QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Ng Gek Hua : Dengan Islam Hidup Saya Lebih Damai
11 November 2010 pukul 22:00 WIB
Siti Sarah : Karena Mimpi dan Bisikan Hati
28 Oktober 2010 pukul 22:15 WIB
Frederica Cynthia : Terpaksa Shalat di Kamar Mandi
2 September 2010 pukul 22:45 WIB
I Kadek Hendrawan : Al-Qur'an Membuat Saya Berubah
19 Agustus 2010 pukul 22:40 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 23 Desember 2010 pukul 22:35 WIB

Okto Rahmat Tobing : Menemukan Istri sedang Shalat

Penulis : Indra Widjaja

Nama saya Okto Rahmat Tobing, lahir di Tanjung Pinang, Riau, dari keluarga Kristen Protestan. Ayah saya salah satu pengurus gereja di HKBP Tanjung Pinang atau lebih dikenal dengan Situa HKBP. Sebagai keluarga yang fanatik terhadap agama, saya diharuskan aktif mengikuti kegiatan gereja.

Sebenamya, lingkungan tempat kami tinggal, mayoritas beragama Islam. Tetapi sepengetahuan saya, agama Islam yang mereka anut sebagian besar hanya Islam abangan. Mereka banyak juga yang ikut Natalan, tidak shalat, mabuk-mabukan, bahkan berjudi. Memang, toleransi beragamanya cukup tinggi. Saya sendiri suka mengikuti kegiatan tarawih di bulan Ramadhan bersama teman-teman. Menginjak remaja, saya mulai risih dengan semua itu. Apalagi bila mendengar suara adzan yang membisingkan telinga.

Tamat SMA, saya hijrah ke Jakarta, melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Saya memutuskan kuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan tinggal bersama kakak yang juga seorang aktivis gereja. Saya suka sekali kuliah di kampus tersebut, bahkan aktif mengikuti kegiatan kampus. Salah satu kegiatannya adalah lomba dayung yang diadakan Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. Saya termasuk kontingen yang mewakili kampus UKI, di kota gudeg itu, saya berkenalan dengan gadis beragama Islam dan selanjutnya kami berpacaran.

Setelah kami sama-sama lulus kuliah, saya dan si dia memutuskan tinggal dan mengadu nasib di Jakarta. Niat itu kesampaian, Saya mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan swasta.

Setelah mantap secara ekonomi, saya memberanikan diri datang ke rumah pacar saya itu dan menjelaskan ke orangtuanya mengenai hubungan kami. Tetapi, apa yang saya harapkan sirna setelah orangtuanya mengetahui saya beragama Kristen. la menolak hubungan kami, kecuali bila saya bersedia masuk Islam.

Sejak itu, kami selalu sembunyi-sembunyi menjalin hubungan. Saya sebagai seorang Kristen yang fanatik, ketika itu berniat mengkristenkan pacar saya itu. Berbagai upaya saya lakukan untuk meyakinkan si dia. Ternyata tidak sia-sia. Pacar saya itu pun akhirnya bersedia masuk Kristen.

Saya terus mengajaknya ke gereja untuk mempelajari agama Kristen (Bibel) lebih jauh, dan selanjutnya ia dibaptis di HKBP Bekasi. Setelah itu, kami melangsungkan pernikahan di Gereja HKBP Rawamangun dengan pesta adat tanpa restu kedua orangtuanya.

Setelah enam bulan menikah, tanpa sengaja saya menemukan istri saya sedang melaksanakan shalat. Saya waktu itu sangat marah. Tetapi kemarahan itu saya pendam saja. Saya ingin sekali mengadukan masalah ini kepada kakak saya. Tetapi biarlah saya selesaikan sendiri. Entah dari mana asalnya, kakak saya akhirnya mengetahui masalah ini. Saya dipanggil (disidang) untuk menjelaskan perihal istri saya yang melakukan shalat dan status saya yang masih Kristen.

Sebagai seorang yang berpendidikan dan demokratis, saya mengizinkan istri menjalankan shalat. Hingga suatu ketika, saya diajak istri untuk menemui seseorang di kawasan Tebet. Ternyata orang tersebut adalah seorang mualaf, bernama Dr. Bambang Sukamto.

Di rumah itu juga, saya bertemu dengan KH. Abdullah Wasian, seorang kristolog dan Bapak Abraham David Mendey, mantan pendeta. Saya sempat berargumentasi dengannya. Di antaranya mengenai ayat-ayat Bibel (Alkitab) yang janggal. Juga mengenai Nabi Muhammad yang sebenarnya ada di dalam Alkitab, yaitu yang tertera dalam Perjanjian Lama 18 : 18 yang berbunyi, "Seorang nabi akan dibangkitkan di antara saudara-saudara mereka seperti engkau ini, apakah engkau menaruh firmanku pada mulutnya ia akan mengatakan kepada mereka segala yang kuperintahkan."

Jadi, di Perjanjian Lama itu ada disebutkan tentang Nabi Muhammad. Tetapi ayat tersebut tak pernah diakui oleh orang-orang Kristen. Lalu, saya juga diberi kaset video tentang perjuangan Nabi Muhammad SAW. Walaupun dengan bahasa Arab, tetapi saya menyukainya.

Saya mulai membandingkan penyebaran agama Kristen dengan Islam yang sangat berbeda. Dalam film tersebut, sosok Nabi Muhammad tidak divisualkan (digambarkan). Itu karena Nabi Muhammad adalah sosok yang suci dan agung. Di film tersebut, saya juga menyaksikan bagaimana perjuangan kaum muslimin serta siksaan-siksaan yang mereka terima dalam mempertahankan agama Allah.

Sejak itu, saya semakin tertarik mempelajari Islam lebih jauh. Lalu, saya menernui KH. Abdullah Wasian. Ia menjelaskan bahwa Yesus (Isa Almasih) itu penyebar Islam, dan sampai sekarang beliau tidak mati serta tidak disalib. Karena, menurutnya, rasul itu tidak ada yang mati sengsara. Saya mencoba merenungi perkataannya.

Saya terus berdiskusi dengan kristolog ini hingga saya yakin betul bahwa Islam adalah agama yang benar, dan selanjutnya saya menyatakan diri masuk agama Islam. Maka pada tanggal 5 Juli 1994, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat bersama istri yang pernah saya kristenkan (murtadkan) di Masjid Al-Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan, disaksikan oleh jama'ah shalat dhuha.

Selanjutnya, untuk memantapkan keislaman, khususnya ibadah shalat, saya dibimbing langsung oleh istri saya. Sedangkan masalah tauhid, saya dibimbing oleh seorang mualaf yang sekarang menjadi da'i dan Ketua Yayasan Pendidikan Mualaf, Drs. H. Syamsul Arifin Nababan. Alhamdulillaah, kini, saya dipercaya menjadi pengurus Masjid At-Taubah di lingkungan tempat kami tinggal.

Dari mualaf.com

http://indra.web.id

Suka
Aryanto Abdul Latif dan Nurliyanti menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Hamzah | Wiraswasta
KotaSantri.com, sejukkan hati!!! Peace ah. SaLam ukhuwwah wat hamba Allah se-alam dunia.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1288 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels