HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://arif_wibowo.kotasantri.com
Bergabung
31 Maret 2009 pukul 05:16 WIB
Domisili
Klaten, Cirebon - Jawa Tengah, Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawan Swasta
why_klt@yahoo.co.id
http://facebook.com/awwibowo
Tulisan Aw Lainnya
Tatkala Cinta Bertahta di Singgasana
28 November 2010 pukul 17:30 WIB
Nelangsa Pahlawan Devisa
19 November 2010 pukul 19:15 WIB
Surat untuk Sahabatku, Merapi
11 November 2010 pukul 18:40 WIB
Mengapa Aku Memilih Dia
7 November 2010 pukul 17:30 WIB
Tawaran Dunia
17 Oktober 2010 pukul 17:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 19 Desember 2010 pukul 17:10 WIB

Ketika Bumi Berguncang

Penulis : Aw Wibowo

Sabtu, 27 Mei 2006

02:00 am
Dini hari, aku sampai di ujung rumah. Menggenggam kunci lalu kubuka daun pintu samping bercat coklat tua. Lampu neon 5 watt redup menerangi ruangan. Suasana sepi. Adik, Ibu, Bapak sudah terlelap. Dengan langkah pelan kusandarkan sepeda motor di ruang tengah dekat jendela kaca. Kantuk yang membius mengantarkan gontai tubuhku ke bilik kamar. Merebahkan diri bersama penat. Lelah nan capai sepulang surfing di warnet bersama tiga orang kawan sekolah; Pur, Ang, Rag. Air mataku perlahan meleleh di kedua pipi, disusul auman dari mulut. Tiba-tiba terdengar nyaring bunyi dua kali. Biip.. biip.. biiip.. biip. Sebuah pesan masuk dari Pur. “Udah sampai belum pren?” Rupanya ia masih sempat menanyakan kabar. “Udah,” jawabanku singkat. Sesaat kemudian aku tenggelam dalam mimipi.

05:50 am
Kebiasaan buruk terulang (lagi). Bangun kesiangan. Mata masih lengket, namun kupaksa melirik jam yang terekat di dinding kamar. Hampir jam enam pagi! Bergeges kubangkit. Dengan langkah serdadu kutuju ke teras. Menengadah air di kran. Membasuhkannya ke muka. Meluapkan di tangan. Beerrgg. Dingin terasa menggigit pori-pori. Lekas bergegas kutunaikan shalat subuh. Tak sampai lima menit, shalat telah usai. Berniat lagi meneruskan mimpi semalam. Merebahkan diri ke kasur, namun mata belum jua menutup. Aih, iseng kuraih hape yang tergeletak sembarang di pembaringan. Ingin menyapa kawan yang bekerja di Bandung. Namun niat kuurungkan. Wuaahh…

05:55 am
Terasa pembaringan bergolak. Tubuhku ikut limbung. Gempa?! Terpikir tetangga akan terburu keluar rumah, menabuh kentongan, lalu berteriak barulang-ulang, “Kokobako… kokobako.” (Maksudnya kokoh-bakoh, pen). Aku masih malas meninggalkan pembaringan. Paling juga sebentar lagi mereda, pikirku. Namun aku salah, ini terasa lain dari biasanya. Lebih lama. Terperanjat, terlambat. Tergesa kuraih pintu kamar. Mengitari keadaan. Semakin lama getaran bertambah kencang. Lari ke luar rumah sudah tidak memungkinkan. Pintu pasti macet diombang-ambingkan gempa. Apalagi tak mudah berlari di tanah yang labil. Cemas merajam perasaanku. Terlintas dalam perhitungan, aku hanya bisa bersembunyi. Kolong tempat tidur atau di bawah kusen pintu menjadi pilihan terakhir. Bergegas kutiarap ke kolong, tapi ah terlalu, sesak dengan barang. Akuarium kosong yang terisi kepingan recehan dan kardus-kardus bekas entah berisi apa. Pikiranku semakin kalut. Berkejar-kejar pertanyaan. Apakah nanti jika bersembunyi di sini aman? Akankah dipan kayu ini kuat menahan gebrakan seandainya tembok bata rebah menimpa. Ah, tak ada pilihan lain (lagi). Kubangkit berlindung di bawah kusen pintu. Gempa semakin menjadi, keras menghentak dan mengguncang alam. Lemari di sudut kamar berjingkat, sekat penutupnya terbuka. LKS, ijazah, dan buku pelajaran jatuh bertumbukan. Nyali menciut. Ingin kugapai. Tak sampai. Aku hanya bisa diam tegang. Dari sebelah, pintu kamar terbuka. Terlihat adikku masih sayu matanya. Kami bersitatap. Goncangan semakin lama bertambah hebat. Kaca hitam jendela depan berukuran kurang lebih 1,5m x 1,5m bergetar hebat. Praaang. Hancur berkeping-keping. Dinding rumah bergemeretak. Rusuk atap ruang tengah tak kuat lagi menyangga beban. Akhirnya, breeggg. Berjatuhan bersama ratusan genting. Disusul runtuhnya tembok. Debu putih mengepul dari sisa reruntuhan. Membumbung menyesaki ruangan. Tak percaya. Aku terpana. Terdiam. Mematung. Melongo. Tak menyadari maut bisa saja secepat kilat menyambar nyawaku. Bagai tersilap, tak terlintas apapun dalam benakku.

Bersegeralah Tolong Menolong dalam Kebaikan!

Getaran berangsur-angsur mereda. Kamar kami masih kokoh. Tiba-tiba mataku terbelahak, teringat Ibu dan Bapak. Di manakah mereka?! Bagaimana keadaannya? Kuseru adikku yang masih mematung. “Pak’e, Bu’e, Nggi! Goleki!" Tanpa komando, kami menelusuri pepuingan yang terserak tanpa alas kaki. Menuju suatu tempat, sebuah kamar di samping ruang tengah tempat tidur beliau. Tembok yang mengelilinginya runtuh, menyisakan satu meter yang masih tegak. Sebuah lemari tampak acuh berdiri. Pengharapan dan kekhawatiran mengacau. Akankah mereka selamat? Apakah mereka masih di sana? Cemas. Kami berteriak sekuat tenaga memanggil mereka. “Pak, Buk!” Belum ada jawaban terdengar. Dengan perasaan tak menentu, kami bergegas ke sana. Kami temui sebuah sosok yang tertunduk merapat di lemari. Itu Bapak. Menghampiri. Nampak darah mengalir kecil di dahinya, terluka tersayat jatuhan genteng. Perasaan melega Bapak selamat, tiada luka berarti. Kami membantunya berdiri. Bertanya, apakah beliau tahu di mana Ibu? Not found. Takut menyergap. Dengan seksama kusapukan pandangan di setiap sudut rumah yang kini telah rata. Memendar. Tak ada. Mungkinkah Ibu ke luar membeli sarapan di tetangga sebelah. Ya, semoga. Aku tak ingin kehilangan sosok seorang ibu di saat seperti ini. Kami berpencar menyusuri puing-puing sambil menyerukan namanya. Baru sesaat melangkah. Ibu muda tetangga belakang rumah berteriak histeris.

“Mas.. Mas.. anakku!” Aku yang merasa dipanggil kini kebingungan. Mencari Ibu atau menolong bayinya yang terjebak dalam rumah yang sebagian belum runtuh. Entah, masihkah selamat atau sudah tiada. Pikiranku berkecamuk. Di antara dua pilihan. Kuputuskan harus mencari Ibu dulu. Bergegas mataku berkeliaran mencari jejak. Nihil. Aku menelusuri jejak yang sering dilewati. Ketika mendekati puing kamar mandi, kami berseru menemukan Ibu. Tubuhnya tertimbun reruntuhan sebatas pinggang. Nampaknya Ibu terhempas tembok belakang rumah dan menabrak pintu alumunium sebelah luar hingga terbawa ringsek ke dalam kamar mandi. Ibu tampak lemah. Kami secepat mungkin menyingkirkan puing yang menindihi tubuhnya. Ia nampak bahagia melihat kami sekeluarga selamat. Sebelumnya, ketika ia terhempas tadi, yang dipikirkannya hanya keselamatan kami, putranya. Berkali-kali ia menyebut nama kami dengan lirih seolah hilang harapan. "Wahyu, Anggi, anakku." Ah, trenyuh hatiku mendengar ceritanya. Seperti inikah kasih sayang seorang ibu, tiada terputus sepanjang hayat.

Kami tuntun Ibu dan mendudukkannya di teras yang tak berupa. Kulongok ke belakang. Teringat bayi yang dielukan ibunya. Syukurlah mereka selamat. Aku melompat, berlari cepat. Menerobos pekarang menuju ke jalan. Masih ada yang butuh pertolongan! Dari arah kanan, Mas Yon berlari terburu. "Mbah Mar, Yu. Ayo!" Tanpa pikir panjang, aku mengekor di belakang Mas Yon. Langkah kami bagai kijang dikejar macan. Kami menjumpai warga yang berkumpul di poskamling. Wajah mereka pucat serupa daun layu. Sedang di antaranya tampak syok, menata hati. Mbah Mar selamat, tapi anaknya Mbokde Tin belum ditemukan. Kami terus berlari ke rumah Mbah Mar, seketika berpapasan dengan Mas Sur. Rautnya datar. Ia membopong seseorang. Beberapa orang keluarga mengiringinya. Sekilas tak kukenal siapa. Bertanya aku kepada Mas Yon, "Siapa Mas, tadi yang dibopong?" "Itu kan, Mbah Kar." Aku tersentak, kaget. Kami melanjutkan pencarian. Mas Yon menemukan Mbokde Tin tertindih dalam dekapan anyaman bambu. Ia merintih kesakitan, wajar saja karena tadi terinjak rombongan Mas Sur. Kami bongkar anyaman bambu dengan hati-hati. Mengantarkan Mbokde Tin berkumpul bersama warga lain di poskamling.

Secepat Inikah Datangnya Kematian?

Raungan tangis meledak, ratapan menyayat. Sosok yang telah dibopong tadi, Mbah Kar meninggal dunia. Aku tak menyangka, padahal kemarin kami bersapa. Kematian datang tak terduga. Dari jauh sesosok tubuh melambaikan tangan. Bu Sas butuh pertolongan. Segera aku dan Mas Yon berlari menjumpainya. Ia tampak panik. Suaminya, Pak Sas, terjebak di dalam rumah. Kebingungan kami mencari pintu masuk karena bangunan depan menganga, suatu ketika bisa runtuh kapan saja. Dari petunjuk Bu Sas, kami melompat dari jendela samping. Berjalan waspada sambil mengawasi bangunan yang meretak. Memasuki ruangan tengah, di sana telah ada Bapak dan Har yang menolong. Kaki Pak Sas terjepit balok kayu, Bapak memotongnya dengan gergaji besi. Usaha berhasil, disingkapkan pelan potongan tadi. Berempat kami membawa Pak Sas menjauhi bangunan. Beberapa saat kemudian. Braakk. Berdentum, tanah terasa bergetar. Bangunan rubuh persis di tempat kejadian. Kami bergumam, andai saja terlambat. Setelah dirasa aman, kami membawa turun ke jalan. Masih adakah lagi? Mataku mengitari. Seseorang datang memberi kabar. Temanku akrab semenjak SD meninggal. Hah! Benarkah yang ia katakan. Kemarin selepas sembayang Jum'at, berlama aku melihatnya. Itulah terakhir kalinya?

Kebun pisang kami terobos, bergegas ke rumahnya. Dari jauh kulihat Is diam berdiri. Ternyata aku salah, setelah mendekat. Ternyata itu kakaknya, sedang Is terbaring tertutup kain selendang bercorak coklat. Terbujur kaku. Tak berani kulihat wajah Is terakhir kalinya. Secepat inikah usianya yang masih muda. Pikiranku menerawang. Apa jadinya bila diri ini melalui keadaannya. Aku tertunduk lesu. Banyak kesalahan yang kulipat, sedang kebaikan tak seberapa kuperbuat.
Berbondong-bondong warga menuju jalan. Menanti kendaraan jemputan yang membawa mereka ke rumah sakit. Aku kembali diliputi sedih mendalam. Masih teringat semua barusan, seakan mimpi saja. Padahal diberitakan di televisi, Gunung Merapi di tingkat waspada. Kami asyik saja menonton. Ternyata keadaan berbalik. Kami tak memahami peringatan itu. Hingga guncangan gempa mengakibatkan kerusakan. Jumlah warga yang meninggal di dukuh kami sekitar 30-40an orang. Semua bangunan luluh lantak. Inikah kiamat?

Mungkin akan bersambung lagi kawan.

Semoga menjadi renungan bagi diri ini. Mengingat mati, mengingat kampung akhirat. Mensyukuri kehidupan 'kedua'.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

M. Hilmy | Wiraswasta
Insya Allah... Isinya ringan seperti kapas, berbobot seperti baja, dan dalam seperti samudera.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1111 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels