|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Kamis, 21 November 2013 pukul 18:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Ketika sedang makan siang di sebuah warung gado-gado bersama teman, kami melihat poster seorang anggota DPR yang mencalonkan menjadi presiden dalam konvensi sebuah partai. Teman saya bertanya mengenai tokoh yang dimaksud pada ibu penjual gado-gado yang kebetulan rumahnya persis di depan rumah anggota DPR tersebut.
Awalnya, teman saya memuji sang tokoh. Namun setelah mendengar penjelasan dari ibu penjual gado-gado, teman saya berubah pikiran. Saat bincang-bincang tersebut, ibu penjual gado-gado bercerita mengenai kehidupan bermasyarakat sang tokoh juga beberapa harta milik sang tokoh di sekitar lingkungannya itu.
Ternyata, seorang tokoh yang katanya wakil rakyat tersebut sungguh tidak merakyat. Jangankan untuk bersosialiasi dengan warga sekitar, diminta sumbanganpun susah sekali untuk berpartisipasi. Pun ketika ia pergi dan pulang ke rumah, selalu naik dan turun dari kendaraan di halaman rumah. Apakah begitu sikap seorang wakil rakyat?
Memang, tidak semua wakil rakyat seperti itu. Namun tidak dapat dipungkiri, jika memang sebagian di antara mereka tidak mencerminkan sebagai seorang wakil rakyat yang amanah. Hanya segelintir saja yang benar-benar amanah sebagai wakil rakyat. Padahal, amanah itu sangat berat pertanggungjawabannya.
Mengenai sikap wakil rakyat tersebut dan amanah, saya pernah membaca sebuah tulisan dari KH Arifin Ilham, sebagai berikut :
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui." (QS. Al-Anfal [8] : 27).
Menjaga amanah memang berat, bahkan mahaberat. Makhluk langit, bumi, dan gunung pernah ditawari untuk mengemban amanah-Nya, tapi semua menolaknya. Semua makhluk Allah yang notabene jauh lebih besar dari makhluk manusia ini merasa berat dan sangat khawatir kalau nanti tidak akan kuat mengembannya. (QS. Al-Ahzab [33] : 72). Hanya manusia, yang sok merasa sanggup dan kuat mengemban amanah-Nya. Meski tidak sedikit yang lulus dan sanggup mengemban amanah-Nya seperti para nabi dan rasul dan orang-orang shaleh yang telah dipilih oleh Allah.
Semoga kita, khususnya saya pribadi, dapat mengemban amanah dengan baik.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.