendapat penjelasan perihal agama Islam.

Setelah sekian lama berkonsultasi, akhirnya pada tahun 1997, saya mantapkan diri untuk menjadi seorang muslimah. Proses pengislaman saya berlangsung di sekolah. Tepatnya, di mushala sekolah. Di hadapan guru agama, teman-teman OSIS, dan pengurus rohis (sie rohani Islam), saya berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat.

Keislamam saya ini kembali saya tutup rapat-rapat buat keluarga saya. Saya tidak ingin mereka tahu. Saya sengaja merahasiakan. Ada beberapa kalangan yang tahu, di antaranya teman-teman sekolah, guru agama, saudara saya yang muslim, dan pacar saya sendiri.

Karena masih rahasia, saya sendiri jadi kesulitan untuk beribadah. Untuk shalat saja, misalnya, saya harus sembunyi-sembunyi atau shalat di masjid yang jauh dari rumah. Atau pergi ke rumah saudara yang muslim untuk menumpang shalat. Tapi dengan cara begini, saya merasa bersyukur dapat beribadah. Saya bertekad untuk mempertahankan apa yang sudah saya pegang.

Saya bertekad untuk mempertahankan Islam apa pun yang terjadi. Islam memberi saya ketenangan dan ketenteraman batin. Untuk memantapkan keimanan, saya banyak membaca buku-buku agama Islam, walaupun harus sembunyi-sembunyi. Selain itu, saya juga mengikuti pengajian di sekolah dan berkonsultasi dengan guru agama. Bagi saya, mereka semua adalah saudara saya yang mengantarkan iman saya kepada agama Islam. Saya bersyukur dapat bersaudara dengan mereka.

Dari mualaf.com

http://indra.web.id

Suka
bambang dan shalikan mohammad menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

agung sutrisno | PNS
Isinya bagus, ringan, gampang dibaca, dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Keep on good works!!!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1588 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels