HR. Ahmad : "Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 9 Juni 2011 pukul 15:15 WIB

Ahmad Yasien : Hikmah dari Usaha yang Collapse

Penulis : Indra Widjaja

Saya tak pernah menduga jika usaha saya akan menjadi collapse alias bangkrut, sebagaimana saya tak pernah menduga jika akhirnya saya menjadi seorang muslim. Memang, tak ada hubungannya antara pekerjaan dan soal keimanan. Namun, justru saya dipusingkan oleh usaha saya yang amburadul. Akhirnya langkah saya tergiring untuk menuju pada suatu keadaan, yang kemudian menggugah nurani saya untuk beriman kepada Allah SWT.

Saya dilahirkan di sebuah kota kecamatan, yaitu Kecamatan Mumbulsari, 20 km sebelah tenggara kota Jember, Jawa Timur, pada 6 Juli 1949. Saya anak kedua dari lima bersaudara. Kami semua menganut agama Kristen secara turun-temurun. Sebagaimana umumnya WNI keturunan Tionghoa, mata pencarian kami adalah berdagang.

Papa saya mempunyai toko bahan-bahan bangunan yang lumayan lengkap. Di tengah kesibukannya, papa tak lupa mengingatkan anak-anaknya agar mendekatkan diri kepada Tuhan. Tapi, saya sendiri memang tak begitu tertarik dengan soal agama. Mama sampai menjuluki saya si bandel. Tapi, kalau soal pekerjaan, saya terkenal ulet.

Setelah menikah, saya juga membuka toko bahan-bahan bangunan. Saya juga mencoba menjadi kontraktor kecil-kecilan. Semakin lama, usaha saya semakin berkembang. Tak sia-sia saya kuliah di ITS, meski tak sampai tamat. Untuk kawasan Jember, CV saya sudah cukup terkenal. Sudah banyak proyek pembangunan sarana fisik Pemda yang saya garap. Bahkan, beberapa kali saya mendapat tender proyek di luar Jember.

Suatu ketika, saya memenangkan tender proyek pembangunan jembatan. Saya masih ingat, waktu itu September 1987. Dalam kalkulasi bisnis, saya akan memperoleh keuntungan yang cukup besar dari proyek itu. Tapi sayang, setelah hampir selesai dikerjakan, jembatan itu ambruk.

Hujan deras selama dua hari berturut-turut menyebabkan air sungai meluap. Tiang penyangga jembatan tak kuat menahan gempuran banjir. Akhirnya badan jembatan bergeser dan kemudian roboh. Selang lima hari setelah itu, toko material saya terbakar. Semua isinya ludes terbakar api.

Saya bingung sekali. Sejak saat itu, usaha saya terus melorot. Kendati saudara-saudara saya beberapa kali memberi bantuan untuk mendongkrak usaha saya tersebut, namun tetap tak berhasil. Utang saya menumpuk di bank. Kehidupan saya semakin terpuruk.

Dalam kesulitan itu, atas petunjuk seorang teman, saya mendatangi seorang ustadz, namanya Ustadz Abu Bakar. Maksud saya, selain ingin minta nasihat darinya, saya juga ingin tahu masa depan bisnis saya. Singkat cerita, beliau menganjurkan agar saya meninggalkan usaha saya yang lama, dan beralih ke bidang usaha agrobisnis.

Ternyata benar. Usaha baru ini cukup menguntungkan. Kehidupan saya pun berangsur membaik, meski tidak sama dengan kejayaan yang pernah saya raih dulu.

Saya menyadari bahwa itu semua tak lepas dari "pertolongan" Ustadz Abu Bakar. Karena itu, saya tak ingin berlagak seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Hampir setiap minggu saya berkunjung ke rumah beliau. Anehnya, beliau tak suka kalau saya beri uang. Beliau menyarankan jika saya punya kelebihan rezeki lebih baik disumbangkan untuk kepentingan umum. Akhirnya saya punya ide untuk membangun mushala di samping rumah beliau.

Entah mengapa, setelah membuat mushala itu, jiwa saya lebih condong kepada Islam. Kadang saya merasa malu dan heran, mengapa saya membangun mushala? Padahal, saya bukan bagian dari pengisi tempat ibadah itu. Seakan ada panggilan nurani yang mengajak saya ke pangkuan Islam.

Tanpa ada pengaruh dari siapa pun, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Di mushala yang saya bangun dengan ukuran 4 x 5 m itu, pada 1 Agustus 1996 saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan dibimbing oleh Ustadz Abu Bakar dan disaksikan oleh beberapa anggota jama'ah pengajian. Nama saya pun diganti menjadi Ahmad Yasien. Resmilah saya menjadi umat yang mengimani Al-Qur'an sebagai kitab sucinya.

Saya bersyukur sekali, karena kepindahan saya ke dalam agama Islam tidak menimbulkan reaksi negatif dari sanak kerabat saya. Sebagian dari mereka memang kecewa, namun tak sampai mengambil jarak, apalagi memutuskan tali persaudaraan. Mungkin mereka memahami, atas dasar apa, dan karena siapa, sehingga usaha saya bisa bangkit setelah sebelumnya collapse dan sempat sempoyongan.

Setahun kemudian, istri saya yang telah memberi saya tiga orang anak juga mengikuti jejak saya. Terus terang, hal ini memang sangat saya harapkan dan saya tunggu-tunggu. Sungguh, ini merupakan karunia tersendiri yang patut saya syukuri. Hati saya lega sekali karena istri saya sudah seagarna dengan saya. Sebab jika tidak, terlalu susah untuk menyeragamkan tujuan, ibarat di dalam satu kapal dengan dua nahkoda.

Dari mualaf.com

http://indra.web.id

Suka
Tatang Sutarno, wuri handayani, dan Nurliyanti menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Syahroni | Swasta
Subhanallah, KSC sangat bermanfaat bagi seorang hamba yang ingin menjalin silaturahim guna mencari keberkahan hidup. Saya juga berharap kiranya media ini bisa membantu saya dalam mengelola panti pendidikan anak-anak yatim.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1175 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels