|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
|
http://jamilazzaini.com |
|
http://facebook.com/jamilazzaini |
|
http://twitter.com/jamilazzaini |





Sabtu, 1 Desember 2012 pukul 13:00 WIB
Penulis : Jamil Azzaini
Di rumah kami, ada kebiasaan mengadakan taklim atau kajian khusus untuk anak-anak saya, tiga kali dalam sepekan. Taklim berlangsung antara 15-30 menit, seusai shalat Maghrib hingga menjelang shalat Isya. Pemateri utama taklim adalah istri saya, sementara giliran saya adalah ketika saya ada di rumah.
Tadi malam adalah giliran saya memberikan taklim. Saya bercerita tentang seorang guru yang memberikan ujian kepada murid-muridnya. Sang guru memberikan satu burung merpati dan sebilah pisau kepada masing-masing muridnya. “Potonglah burung ini di suatu tempat yang kamu tidak dilihat oleh siapapun,” kata sang guru kepada muridnya.
Para murid segera pergi ke berbagai penjuru, mencari tempat yang tidak bisa dilihat siapapun. Ada yang pergi ke hutan, ke gua, ke kolong jembatan, dan lain-lain. “Ke hotel atau toilet, pak,” ujar anak bungsu saya, Izul (kelas 4 SD), menambahkan.
Setelah beberapa saat kemudian para murid kembali dan dengan bangga satu per satu. “Pak guru, burung ini saya potong di tempat yang tidak dilihat siapapun,” ujar mereka kompak. Namun ada satu murid yang masih membawa burung itu dalam keadaan hidup. Para murid lain mengejeknya. “Kamu gak nurut sama pak guru. Dasar pemalas kamu!” ejek mereka.
Melihat suasana seperti itu, akhirnya sang guru menenangkan murid-muridnya dan mendekati muridnya yang membawa burung yang masih hidup. “Anakku, mengapa tidak kau potong burung itu?” tanyanya. Dengan takut sang murid menjawab, “Bukankah pak guru meminta saya memotong burung ini di tempat yang tidak dilihat siapapun? Padahal di manapun saya berada, Allah SWT selalu melihat saya. Dia Maha Melihat, pak guru.”
“Nah anakku, bapak dan mamamu tidak bisa mengawasimu sepanjang waktu. Tetapi ingatlah, Allah Maha Melihat, Allah Mahatahu dan Allah Maha Mendengar. Bapak serahkan pengawasanmu kepada Allah SWT. Dan ketahuilah Allah itu bisa melihat semut hitam di atas batu hitam di tengah malam yang gelap gulita,” nasihat saya kepada anak-anak.
Saat diberi kesempatan untuk tanya jawab, suasana semakin seru. Banyak pertanyaan lucu yang diajukan anak-anak saya. “Memang mata Allah banyak ya, pak, kok bisa melihat kita semua? Pak, bidadari di surga berbusana gak, ya? Di surga bisa main bola gak, pak? Di surga aku bisa naik mobil Ferrari, gak?”
Suasana seperti itu, bagi Anda mungkin biasa, tetapi bagi saya itu sangat menyenangkan. Selain merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai, itu bisa menjadi media komunikasi yang sangat indah antara kita dan buah hati kita.
Ayo, ciptakan suasana hangat seperti itu, walau sebentar tetapi rutin. Saya yakin, itu akan mengisi relung-relung batin seluruh anggota keluarga yang terkadang hampa. Tidak percaya? Cobalah, Anda akan merasakannya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Jamil Azzaini sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.