|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|
|
|
http://indra.web.id |
|
saya@indra.web.id |
|
|
steven widjaja |
|
http://facebook.com/steven indra widjaja |
|
http://friendster.com/steven widjaja |





Kamis, 17 Februari 2011 pukul 17:17 WIB
Penulis : Indra Widjaja
Saya dilahirkan pada 16 Juli 1958 sebagai anak keenam dari delapan bersaudara di desa Aeksidung, Kec. Pakkat, Kab. Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Nama lengkap saya Hakman Tumanggor Simbolon, Agama asli saya sebenarnya Islam, Ayah saya juga muslim, sedangkan ibu, memang Kristen Protestan. Namun, sejak kelas 3 SD, saya pindah ke agama Kristen Protestan, hal ini disebabkan oleh kuatnya pengaruh lingkungan yang mengelilingi saya.
Seperti diketahui, daerah Tapanuli selama ini memang identik dengan Kristen. Waktu itu saya belum tahu apa-apa. Tapi, saya bisa merasakan betapa terasingnya menjadi muslim di sana. Bayangkan, di desa saya itu, yang beragama Islam cuma dua keluarga. Termasuk keluarga saya. Selebihnya, pemeluk Kristen yang taat. Akhirnya, keluarga kami bergabung dengan agama kebanyakan di sana. Dan, ayah saya tidak bisa berbuat apa-apa.
Selepas SMA, saya merantau ke Surabaya untuk mencari pekerjaan. Di ibu kota jawa Tunur itu, saya tinggal di rumah paman. Pahit manisnya kehidupan saya kecap di kota Pahlawan itu, Berbagai pekerjaan saya lakukan. Termasuk menjadi tukang batu, juga pemah saya jalani.
Karena di Surabaya kurang prospektif, saya pindah ke Ngawi. Di Ngawi pun saya tak mendapatkan pekerjaan yang pas. Setahun kemudian, saya pindah ke Situbondo, bekerja di sebuah pabrik gula. Kali ini pekerjaan saya cukup menyenangkan. Saya tinggal di perumahan yang disediakan untuk karyawan pabrik tersebut.
Kebetulan, rumah dinas saya itu dekat dengan sebuah pesantren. Teman dan lingkungan pergaulan saya banyak dari kalangan santri. Mereka baik sekali dan ramah perilakunya. Islam benar-benar ditampilkan sebagai agama yang bersahabat, sekaligus mengayomi pemeluk agama yang lain. Keadaan itu menguakkan kembali nostalgia saya tentang Islam yang pernah saya peluk dulu. Dan, kerinduan untuk mempertuhankan Allah mulai menggayuti hati saya.
Walaupun pekerjaan saga boleh dlbilang mapan, tapi yang namanya keinginan untuk meraih sesuatu yang lebih baik selalu tumbuh dalam jiwa saya. Karena itu, pads tahun 1982, saya melamar ke Deperindag dan diterima. Saya lalu ditempatkan di Deperindag Kab. Jember.
Di situlah saya berkenalan dengan seorang gadis muslim berdarah Malaysia. Namanya Siti Nurjannah. Perkenalan itu berlanjut pada kesamaan hati untuk bersama-sama merenda masa depan. Hubungan kami semakin lengket. Dalam pada itu, keinginan saya untuk kembali ke pangkuan Islam semalan menggebu. Lebih-lebih bila teringat pesan ayah bahwa di antara delapan orang anaknya, hanya sayalah yang paling beliau harapkan untuk mewarisi keimanannya.
Dan memang, sejak lahir saya telah mengikuti agama ayah Sedangkan saudara-saudara saya yang lain lebih tertarik pada agama ibu. Harapan ayah itu telah sekian tahun saya sia siakan. Dan, saya merasa berdosa karenanya.
Kembali ke Islam
Akhirnya, pada 16 Juli 1983, saga mantapkan hati untuk setia dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW., yang ditandai dengan membaca dua kalimat syahndat di rumah calon istri saya di Kelurahan Gebang, Jember. Saya bahagia sekali karena telah berhasil memenuhi harapan ayah. Tiga bulan setelah itu, kami bersanding di kursi pelaminan.
Langkah pertama yang saya lakukan setelah kembali menjadi seorang muslim adalah berusaha memahami secara benar apa dan bagaimana Islam itu. Sebab, kendati saya pernah menjadi muslim, namun sedikit sekal yang saya tahu tentang Islam. Justru yang kemudian banyak saya pelajari adalah keluhuran sifat-sifat Yesus. Dan, itu ikut membentuk kepribadian saya.
Selain membaca buku-buku Islam, saya juga banyak berdialog dengan beberapa tokoh (Islam) masyarakat. Adalah K.H. Baharudin Rasyid, mantan anggota DPRD. Beliau adalah orang yang paling sering saya jadikan tempat bertanya tentang hal-hal yang tak saya mengerti. Terutama soal-soal keislaman. Beliaulah guru, sekaligus bapak angkat saya.
Temyata Islam itu amat luas. Ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan. Mulai dari mau pasang alas kaki sampai mau berkumpul dengan istri semua ada aturan atau tata caranya.
Dan yang penting, Islam itu tidak mengenal propaganda, apalagi memaksakan kehendak dalam penyebaran dakwahnya. Hal ini berbeda sekali dengan agama "tertentu". Yang kerap kutemukan, mereka sering menggunakan berbagai propaganda untuk menarik simpati umat lain.
Ada semacam penyesalan atau perasaan bersalah-karena cukup lama saya berpaling dari Islam, yang kadang menusuk jiwa saya. Karena itu, ingin sekali. saya menebusnya dengan memberikan yang terbaik untuk Islam. Termasuk dalam rangka itu adalah mendidik dan membesarkan empat orang anak kami sebagai generasi muda Islam yang tangguh.
Sejak kecil, mereka saya biasakan mengenal Islam. Saya tak ingin "kasus" yang pernah saya alami di waktu kecil, menimpa mereka. Tapi, bukan berarti mereka tak boleh bergaul dengan anak nonmuslim. Bagi saya, siapa saja boleh dijadikan teman, namun dalam soal agama harus ada batas yang jelas. Kita sebagai orang tua dituntut bisa menanamkan dasar keimanan yang kokoh dan senantiasa memantau perkembangan anak anak.
Selain itu, dari kelebihan rezeki yang saya dapat, saya dapat membantu memperbaiki mushala. Sebulan sekali saya mensponsori penyelengaraan pengajian keagamaan di mushala tersebut dan alhamduliilah, sampai sekarang masih tetap berjalan. Sedangkan di masjid, saya bantu-bantu di bagian takmir.
Di sisi lain, saya tak putus asa untuk mencari ilmu dan menambah wawasan. Akhirya, saya berhasil meraih gelar sarjana di Fakultas Hukum Universitas Moch. Sroeji, Jember. Ini semua saya beberkan bukan untuk menepuk dada, tetapi sebagai perwujudan dari rasa syukur, karena saya telah kembali ke jalan yang benar.
Dari mualaf.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.