QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
Alamat Akun
http://arif_wibowo.kotasantri.com
Bergabung
31 Maret 2009 pukul 05:16 WIB
Domisili
Klaten, Cirebon - Jawa Tengah, Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawan Swasta
why_klt@yahoo.co.id
http://facebook.com/awwibowo
Tulisan Aw Lainnya
Hujanku
31 Desember 2010 pukul 21:00 WIB
Beracunnya Keong Racun
27 Desember 2010 pukul 16:10 WIB
Dia Menipu Saya
21 Desember 2010 pukul 15:40 WIB
Ketika Bumi Berguncang
19 Desember 2010 pukul 17:10 WIB
Tatkala Cinta Bertahta di Singgasana
28 November 2010 pukul 17:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 5 Januari 2011 pukul 16:55 WIB

Dan Jalan itu Ada dari Arah yang Tak Terduga

Penulis : Aw Wibowo

Suatu waktu pernah saya merasakan saat-saat sulit. Saat dimana tak ada lagi seseorang yang bisa membantu saya mengatasi permasalahan ini. Karena ini menyangkut persoalan pribadi. Sebenarnya terlalu pribadi juga dituangkan dalam tulisan ini.

Ini tentang penyakit yang pernah saya alami. Tepatnya saya mengetahui pertama kalinya ketika berada di kelas tiga SMA (sekarang kelas 12). Saat itu saya bercermin. Ketika membuka baju terasa ada yang lain pada diri saya, tepatnya lapisan kulit yang berada di lipatan lengan. Saya berbalik badan dan memperhatikan punggung. Masya Allah. Semuanya menjadi belang. Campuran antara kulit saya yang cenderung gelap dan warna itu. Ada serupa warna putih susu. Mirip panu tapi bukan panu. Belang ini mengkilap bila terkena sibar matahari. Entah saya pun tak tahu namanya. Kurap atau kadas atau penyakit kulit lainnya. Tapi itu sangat mengganggu penampilan saya, termasuk rasa percaya diri. Efeknya tiap kali ganti pakaian ketika pelajaran olah raga, saya tidak berani membuka kaos dalam saya terang-terangan di hadapan teman lelaki. Penyebabnya pasti. Malu bila belang itu diketahui.

Penyakit itu sungguh tak pernah saya sangka sebelumnya. Saya rajin mandi. Kebersihan baju terjaga, namun entah kenapa penyakit itu tiba-tiba datang menyerang. Saya merasa drop, kehilangan percaya diri. Apalagi ini terjadi dalam masa puber, masa peralihan psikologi. Lebih mengkhawatirkan lagi, penyakit ini akan merembet terus sampai ke wajah dan bagian tubuh lainnya yang terbuka. Saya tidak bisa membayangkannya lebih jauh. Lebih baik saya diam. Dalam diam saya berdoa. Semoga sembuh.

Rasa minder tak bisa saya atasi. Diajak renang, saya enggan karena otomatis akan terbuka (tidak mungkin renang memakai kaos padahal yang lain bertelanjang dada). Ketika berkeringat sehabis olahraga, saya membiarkan diri gerah dan kaos basah daripada memperlihatkan aib itu kepada kawan-kawan. Saya menjadi sosok tak utuh lagi. Ada yang hilang. Semuanya serba terbatasi. Beruntung, hanya keluarga saja yang tahu aib ini.

Ibu adalah sosok yang sangat perhatian. Setiap kali saya meminta mengobatinya dengan menggosokan cairan obat panu, beliau selalu menyanggupi. Setelah sehabis mandi sore tentunya karena ketika pagi hari obat panu itu baunya sangat menyengat dan khas hingga saya tak ingin memunculkan pertanyaan teman tentang bau menyengat akibat obat ini.

Tak mudah. Dibutuhkan beberapa waktu hingga saya mencoba mengobati sendiri. Mengambil kapas lalu menuangkan cairan obat ini lalu menyekanya di belahan kulit yang belang. Rasa panas terbakar yang menjalar akibat pengaruh dari obat bisa saya tahan, terpenting belang di kulit punggung bisa hilang.

