Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Ketika Badai Fitnah Menerpa
4 September 2013 pukul 20:20 WIB
Tabayyun itu Mencegah Fitnah
29 Agustus 2013 pukul 20:00 WIB
Insya Allah Syahid
23 Agustus 2013 pukul 20:20 WIB
Jujur karena Benar, Bohong karena Salah
17 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB
Hikmah di Balik Niat Silaturrahim
11 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 10 September 2013 pukul 20:02 WIB

Bakti yang Tak Seberapa

Penulis : Mujahid Alamaya

Di usianya ketika memasuki kepala 6, walaupun sudah pensiun, ayah masih tetap bekerja menjemput rejeki untuk menafkahi keluarga. Kini, di usianya yang sudah memasuki kepala 7, ayah sudah tidak bekerja lagi. Selain faktor usia, juga karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan akibat sakit yang dideritanya.

Dengan kondisi tersebut, otomatis ayah hanya mengandalkan anak-anaknya. Dan kakak saya yang pertama menjadi andalan ayah, karena kehidupan ekonominya lebih mapan dibanding anak-anaknya yang lain. Walaupun demikian, sayapun berusaha semaksimal mungkin untuk memerhatikan ayah.

Suatu ketika, ayah meminta saya membelikan sesuatu. Ketika saya hendak pergi ke toko, ayah memberi saya uang. Saya tolak dan saya katakan bahwa saya yang akan membayarnya. Pun ketika saya berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan ayah yang lain, ayah selalu berkata, "Maaf, ayah banyak merepotkan."

Deg... Tersentak hati ini. Baru sedikit saja saya berkorban untuk ayah, ia sudah merasa tidak enak kalau telah merepotkan saya. Padahal dulu, ketika saya meminta sesuatu, kadang dengan merengek, ayah selalu memenuhinya tanpa merasa direpotkan. Maka hinalah saya jika merasa direpotkan ketika memenuhi kebutuhan ayah.

Apa yang saya lakukan saat ini untuk memenuhi kebutuhan ayah, tidaklah cukup untuk membalas segala kebaikan dan pengorbanan orangtua pada anak-anaknya. Sebesar apapun dan sampai kapanpun bakti anak pada orangtuanya, tak akan sanggup membayarnya. Apalagi bakti saya yang tak seberapa itu.

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

oblongsantri | desainer dan konveksi
Banyak referensi yang bisa didapat, untuk perkembangan ide dan kreasi di oblong santri. Keren.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1133 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels