|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
|
http://samuderaislam.blogspot.com |





Rabu, 10 Juli 2013 pukul 21:00 WIB
Penulis : Eko Prasetyo
Kadang godaan untuk hidup glamor itu menyapa. Misalnya, memiliki beberapa gadget canggih, menunggangi mobil mewah nan mahal ke mana pun pergi, dan ragam kesenangan duniawi lainnya. Godaan tersebut kian menjadi-jadi ketika melihat sejawat yang larut di dalamnya.
Bekerja di lingkungan para profesional semakin menguatkan arus itu. Terkadang saya menjadi olok-olok sebagian di antara mereka hanya karena menggunakan ponsel yang tidak branded. ”Sudah waktunya dibuang tuh,” ejek mereka. Saya tidak menggubrisnya.
Saya meyakinkan diri bahwa saya belum membutuhkannya. Yang saya perlukan dari ponsel adalah fungsinya untuk mengirim pesan pendek dan menerima telepon dari kolega, keluarga, tetangga, dan bos. Ponsel yang saya pakai sekarang saat ini LG C100 yang saya beli dalam kondisi bekas seharga Rp 250 ribu.
Memang dalam waktu dekat saya akan menggantinya. Tapi, itu semata saya lakukan karena perangkat komunikasi tersebut sering ngadat. Apalagi, telepon genggam saya yang satu ini beberapa kali jatuh.
Beberapa kali pula saya diingatkan untuk memanfaatkan mobil yang ada. Namun, saya telanjur senang pergi ke mana saja dengan bersepeda motor. Selain akomodasinya lebih murah, mobilitasnya lebih terjaga. Lagi pula, titik kemacetan di Surabaya dan Sidoarjo kian bertambah saja. Kepadatan arus lalu lintas semakin sulit diprediksi saat ini. Karena itu, memacu kendaraan roda dua adalah alasan yang rasional. Mobil hanya saya manfaatkan apabila pergi ke luar kota seperti mudik atau urusan lain.
Soal hidup sederhana, sejak menikah saya sudah memegang prinsip itu. Untung, saya memiliki istri yang mau memahami hal ini. Sejak merajut bahtera rumah tangga, saya awalnya khawatir karena ia telah terbiasa hidup enak. Keluarganya begitu terpandang, disegani, dan sangat mampu dari sisi ekonomi.
Ketika awal menikah, ia mau saja saya ajak untuk kos dulu. Sebagian uang gaji, tunjangan, dan penghasilan lain kami tabung. Setelah setahun berumah tangga, kami membeli rumah sederhana di kawasan Sidoarjo Barat.
Namun, godaan-godaan untuk bergaya hidup mewah itu selalu saja mengekor. Tetapi, prinsip harus tetap ditegakkan. Di rumah, saya menerapkan aturan khusus kepada istri saya. Bahwa tiap bulan sebagian gajinya harus disisihkan untuk infak sekecil apa pun itu. Demikian pula saya. Alhamdulillah, kehidupan kami tidak pernah kekurangan.
Soal makan, saya tidak rewel. Sesederhana apa pun menunya, apa pun masakan nyonya di rumah selalu saya santap dengan lahap. Mau tempe goreng dengan sambal kecap, ayo saja. Tidak ada daging atau ayam goreng bukan kiamat, gengsi tidak akan runtuh di rumah kami. Bahkan, sahabat saya dari IGI, Andi Yasin dan Bambang Prayitno, pernah saya ajak mengganyang menu yang amat sederhana. Untuk ukuran tamu selevel mereka, sebenarnya saya merasa tidak enak hati dengan jamuan seperti itu. Namun, ini sebenarnya sudah yang paling istimewa yang saya punya.
Kadang jeratan keinginan untuk selalu makan menu lezat ala restoran selalu hinggap. Niat dan uang ada. Namun, itu urung terwujud apabila saya selalu ingat foto seorang anak perempuan yang mengais makanan sisa. Foto ini pernah saya pakai dalam sebuah pelatihan menulis di Manulife. Miris rasanya.
Desakan perut untuk menyikat santapan mewah pun sirna seketika. Orang-orang yang berada ”di bawah” kita ternyata masih banyak. Harus ada rem. Dan rem itu adalah hidup sederhana. Bulan Ramadan merupakan momen yang tepat untuk mengkaji kembali hakikat hidup sederhana dan menerapkannya. Merasakan keprihatinan saudara-saudara kita yang belum tentu bisa makan layak sehari tiga kali. Menggedor toleransi. Menjadikan hidup lebih bermakna.
http://samuderaislam.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.