Saya tersenyum melihat hasilnya. Kulit yang terseka terangkat mengelupas terganti kulit baru beberapa hari setelahnya. Namun masalah muncul. Ternyata akarnya masih ada, belum tuntas. Hingga beberapa saat kemudian belang itu muncul. Malahan semakin membesar.

Saya kalut. Merasa sia-sia. Tapi pengobatan itu tak jua saya hentikan kendati hasilnya tidak maksimal, tak seperti yang saya harapkan sebelumnya. Tentu tak mudah meyakinkan bahwa pengobatan ini akan berhasil. Saya menggantinya dengan krim salep yang harganya berlipat-lipat.

Kembali saya usapkan, namun hasilnya ternyata sama saja. Saya benar-benar dibuat kalah. Saya benar-benar akan menyerah. Saya hanya bisa berdoa, kendati usaha telah menemui puncaknya.

Pernah punya keinginan untuk menemui dokter spesialis kulit dan kelamin. Saya berfikir, biaya yang dikeluarkan tentu tak sedikit, apalagi kondisi ekonomi keluarga saya termasuk pas-pasan. Penyakit ini sebenarnya tak berpengaruh terhadap kesehatan, cuma masalah penampilan. Maka saya urungkan. Saya pendam. Mungkin saya bisa mewujudkannya ketika sudah bekerja, dengan hasil keringat sendiri.

Saya ingin melupakannya. Benar telah melupakannya. Saya tak ingin sibuk mengurusi kekurangan diri, lebih baik saya beraktivitas sebagaimana mestinya. Sebagai seorang anak, seorang teman, maupun seorang siswa. Sejatinya saya tak ingin terganggu dengan masalah ini.

Masa sekolah saya sudah berakhir. Otomatis saya tinggal di rumah, menganggur karena tak kuliah. Yang dilakukan hanya membantu orangtua ke sawah, bertani. Pengobatan terkadang sesekali saya kerjakan bila hati berkehendak dan malas-malasan. Satu kali, dua kali, dan seterusnya. Hingga dua tahun masa pengangguran, saya ditawari merantau ke jauh kota. Saya mengiyakan.

Beragam tanya muncul. Salah satu lowongan kerja di Depnaker tertera dengan jelas tulisan TIDAK BERTATO. Saya tidak bertato lalu kenapa harus gusar? Masalahnya penyakit ini telah bercokol selama dua tahun dan belum sembuh. Tak berkurang malah bertambah. Saya menjadi minder untuk mendaftarkan diri untuk bekerja bila ada syaratnya tertera seperti dia atas. Simalakama.

Di sela aktifitas menganggur, saya menyempatkan mengobati diri lagi menghilangkan belang putih di punggung ini. Untuk melamar pekerjaan. Saat itu saya serumah dengan kakak keponakan, dan ditinggal mengajar sehingga saya leluasa mengobatinya tanpa takut diketahui aib ini.

Suatu hari kakak saya menawari sebuah pekerjaan. Alhamdulillah tak ada pemeriksaan tato. Saya bekerja di sana sekitar satu setengah bulan lalu akhirnya dipecat, memang kerja saya kurang memuaskan.

Masa menganggur menjadi masa yang paling sulit dalam hidup saya. Sudah ditimpa penyakit yang tak kunjung sembuh, tak ada kegiatan. Saya hanya berdoa dan berusaha, cara lain menghilangkan gundah tentang penyakit ini hanyalah dengan melupakannya dan itu dengan bekerja.

Satu setengah bulan lagi saya mendapat pekerjaan di sebuah toko elektronik. Selama tiga bulan lamanya saya menjalani rutinitas begitu-gitu saja. Tanpa libur seharipun. Berangkat dari jam sembilan dan pulang jam delapan malam hingga saya tak punya waktu untuk diri sendiri, apalagi mengurusi penyakit ini. Saya merasa seperti robot. Tepatnya, waktu saya dibeli dengan bayaran yang tak seberapa.

Berselang kemudian saya pindah ke perusahaan swasta yang bergerak di bidang distribusi. Saya berjaga di gudang batu bara dan letaknya persis dengan laut yang berjarak sekitar kilo hingga semua air tanah pun ikut asin. Selama sembilan bulan saya berada di sini sebelum akhirnya pindah tempat kerja yang dekat dengan pegunungan yang keluar air belerangnya.

Sesuatu mencengangkan terjadi. Suatu hari dalam masa sembilan bulan itu, saya terkejut. Karena tak mempunyai cermin, saya menggunakan spion untuk melihat seberapa luas penyakit belang putih ini menyebar. Tak ada? Saya amati lagi lebih seksama. Benar tak ada! Padahal saya telah lama melupakannya karena kesibukan bekerja. Sekarang ia telah hilang dengan sendirinya tanpa saya susah-susah mengobatinya lagi, tetapi kapan sembuhnya?

Baiklah, kita beralih ke perkara selanjutnya.

Suatu hari rekan saya mengeluhkan tentang penyakitnya. Semacam jerawat namun gatal dan tumbuh di paha sebelah dalamnya. Banyak dan berbintik merah. Saya bertanya, semenjak kapan penyakit ini menjangkiti. Dijawabnya belum lama. Dan akibat garukan itu malahan meninggalkan bekas luka warna coklat seperti cacar.

Diobati dengan apa? Ia menjawab hanya dengan bedak, toh itu hanya mengurangi rasa gatal, sementara tak mengurangi penyakitnya. Saya pun menceritakan penyakit kulit yang pernah saya alami, bedanya saya mengalami belang putih dan dia gatal berbintik merah seperti berjerawat.

Begini saja, jelasku. Boleh dipraktekan atau tidak. Dulu tanpa sengaja penyakit saya bisa hilang. Mungkin inilah solusinya. Setiap malam, saya mandi memakai air hangat karena pulang kerja pasti jam delapan. Selama tiga bulan berturut-turut. Kedua. Saya mandi dengan air asin, berarti banyak kandungan garam di dalamnya. Setiap hari selama sembilan bulan. Kesimpulannya, cobalah diobati dengan air hangat dicampur garam. Oleskan di bagian yang sakit. Insya Allah berhasil.

Beberapa pekan sesudahnya, rekan saya kembali melemparkan senyumnya. Dia sembuh. Total. Dengan cara sederhana dan semurah itu!

***

Jika ada yang bertanya, kenapa saya berani membuka aib masa lalu ini?

Sebenarnya saya tak ingin membeberkan aib saya ini meski telah lama berlalu. Namun saya menemukan hubungan antara berdoa, berusaha, dan berkeyakinan. Bahwa ada keterikatan pada masing-masing. Ketika doa dan usaha telah sampai klimaknya, yang saya coba lakukan adalah selalu berbaik sangka padaNya. Sungguh sebelumnya saya tak menyangka penyakit kulit ini bisa sembuh. Padahal telah dua tahun lebih saya mencoba mengobatinya, dan jalan kesembuhan itu tak bisa saya sangka sebelumnya.

Dalam proses masa kesembuhan itu, sebenarnya saya juga tak tahan dengan pekerjaan yang menuntut bekerja 11 jam perhari dan pulang larut malam. Juga mandi dengan air asin (bahkan motor pun jadi berkarat karena dicuci dengan air ini).

Rupanya dalam hal yang tidak saya sukai, secara tidak langsung Ia telah menjawab doa saya, tak mengabaikannya. Meski harus menunggunya hitungan tahun. Sungguh, meski awalnya saya ragu akankah bisa sembuh, ternyata Ia mengabulkannya dengan jalan yang tak saya kira.

Mengenai hasil ataupun apa yang diharapkan sebenarnya saya tak usah merisaukannya. Tugas saya hanyalah berdoa, berusaha, dan yakin bahwa semuanya pasti akan terjabah. Tentang hasil dan akhirnya semuanya terserah kehendakNya.

Selama ini saya memposisikan hasil sebagai tolak ukur dari kemampuan, bukan pada hakikat usahanya. Mungkin saya telah salah menilai.

Suka
De Wi, yantie, Johari Wianto, dan Adinda Poetri menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Wawan R | Pengajar
Senang banget berkunjung dan baca-baca KSC. Isinya bagus penuh inspirasi. Sukses selalu untuk KSC.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0989 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels