|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Ahad, 3 November 2013 pukul 19:19 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Suatu hari, ketika sedang bersantap siang di sebuah warung makan, datang seorang bapak tua menawarkan dagangannya. Ia memerlihatkan beberapa pernak-pernik yang terbuat dari kaca. "Tiga ribu lima ratus," katanya. Saya pastikan lagi berapa harganya, dan ia menjawab dengan jawaban yang sama.
Tanpa basa-basi, saya langsung merogoh saku dan membeli dua buah pernak-pernik serta memberikan uang kembalian untuknya. Teman saya yang dari tadi memerhatikan, nyeletuk pelan, "Kenapa gak ditawar? Kan lumayan tuh." Refleks saya jawab, "Gak punya perasaan ya? Pedagang dah tua gitu masih ditawar?"
Temanpun membeli pernak-pernik yang sama dan meminta saya untuk membayarkannya. Sama seperti sebelumnya, saya bayar dan memberikan uang kembalian untuk bapak tua itu. Setelah bapak tua itu beranjak, teman saya kembali nyeletuk pelan, "Harusnya kita dapat bonus. Kan dah beli empat. Lumayan kan gratis 1."
Lalu saya 'semprot' teman saya tersebut dengan ocehan. Intinya, daripada kita memberikan uang pada pengemis yang kerjanya hanya meminta-minta, lebih baik kita memberikan uang pada mereka yang bekerja keras, misalnya berdagang, dengan membeli dagangannya, walaupun sebenarnya kita tidak membutuhkan barang tersebut.
"Mmm... Ya, ya. Dengan begitu, berarti kita telah menghargai kerja kerasnya," jawab teman saya pelan.
Banyak saya temui bapak tua yang menjajakan barang dagangan di pinggir jalan atau menawarkan dari rumah ke rumah. Dan saya memang membiasakan untuk membeli sesuatu pada mereka yang bekerja keras dengan berdagang, sebagai bentuk penghargaan akan jerih payahnya dalam menjemput rezeki.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.