|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|
|
why_klt@yahoo.co.id |
|
http://facebook.com/awwibowo |





Senin, 27 Desember 2010 pukul 16:10 WIB
Penulis : Aw Wibowo
Siapa yang tak asing lagi mendengar kata ‘keong racun’. Pasti semua ngeh, tak hanya petani yang akrab di sawah; dari mahasiswa, ibu rumah tangga, pegawai kantoran, bahkan anak SD pun ikut-ikutan. Di luar dugaan banyak yang latah menghafalnya. Bibir mungil mereka fasih menyanyikannya.
Fenomena ini terjadi setelah ramai dibicarakan di Twitter. Media pun tak lepas jadi peran utamanya. Masyarakat ingin tahu dan memburu video itu. Tentang dua mahasiswi yang berekspresi di depan cam. Tanggapan dari masyarakat pun beraneka. Mulai dari cibiran bahwa terkesan norak, ada pula yang menganggapnya kreativitas.
Saya adalah salah satu masyarakat itu. Ketika singgah ke warnet sebelah, tiba-tiba ada pikiran untuk mengunduhnya. Kira-kira seperti apa ya? Klik!
Saya hanya geleng kepala melihat tingkah dua mahasiswa tadi. Nyatanya terlihat kekanak-kanakan, tidak mengesankan bahwa mereka adalah mahasiswi, kaum intelek. Boleh sih boleh, hak pribadi, tapi kenapa harus mengunggahnya lewat internet?
Pernahkah terpikir dampaknya akan meluas menyambangi Nusantara ini? Masalahnya bukan karena gaya mengekspesikan, tetapi lirik lagunya terlalu ‘terbuka’.
Dalam statusnya, seorang teman mengisahkan. Anak kecilnya riang mendendangkan tetapi ibunya tenang-tenang saja, tak mencegah. Entah tak sadar atau mengerti bahwa lirik itu teramat ‘berbahaya’. Bisa saja nanti berdampak buruk, ditiru, seperti kasus smack down beberapa tahun yang lalu.
Kenapa?
Dalam lirik tadi diajarkan bagaimana menjadi seorang penggoda. Dan yang digoda pun seakan terbiasa dan memakluminya.
"Kau rayu diriku, kau goda diriku, kau colek diriku."
Bukankah ini pelecehan kepada makluk Tuhan yang bernama perempuan? Separah inikah kenyataan Nusantara kita? Seharusnya kata itu dianggap tabu dan tak layak dikonsumsi anak-anak. Efeknya jelas, mau dibawa ke mana masa depannya nanti.
Anak belajar dari lingkungan. Bila orangtua mengajarkan kasih sayang, anaknya pun akan belajar tentangnya. Jika orangtua mengajarkan kekerasan, tak ayal pula anak akan menirunya. Buah tak kan jauh dari pohonnya.
Sebagian masyarakat masih ada yang tak peduli. Mungkin mereka disibukkan urusan hidup yang selalu menuntut, hingga mengontrol buah hati kadang terlupa. Mereka akan terkejut kelak. Mengapa anak saya jadi begini, padahal saya tidak pernah mengajarkannya?
Perlu dicermati, arus teknologi kini mudah dijangkiti. Bila tak berhati-hati, bersiaplah dengan ‘korban’ selanjutnya. Paling tidak kita bisa mengontrol diri, keluarga, tetangga, juga lingkungan sekitar. Adik-adik kita, adalah aset berharga yang akan menjadi tulang bangsa.
Mari basmi segera keong racun.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.