HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 28 April 2011 pukul 14:00 WIB

Tawina : Bergerilya dalam Ibadah

Penulis : Indra Widjaja

Keinginan untuk pindah keyakinan adalah cita-cita saya sejak lama. Saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga Kristen Katolik. Namun, kami tinggal di lingkungan masyarakat muslim. Ayah saya dulunya penganut Islam, kemudian masuk Kristen karena menikah dengan ibu. Kedua orangtua menginginkan saya menjadi penganut Kristen Katolik yang taat. Tapi, hati nurani saya mengatakan tidak. Sebaliknya, saya malah ingin menjadi umat Nabi Muhammad SAW.

Keinginan untuk masuk Islam itu, berawal sejak kecil saat saya melihat umat Islam di sekitar rumah saya menjalankan ibadah keseharian, seperti shalat lima waktu, belajar mengaji, serta merayakan peringatan hari-hari besar Islam (PHBI). Saya sangat senang melihat kaum muslimin menjalankan perintah agamanya yang dilakukan secara rutin.

Dalam menjalankan ibadah, mereka tidak merasakan beban yang berat, walaupun sehari semalam harus shalat lima waktu dan ditambah lagi dengan ibadah-ibadah sunnah lainnya. Saya bertekad untuk bisa seperti mereka. Saya ingin ibadah setiap hari, bukan seminggu sekali. Dengan ibadah setiap hari, saya yakin Tuhan akan dekat dengan kita.

Menurut mereka, saat saya tanyakan tentang ibadah-ibadah itu, shalat lima waktu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Jika seorang muslim melalaikan shalat lima waktu itu, ia berdosa. Setiap muslim juga diharuskan untuk belajar mengaji, karena dengan belajar mengaji ia akan dapat memahami isi kitab suci Al-Qur'an. Peringatan hari besar Islam merupakan suatu peringatan atas setiap kejadian atau peristiwa, dengan harapan melalui peringatan tersebut kaum muslimin dapat meningkatkan kualitas ketakwaannya.

Keterangan ini semakin membuat saya tertarik kepada Islam. Dorongan untuk beranjak ke arah itu semakin besar. Saya tidak bisa membohongi hati nurani saya sendiri. Saya berkeyakinan bahwa Islam adalah agama yang paling sempuma dibanding agama lainnya, khususnya agama yang saya anut. Saya mulai meragukan ajaran-ajaran agama saya sendiri. Saya mulai jarang pergi ke gereja dan bahkan sangat jarang membuka dan membaca Alkitab.

Keinginan memeluk agama Islam rasanya ingin saya segerakan. Tapi, saya takut kepada keluarga saya, terutama ayah. Jika mereka tahu, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan saya terima. Saya mungkin tidak boleh tinggal di rumah lagi. Keinginan itu, untuk sementara, saya simpan dalam-dalam.

Terus terang, saya tidak bisa membohongi nurani saya sendiri. Saya sangat terkesan pada ajaran Islam. Saya selalu bingung dan terkadang merinding, saat mendengar suara alunan adzan dan dzikir. Di tengah kebingungan itu, saya merasakan kesejukan dengan suara-suara itu.

Suara-suara itu seakan-akan memanggil diri saya untuk segera memeluk Islam. Menurut saudara-saudara saya dari pihak ayah yang muslin, adzan merupakan seruan atau panggilan bagi kaum muslim untuk segera menunaikan shalat. Dan, dzikir adalah amalan yang dilakukan setelah shalat, biasanya berbunyi Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar.

Selain itu, saya juga pernah bermimpi didatangi empat buah bulan yang bersinar terang dan bermacam-macam coraknya, menghampiri diri saya dan seakan-akan mengajak saya untuk menggapainya. Saya tidak tahu apa makna mimpi itu. Menurut saya, itu mungkin suatu pertanda atau hikmah yang sangat besar yang akan saya terima.

Semua kejadian itu saya sembunyikan sendiri agar keluarga tidak tahu. Tapi, saya juga butuh penyelesaian atas semua kejadian itu. Akhirnya, saya cerita kepada saudara-saudara ayah yang muslim. Mereka dengan rasa gembira menyambut keingian saya. Mereka berjanji untuk tidak menceritakan kepada keluarga di rumah. Atas saran mereka, saya harus belajar sendiri agar tidak timbul adanya pemaksaan atas perpindahan keyakinan saya itu. Selain kepada mereka, mimpi itu juga saya ceritakan pada bapak guru agama di sekolah.

Alhamdulillah, taufik dan hidayah Allah SWT akhirnya datang menghampiri diri saya. Dengan dibimbing oleh Bapak Saleh Abu Bakar, saya mengikrarkan diri menjadi seorang muslimah di mushala sekolah pada tanggal 15 April 1997. Dua kalimat syahadat saya ucapkan perlahan-lahan. Saya terharu. Mata saya berkaca-kaca saat ikrar syahadat itu berlangsung. Teman-teman yang menyaksikan pun larut dalam keharuan itu.

Setelah proses pengucapan syahadat selesai, saya mendapat bimbingan rohani. Bapak Saleh Abu Bakar menjelaskan perihal agama Islam. "Semua teman-temanmu yang seagama adalah saudaramu," katanya. "Dan semua aktivitas hidup jika diniatkan ibadah, maka akan berpahala," jelasnya panjang lebar.

Terus terang, saya tidak dapat menyembunyikan rasa gembira. Saya gembira dengan wejangan dan nasihat guru agama di sekolah saya itu. Segera saya minta beliau untuk mencarikan nama pengganti buat saya. Oleh beliau diberikan nama Sarah. Kegembiraan ini segera saya ungkapkan dengan sujud syukur. Keinginan untuk menjalankan dan meyakini kata hati nurani telah terwujud. Pindah keyakinan yang menjadi cita-cita saya sejak kecil, terlaksana sudah.

Islam yang kini saya yakini segera saya jalankan. Saya mulai belajar tentang ajaran-ajaran Islam dari orang-orang terdekat, selain dengan guru agama. Mereka sangat mendukung dan membantu serta membimbing saya. Saya belajar shalat, membaca Al-Qur'an, dan aktivitas keagamaan lainnya. Agar tidak ketahuan, saya terpaksa bergerilya untuk beribadah.

Misalnya, shalat lima waktu. Saya terkadang shalat di rumah tetangga atau di sekolah atau tempat-tempat yang jauh dari rumah. Mengapa ini saya lakukan? Karena saya takut ayah tahu dan saya belum siap untuk berterus terang. Ayah saya sangat ketat dalam menerapkan peraturan di rumah. Walaupun begitu, saya tetap bertekad, sekali Islam tetap Islam.

Walau menjalankan ibadah secara "gerilya", saya ingin menjadikan diri saya seorang muslimah yang shalehah. Saya bertekad untuk menjalankan semua perintah agama secara baik. Mimpi yang pernah saya alami, akhirnya saya temukan maknanya, yakni ajakan dan dorongan untuk masuk Islam. Keputusan yang saya ambil ini adalah keputusan yang terbaik bagi diri saya.

Dari mualaf.com

http://indra.web.id

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Teguh Yulyono | CSA Dubai Airport
Saya sangat gembira kembali bisa membuka dan membaca tulisan rekan-rekan yang memberikan pencerahan. Untuk admin : U R survival after so long with many challenges. Keep it up your spirit, your website had changed a lot of people who read articles on it. One of them is me. Thank you so much. Insya Allah bisa menjadi amalan kebaikan dan mendapat nilai yang sempurna di mata Allah SWT.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1215 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels