Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
Alamat Akun
http://jampang.kotasantri.com
Bergabung
17 April 2012 pukul 17:47 WIB
Domisili
DKI Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS
Tulisan Rifki Lainnya
Toleransi itu Membiarkan
30 Desember 2013 pukul 18:00 WIB
Taubat
16 Desember 2013 pukul 20:00 WIB
Berbagi Apa yang Dimiliki
13 Desember 2013 pukul 20:00 WIB
Lelaki yang Tak Pernah Melihat Anaknya
8 Desember 2013 pukul 22:00 WIB
Dua Sisi
2 Desember 2013 pukul 20:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 20 April 2012 pukul 09:30 WIB

Memancing di Kolam Jodoh

Penulis : Rifki

Dahulu, di kampung saya ada sebuah tempat pemancingan yang terdiri dari dua buah danau buatan. Sering saya pergi melintasi tempat tersebut karena kebetulan tempat yang saya tuju harus melewatinya. Sering pula saya pergi ke tempat tersebut bersama teman-teman sepermainan untuk melihat para pemancing di sana.

Pernah satu kali, ketika saya dan teman-teman bermain di situ, salah seorang pemancing meminta kami mencari cacing untuk dijadikan umpan. Setelah selesai mencari cacing, kami diberikan upah yang lumayan bagi ukuran kami untuk jajan saat itu.

Mungkin ada sebuah pertanyaan di benak orang-orang yang tidak memiliki hobi memancing tatkala melihat para pemancing tersebut rela berlama-lama menunggu umpannya dimakan ikan. Lama-lama menunggu, bisa jadi bukan ikan yang didapat, tapi stres yang datang. Bukankah kalau memang butuh ikan, cukup pergi ke pasar dan langsung beli?

Memang, memancing bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Memancing butuh modal berupa alat pancing yang lengkap dan bisa jadi harganya tidak murah. Begitu pula dengan umpan yang harus disediakan untuk bisa menarik ikan-ikan agar memakannya. Bahkan jika ada yang senang memancing di laut lepas, bisa dibayangkan biaya tambahan untuk mengantarkannya ke tempat tersebut.

Selain masalah biaya atau ongkos itu, kesabaran yang tinggi sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Lantas, kenapa para pemancing tersebut mau berlama-lama menunggu?

Setiap pemancing pasti akan stres jika dia hanya menunggu kapan kail yang telah dilemparnya bergoyang-goyang sebagai pertanda ikan sudah memakannya. Untuk mencegah tersebut, sepertinya mereka melakukan hal-hal lain selama masa menunggu tersebut. Apa itu?

Selama menunggu, seorang pemancing bisa menikmati desiran angin yang bertiup sepoi-sepoi yang menerpa tubuhnya. Ia rasakan kulitnya begitu nyaman disapa hawa sejuk angin. Lalu ia tengadahkan wajahnya seraya mengalihkan pandangannya ke langit biru yang teduh. Ia amati pergerakan awan yang berjalan perlahan ibarat kapas raksasa dibawa angin. Sesekali segerombolan burung terbang menghiasi langit biru di atasnya.

Puas dengan langit biru, ia alihkan lagi pandangannya ke sebelah kanan. Ia temukan daun dan dahan menari-nari ditemani sepasang kupu-kupu yang sedang memadu kasih. Lalu ia pejamkan mata sejenak untuk menikmati irama alam yang memadukan angin yang bertiup, gesekan dedaunan, serta gemericik air. Sungguh begitu merdu dan syahdu.

Tiba-tiba, handphone di sakunya bergetar, sebuah SMS masuk dari seorang kawan. Setelah membaca pesan singkat tersebut, ia pun segera membalasnya. Selanjutnya ia jatuh dalam sebuah topik obrolan jarak jauh yang tanpa terasa telah membawanya pergi dari kejenuhan menunggu.

Lalu, kaitannya dengan jodoh?

Ketika sebuah keinginan untuk mengakhiri masa lajang dengan segala persiapan yang sudah maksimal, segala macam ikhtiar sudah diusahakan, namun yang diharapkan tak kunjung datang, bisa jadi rasa kecewa yang akan muncul. Menunggu kehadiran sosok yang diharapkan akan melengkapi kesendirian bisa menjadi sebuah pekerjaan yang menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Belum lagi tekanan dari pihak luar yang seolah-olah memaksa dan tidak mau melihat bahwa sudah sekian usaha yang sudah dilakukan.

Stres? Jangan sampai menimpa. Cobalah meniru para pemancing tersebut. Nikmati apa yang bisa dinikmati selama masa menanti. Lakukan yang terbaik di setiap hal yang bisa dilakukan selama masa menunggu kehadiran sosok yang dinantikan. Ukir prestasi setinggi yang bisa diraih. Mudah-mudahan, semua itu bisa mengalihkan perhatian dari sebuah kejenuhan. Semoga semua itu bisa menghindarkan dari rasa tertekan. Semoga itu bisa menjadikan diri menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, sehingga apa yang kelak datang adalah yang terbaik untuk diri ini. Insya Allah.

Memang tak semua hal bisa dibandingkan antara memancing ikan dan mencari jodoh. Tetapi, jika ada suatu pelajaran yang baik dan bisa diambil dari apa yang dilakukan oleh para pemancing tersebut, tak ada salahnya jika para pencari jodoh menirunya.

Wallahu a'lam.

Suka
Rifki menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifki sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

zaenudin | tutor
Memang Hebattt, bisa nambah ilmu juga sahabat.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0962 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels