HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://arif_wibowo.kotasantri.com
Bergabung
31 Maret 2009 pukul 05:16 WIB
Domisili
Klaten, Cirebon - Jawa Tengah, Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawan Swasta
why_klt@yahoo.co.id
http://facebook.com/awwibowo
Tulisan Aw Lainnya
Nelangsa Pahlawan Devisa
19 November 2010 pukul 19:15 WIB
Surat untuk Sahabatku, Merapi
11 November 2010 pukul 18:40 WIB
Mengapa Aku Memilih Dia
7 November 2010 pukul 17:30 WIB
Tawaran Dunia
17 Oktober 2010 pukul 17:45 WIB
Beruntungnya Hidupmu, Sobat
26 September 2010 pukul 18:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 28 November 2010 pukul 17:30 WIB

Tatkala Cinta Bertahta di Singgasana

Penulis : Aw Wibowo

Senja, sebentar lagi berlatar jingga, lalu kelam terbenam malam. Biru, haru dirindu bangsa berbulu yang kepakannya mengangkasa. Tampak sudah keremangan yang menghapus bayangan. Pelita menyala menandingi buyarnya kilau surya.


Ia, masih duduk menanti. Di ambang pintu, sendiri. Sepi. Terdiam bersama lamunan. Menyandarkan diri pada kayu pintu yang menua. Letih menghimpit, sejenak dilepasnya lewat tarikan nafas. Disekanya buliran keringat di gurat kulit yang semakin melipit. Retakan di telapak kakinya menyiratkan liku hidupnya. Tak mudah dan penuh perjuangan.


Emak, saya biasa memanggilnya demikian. Perempuan gunung itu, menjajakan beragam makanan kecil dengan berkeliling seiring kekuatan langkah kakinya. Berkilo jauhnya bila dikira, pun tak pernah lenguh keluh melepuh diucapnya. Sejak matahari di puncak tahtanya, sampai lengser terlempar ke barat, ia menggendong jajakannya dengan lilitan selendang yang menjerat ringkih tubuh yang tak lagi muda. Alas kaki lusuh berserak debu yang sebagian menyelimuti keriput kulit legamnya. Sebuah caping setia menahan terik yang mengerik kepala. Dirasakannya dalam kurun tahunan. Tak gentar, tetap bertahan. Cuaca panas maupun penghujan bukanlah halangan.


Setiap petang menjelang, ia menanti disana. Setia penjemputan suaminya. Kan membawanya pulang dalam peraduan. Rumah tempat ternyaman. Acapkali saya menemuinya. Sekedar berbagi cerita. Satu-satu. Tentang keluarganya, keluh kesahnya, juga sepotong memori masa lalunya yang masih samar tergambar.


Satu setengah tahun, bukanlah waktu yang sebentar untuk mengenalnya. Sisi putih maupun dinding gelapnya. Tetapi rahasia terbesar dan terhebat akan terungkap. Saat itu, saat dimana tak sengaja saya menanyakannya.


Muncul sesosok mungil dengan geliat manja dan senyum manisnya. Mengajak saya segera berkata.


“Lucu ya Mak, anak kecil itu.”


“Imutnya..”


Mengingatkan pada buah hatinya, mungkin. Sebenam rindu pasti akan muncul kembali. Menolstagia manisnya tawa canda.


“Cucunya sudah berapa, Mak?”


“Oh, berapa ya?”


Entah mengapa, lama cerita mengena pada sebuah rahasia yang terkatakan. Tak lagi terpendam. Bersama lelaki sepuh setia yang mengantarnya pulang, ternyata mereka belum dilimpahi putra. Lalu siapa, anak lelaki yang sesekali bertautan dengannya. Kerap menjinjing pulang jajakannya.


Penasaran tepat sasaran. Tanya melambung dan Emak menangkapnya begitu ringan. Tanpa beban. Seolah percaya dengan binar di mata saya. Yang membuka sebuah rahasia.


“Ia adalah anak angkat, yang Emak pungut setelah empat hari membuka dunia. Ibunya meninggal sewaktu melahirkannya, menyusul ayahnya (adik Emak) empat hari kemudian. Yatim piatu, tak beribu, tak berbapak.”


Sekelebat ragu sempat menghambat rasa percaya. Seketika saya tepis dengan kesungguhannya bercerita. Begitu mengalun, berperasaan, dan mengalir cinta.


“Kasihan, begitu orang berujar. Tak terselamatkan bila tiada yang merawatnya. Bayi merah yang butuh kehangatan pelukan bunda. Juga sesesap susu yang mengenyangkannya. Nama yang tersandang, Emak yang memberikan. Ia enam bersaudara. Tatkala orang tuanya tiada, maka sepenuhnya kebutuhan keenamnya Emak yang menanggungnya.”


Subhanallah. Hati saya merintih. Mendung menggantung dikelopak mata. Suara memarau sengau. Dada menyempit sipit menahan sesaknya senggukan yang bisa ditahan. Seperti inikah sosok yang saya kenal, dibalik penampilannya yang teramat sederhana, bahkan terlihat biasa.


“Lalu siapa anak perempuan yang dulu pernah Emak ceritakan?”


“Ia anaknya adik Bapak. Ditinggal mati ibunya ketika melahirkan. Ayahnya tak memperdulikan, tega meninggalkannya dan kawin lagi. Semua saudaranya terbagi, dipungut satu-satu oleh saudara Bapak. Dan anak angkat Emak bertambah menjadi tujuh.”


Berdecak kekaguman akan putih hatinya. Tujuh putra serta merta menaungi hidupnya. Meramaikan setiap detak kehidupannya. Tak terbayangkan, seberapa besar kasih sayangnya yang tiada ujung itu. Andai boleh dikata, cintanya melebihi makna cinta.


“Sebelumnya, Emak juga memunggut anak tetangga. Tiga bersaudara. Tiga tahun, dua tahun, dan masih bayi. Orang tuanya sakit-sakitan hingga menyerahkan tanggungnya.”


“Jadi semuanya sepuluh!” menyirat tak percaya saya menyela.


“Ya!”


Saya hentikan tanya. Menerawang pemandangan yang semakin cepat menghitam hilang bayangan. Mata terpejam tajam. Merasakan haru yang menderu. Menakar mulia tak terhingga. Menghela nafas hidupnya yang berarti tungku kehidupan anak angkatnya. Ah, saya tak mampu melukiskan betapa indah cintanya.


“Namun, pernahkah anak angkat Emak menanyakan perihal bapak ibunya sebenarnya?”


“Pasti. Emak ceritakan kepada mereka siapa sebenarnya saya. Siapakah yang telah melahirkannya. Juga pusara dimana orang tua mereka bersemanyam.”


Termangu, sendu menyeruak. Memenuhi rongga hati. Pedih, mungkin. Tapi tak sampai hati menangisi kesedihan.


“Sekarang mereka semua telah berkeluarga. Setiap tahunnya berkumpul di rumah Emak yang terlalu kecil bersama cucu tercinta. Bahagia.”


Lega, dada melapang meredam kisahnya. Setumpuk haru akan saya rajut menjadi rindu. Rindu kepada sosok ibu yang teruang dalam rentang waktu. Disana, saya juga merasakan hangat cintanya. Seperti halnya Emak menuangkan kasihnya pada anaknya.


Pijaran bola merah telah tertelan. Semarak awan jingga telah berubah warna. Menghitam, sehitam petang. Sunyi kembali meratapi. Mimpi menunggu pasti.


Terima kasih, Mak. Kisahmu akan tertanam selalu. Diruang lenggang hati ini.

Suka
bambang, yantie, dan Wahyudi menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Teguh Yulyono | CSA Dubai Airport
Saya sangat gembira kembali bisa membuka dan membaca tulisan rekan-rekan yang memberikan pencerahan. Untuk admin : U R survival after so long with many challenges. Keep it up your spirit, your website had changed a lot of people who read articles on it. One of them is me. Thank you so much. Insya Allah bisa menjadi amalan kebaikan dan mendapat nilai yang sempurna di mata Allah SWT.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1224 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels