HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Siti Sarah : Karena Mimpi dan Bisikan Hati
28 Oktober 2010 pukul 22:15 WIB
Frederica Cynthia : Terpaksa Shalat di Kamar Mandi
2 September 2010 pukul 22:45 WIB
I Kadek Hendrawan : Al-Qur'an Membuat Saya Berubah
19 Agustus 2010 pukul 22:40 WIB
Mei Lan : Bermimpi Membaca Al-Qur'an
5 Agustus 2010 pukul 22:35 WIB
Hauw Tin : Sempat Terusir dari Rumah
22 Juli 2010 pukul 22:40 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 11 November 2010 pukul 22:00 WIB

Ng Gek Hua : Dengan Islam Hidup Saya Lebih Damai

Penulis : Indra Widjaja

Meski bukan suatu keharusan, tetapi sudah menjadi kebiasaan apabila masyarakat keturunan Tionghoa di daerah kelahiran saya menganut agama Budha, agama tradisi keluarga yang diajarkan nenek moyang kami sacara turun temurun. Saya dilahirkan di Tanjung Pura, Kecamatan Langkat, Sumatera Utara, 8 April 1956, nama kecil saya Ng Gek Hua.

Sejak masih kanak-kanak, saya hanya mengenal satu agama, yaitu agama Budha yang menjadi agama keluarga kami. Ketika saya berusia tujuh tahun, saya dikirim orangtua ke Medan untuk belajar di sebuah sekolah dasar yang khusus menampung siswa keturunan, Tionghoa, yaitu SD Kepribadian Medan. Karena sekolah itu hanya khusus bagi warga keturunan, maka pendidikan agama yang diajarkan di sekolah itu hanya pendidikan agama Budha.

Di Medan, saya tinggal bersama salah seorang famili. Beliau penganut Budha yang taat. Setelah lulus SD tahun 1969, saya melanjutkan pendidikan ke SMP Tri Bukit Medan yang juga khusus bagi putra-putri warga keturunan. Di SMP itu pun pendidikan agama yang diajarkan juga hanya pendidikan agama Budha. Sehingga sampai lulus SMP, saya praktis hanya mengenal satu agama, yakni agama Budha.

Saya baru berkesempatan mengenal bermacam-macam agama setelah belajar di SMA. Karena di Medan tidak ada SMA yang khusus bagi warga keturunan Tionghoa, maka setelah lulus dari SMP Tri Bukit tahun 1972, saya melanjutkan ke SMA umum, yaitu SMA Negeri 09 Medan. Di SMA negeri itulah saya mengenal bermacam-macam agama yang dianut kawan-kawan saya, seperti agama Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, dan juga agama Hindu.

Setelah saya mengenal bermacam-macam agama, saya sering bertanya dalam hati. Agama yang dianut kawan-kawan saya mengenal adanya Tuhan dan nabi, juga kitab suci yang menjadi pedoman. Tetapi di dalam agama yang diajarkan oleh nenek moyang saya, kok tidak mengenal adanya Tuhan dan nabi, apalagi kitab suci?

Saat itu saya berpikir, mungkin agama Budha yang dianut dan menjadi agama tradisi keluarga keturunan di daerah saya memang berbeda dengan agama Budha di daerah lain. Kalau di daerah tertentu, umat Budha menunaikan ibadahnya di wihara, tetapi bagi umat Budha warga keturunan di daerah saya, ibadahnya di klenteng. Perbedaan lainnya, dalam ajaran agama saya pengertian Tuhan itu tidak ada. Obyek yang menjadi penyembahan agama saya adalah roh orang-orang Budha yang telah meninggal dan semasa hidupnya menjadi tokoh, sehingga disebut-sebut seperti pahlawan. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu mengusik hati Saya.

Seiring perkembangan usia, kedewasaan saya tentang berpikir agama pun semakin matang. Mula-mula yang saya pikirkan bahwa setiap orang hidup itu harus dekat dengan Tuhan. Maka, menjelang lulus SMA, saya benar-benar berniat mempelajari agama secara intensif agar lebih dekat dengan Tuhan. Tetapi timbul pertanyan, dengan siapa dan melalui kitab suci apa saya harus memperdalam agama yang dianut keluarga saya?

Di daerah saya tidak ada orang yang lebih menguasai agama tradisi itu. Agama saya itu memang tidak mengenal keyakinan dan norma yang khas seperti agama lainnya. Nenek moyang keluarga saya hanya mengajarkan tentang cara beribadah di klenteng. Waktunya setiap tanggal 1 dan tanggal 15 saat bulan purnama. Kami sekeluarga dan segenap famili berbondong-bondong ke klenteng memohon sesuatu kepada arwah-arwah orang yang telah meninggal. Mau belajar lewat kitab suci, agama tradisi keluarga saya tidak mengenal adanya kitab suci.

Ya, hanya itu saja yang saya ketahui tentang agama saya sendiri. Sehingga, sampai lulus SMA saya tidak tahu banyak tentang agama saya yang sebenarnya. Sampai-sampai saya berpikir agama keluarga saya itu lebih pantas disebut tradisi adat atau budaya. Saya bertekad meninggalkan agama leluhur saya demi mempelajari sebuah agama yang mengajarkan keesaan Tuhan.

Di daerah tempat keluarga saya di Medan, di samping berdiam suku Batak, Melayu, dan keturunan Tionghoa, juga ada orang Jawa yang umumnya menganut agama Islam. Saya sering mengamat-amati perilaku orang muslim yang berasal dari Jawa. Mereka umumnya rajin beribadah di masjid. Mereka juga tampak rukun-rukun. Yang membedakan antara penduduk muslim dan penduduk agama yang lain adalah keramahtamahannya. Wajah mereka selalu kelihatan bersih.

Saya mulai membanding-bandingkan beberapa agama. Akhirnya, saya menjatuhkan pilihan kepada agama Islam. Saya berkesimpulan bahwa Islam adalah agama yang paling dekat dengan Tuhan. Dilihat dari cara dan aturan beribadahnya saja, Islam adalah yang paling sempurna. Setiap hari, minimal setiap pemeluk Islam harus menjalankan ibadah wajib (baca : shalat) sebanyak lima kali. Belum lagi ibadah sunnahnya. Akidahnya jauh lebih komplit. Mulai saat itu, secara diam-diam saya mempelajari Islam dari kawan-kawan saya di sekolah.

Ketika liburan sekolah, saya pulang ke Langkat menemui kedua orangtua untuk mengutarakan niat saya mempelajari Islam. Ketika mendengar niat saya itu, kontan saja orangtua saya membentak dan mencaci maki saya habis-habisan. "Tidak bisa, itu agama orang Jawa. Kita sudah punya agama warisan leluhur kita. Agama Islam itu agamanya orang bodoh dan miskin. Itu mesti kau jauhi!" bentak orangtua saya saat itu.

Saya memaklumi sikap mereka. Memang, penganut Islam yang mayoritas penduduk Pulau Jawa sering mengadakan acara-acara ritual, seperti sesajen, selamatan, dan sebagainya. Sehingga sering disebut sebagai agamanya orang Jawa. Hardik dan makian orangtua saya itu justru semakin menguatkan niat saya untuk mempelajari Islam.

Pada tahun 1980, saya berhasil meraih ijazah sarjana akuntansi. Dan beruntung, sebuah perusahaan kontraktor swasta menerima saya sebagai karyawan. Jarak yang jauh dari keluarga merupakan kesempatan untuk mempelajari Islam lebih serius.

Tahun 1990 saya dipercaya perusahaan tempat saya bekerja untuk memimpin perusahaan cabang di Semarang. Di ibu kota Jawa Tengah inilah impian saya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat terlaksana. Dengan bimbingan Kepala Kandepag Kabupaten Semarang, pada tanggal 23 Agustus 1993, saya benar-benar memasuki dunia baru sebagai anggota keluarga muslim. Kini, saya benar-benar telah menemukan Tuhan yang telah sekian lama saya dambakan. Saya merasa damai hidup dalam naungan Islam.

Dari mualaf.com

http://indra.web.id

Suka
yantie dan shalikan mohammad menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Yussi | Karyawati
Subhanallah sekali bisa bergabung di KotaSantri.com. Barakallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1528 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels