HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Santri
Ikmal Auliyak
Nyantri
Tanggul
Listyo Nurdono
Graphic Designer
Bandung
atika ulfia
pelajar
kudus
Forum
Suara
Farhan : Jadilah untuk tenang..... Hanya diri ini dan tuhan yg akan selalu mengerti
Farhan : Apapun perkataanku, hanya untuk diriku.. yg lain hanya akan mendengar, walaupun itu kebaikan..
Farhan : Diriku kuat,, tapi tidak dari dalam.. :'(
Tulisan
Santripedia
Berdiskusi

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya” (QS 22 Al Hajj : 8)

Dalam menapaki kehidupan kita sering dihadapkan pada satu persoalan yang memerlukan pemecahan bersama. Diskusi merupakan jalan keluar yang baik. Pandangan terhadap suatu masalah yang kita sampaikan belum tentu bisa diterima oleh orang lain, dan sebaliknya. Berbeda pendapat bukan sesuatu yang tabu, sebab di dalam Al Quran pun terdapat ayat yang memungkinkan orang berbeda pendapat.

Agar satu persoalan bisa diterima oleh semua pihak maka diskusi merupakan satu keniscayaan. Dan agar dalam berdiskusi tidak mengalami jalan buntu, ayat di atas telah memberi pedoman bagi kita untuk berdiskusi dengan baik, yaitu :

Pertama, kita perlu untuk menyamakan landasan ilmu terlebih dahulu. Kacamata apa yang akan kita pakai. Jika kita berdiskusi dengan menggunakan kacamata ilmu yang berbeda tentu tidak akan menyelesaikan masalah, malah mungkin bisa memunculkan masalah baru. Ilmu syari’ah mengajarkan kalau berzikir tidak perlu bersuara keras, tapi ilmu tarekat justeru mewajibkan kalau berzikir harus bersuara keras. Keadaan seperti inilah yang sering memunculkan ego ‘aku paling benar’ padahal orang lain juga mengklaim hal yang sama.

Kedua, kita perlu untuk menyamakan hudan atau petunjuk. Mimpi tidak bisa digunakan sebagai hudan, kecuali yang bermimpinya adalah Rasul (QS Al Fath : 27). Diskusi yang menggunakan mimpi sebagai landasan kebenaran tentu tidak bisa diterima. Hudan harus diwujudkan dalam fakta nyata.

Ketiga, kita perlu menyamakan kitab acuan. Jika dalam berdiskusi yang satu menggunakan Al Quran sebagai acuan sedangkan yang lain menggunakan primbon tentu tidak akan nyambung.

Dengan berpedoman pada ayat di atas tentu apapun yang akan didiskusikan pasti akan menghasilkan yang terbaik.

Bagikan
Kontributor
H. Akbar
12 September 2011 pukul 00:45 WIB

Dipersilahkan untuk menyebarkan artikel ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

zaenudin | tutor
Memang Hebattt, bisa nambah ilmu juga sahabat.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2588 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels