|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|
|
|
http://aishliz.multiply.com |
|
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz |





Selasa, 27 April 2010 pukul 16:35 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
Stasiun Meguro tetap ramai di sore hari. Hilir mudik, lalu lalang orang menghalangi pandangan untuk mencari seseorang. Hingga akhirnya mata menangkap sosok dikenal, berjongkok dengan topi kupluk hampir menutupi muka. Kepalanya mulai mendongak ketika didekati sambil berkata lirih, "Teh, ini saya..." Terlihat pipinya biru legam bekas pukulan, mata sembab dan mulut bengkak. Tangisan mulai pecah ketika saya menyalami tangan dan merangkul tubuh kurusnya di pojokan stasiun yang tidak begitu ramai.
Usianya berbilang belasan tahun. Masih terlalu muda untuk merasakan pahit getirnya sebuah pernikahan dini. Menikah dengan orang asing dan hidup di negara Jepang adalah pilihannya. Kehidupan di kampung yang serba kekurangan membuatnya berani mengambil keputusan tersebut. Sebelumnya, ia sering berhayal, suatu saat akan datang pangeran berkuda putih yang akan mengangkat harkat derajatnya dari kemiskinan. Tinggal di istana megah menjadi puteri seperti Cinderela. Tak salah jika pada akhirnya, ia bersedia diajak hidup bersama tanpa ikatan nikah oleh lelaki asing berkantong tebal. Ia bahagia, merasa impiannya terkabul. Melupakan aturan syar'i yang melarang keras perbuatan tersebut. Dan ia pun tak menolak ketika lelaki asing tersebut mengajak untuk menetap di negara asalnya -Jepang, dengan pernikahan hanya tercatat di kantor sipil, karena perbedaan agama. Gejolak usia muda yang silau akan harta membutakan segalanya.
Sayang, impian menjadi Cinderela ternyata hanya sebuah syndrome. Pangeran berkantong tebal yang dianggapnya akan menolong dari kemiskinan, ternyata berubah menjadi manusia kejam, ringan tangan dengan ucapan kasar. Ia kerap menjadi sasaran hantaman ketika pangeran kesal ataupun sebal karena bentrokan-bentrokan kecil dalam rumah tangga. Kedudukannya tak lebih dari seorang pemuas nafsu dan pelayan bagi suami. Di kampung halaman tercinta, ia mungkin telah dapat mengangkat harkat martabat keluarga dengan menikahi orang "berada", namun bagi dirinya pribadi, ia kembali menjadi Upik Abu dengan segala penderitaan lahir batin.
***
Fenomena Cinderela Syndrome pada warga Indonesia yang menikah dengan pria Jepang, sepertinya tidaklah sedikit. Beberapa hari sebelumnya, telpon rumah berdering di tengah malam. Dari seberang horn telpon, terdengar suara wanita terisak-isak sambil mengadukan kekerasan yang baru dilakukan suaminya. Kejadian seperti ini bukan yang pertama kali. Pihak wanita yang notabene warga Indonesia, kadang terlalu lemah untuk mengadukan perbuatan suaminya pada yang berwenang. Mereka beranggapan, para suaminya inilah yang telah mengangkat harkat derajat kehidupan. Jika berpisah dari suami, kehidupannya akan kembali dalam kemiskinan. Mereka terperosok dalam lubang yang dibuatnya sendiri.
Awal tujuan menikah bagi para Cinderela Syndrome adalah samar. Bukan untuk mendapatkan ridha Allah ataupun ingin membentuk keluarga sakinah mawadah wa rahmah. Terangkatnya derajat dan mertabat ke jenjang yang tinggi merupakan tujuan. Keluar dari lilitan kesulitan ekonomi, menjadi Cinderela yang bahagia, memiliki kereta kencana mewah. Masalah perbedaan agama bukan halangan. Kalaupun ada yang menikah secara Islam, tak lebih karena terbentur aturan. Di luar itu, keislaman mereka hanya tercatat dalam kertas putih saja yang bernama KTP.
Bersyukur bagi mereka yang tersadar dari mimpinya; bahwa kisah Cinderela hanyalah khayalan belaka dan pangeran menawan itu tidak ada. Berhijrah ke jalan cinta abadi, mahabatullah (cinta Allah), menjadi pilihan. Berusaha menata hati, menyelami kembali ibadah yang telah ditinggalkan, berusaha membimbing suami beserta anak-anak mengamalkan identitas muslim di negara Jepang. Namun ada pula yang enggan bangun dari mimpi. Tetap terbuai dalam khayalan seorang putri Cinderela. Menuruti semua perintah-perintah sang pangeran yang menjadi tuan rajanya. Mengikis sedikit demi sedikit syari'at Islam yang menjadi pedomannya. Budaya materialistis menjadi panutan. Identitas muslim satu persatu mulai dilucuti. Bangga menjadi bagian dari komunitas Jepang dibandingkan menjadi bagian komunitas muslim.
***
Cinderela Syndrome mungkin tidak akan terjadi apabila makna pernikahan betul-betul dipahami. Menikah adalah gerbang menuju proses kematangan diri dalam spiritual. Berusaha mengabdikan diri menjadi hamba shaleh hanya untuk Allah SWT, tanpa perlu menghambakan diri pada suami. Tujuan pernikahan adalah berkah dan bernilai ibadah. Ia adalah sarana dakwah, meneguhkan iman, menjaga kehormatan. Bukan semata untuk meningkatkan harkat dan martabat diri, terkukung dalam fenomena Cinderela Syndrome.
Biarkan Allah yang mengangkat harkat, derajat, dan martabat kita, melalu pernikahan yang diridhaiNya dalam menggenapkan dien. Jika kekurangan dalam materi, biarkan Allah yang menambahnya melalui ikhtiar diri. Dan jika berlebih, semoga ia menjadi berkah hingga dapat bersedekah membantu yang kurang mampu.
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan mengkayakan mereka atas karunianya. Dan Allah Mahaluas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur : 32).
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.