|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|





Senin, 2 Juli 2012 pukul 09:45 WIB
Penulis : Muhammad Hilmy
Berbicara soal impian, saya teringat awal mula saya ikut MLM (Multi Level Marketing) yang banyak menekankan perlunya impian. Baru ketemu dengan upline, sudah dicekoki dengan impian, impian, dan impian. Hingga saya berpikir, “Ini bisnis apaan isinya cuma ngimpi doang?” Rata-rata impian yang dijabarkan upline saya seputar memberangkatkan orangtua haji, membahagiakan orangtua, dan financial freedom. Bahkan kita disuruh sampai nulis buku impian dan menempelkan target kita di tembok. Duh, ini bisnis penuh mimpi ya. Intinya, saya meremehkan kekuatan impian dan mimpi dalam mencapai keberhasilan di bisnis MLM.
Empat tahun berlalu sejak saya keluar dari MLM, akhirnya saya sadari pentingnya sebuah impian dalam menjalankan hidup dan bisnis. Impian yang dulu saya remehkan, dream book yang dulu saya anggap buang waktu, ternyata bermanfaat untuk memompa semangat di saat sedang galau. Dulu impian saya muluk banget, bisa punya mobil BMW, membelikan mobil Audi buat istri, dan yang muluk-muluk lainnya. Justru kemulukan itu yang membuat impian menjadi sangat tidak realistis. Justru impian bisa menjadi pemompa semangat jika bertahap. Misal anda baru buka bisnis makanan, jangan langsung mimpi restoran anda bisa buka cabang di Prancis, Itali, atau Arab Saudi. Impikan bahwa restoran anda akan beromset Rp. 3 juta sehari. Ini lebih realistis. Setelah impian tersebut terkejar, mulai impikan restorannya beromset Rp. 10 juta sehari, dan seterusnya. Impian juga ada tahapan, tidak ujug-ujug langsung besar.
Bermimpi pun harus detil, kapan impian tersebut akan diraih. Kalau tidak detil, maka tak ada semangat dalam mengejarnya kan? Anda bermimpi punya penghasilan Rp. 10 juta sebulan, tapi gak sebut tanggal berapa mau dicapai, tahu-tahu baru dikasih Tuhan 20 tahun lagi? Mau? Makanya, kita musti detil. Bawa impian itu ke dalam do'a, detilkan, dan berikhtiarlah. Ternyata impian memang penting, tapi jangan mimpi di siang bolong ya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Hilmy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.