HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://aishliz.kotasantri.com
Bergabung
8 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Matsudo - Chiba
Pekerjaan
Guru
http://aishliz.multiply.com
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz
Tulisan Lizsa Lainnya
Menitipkan Cinta
18 Maret 2010 pukul 17:51 WIB
Episode Torehan Kisah
14 Maret 2010 pukul 18:30 WIB
Teguran Melalui Sebuah Jempol
11 Maret 2010 pukul 15:15 WIB
Asinan Yakumo
7 Maret 2010 pukul 20:05 WIB
Memohon yang Terbaik
26 Februari 2010 pukul 15:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 24 Maret 2010 pukul 16:45 WIB

Anakku Sayang

Penulis : Lizsa Anggraeny

"Boleh anak anda saya jadikan model?"

Suatu siang, di taman Jiyuugaoka, tanpa disangka-sangka sapaan tersebut tiba-tiba mampir. Berdiri di hadapan saya seorang anak muda, sambil memegang kamera dengan talinya mengantung di leher.

Melihat saya terdiam, lelaki muda tersebut mengeluarkan kartu nama. Dari profesi yang tertulis, saya mulai bisa menebak. Ia mungkin seorang fotografer dari sebuah majalah. "Saya sedang membutuhkan beberapa model anak," kembali lelaki muda itu meneruskan.

"Moshi yokattara, renraku kudasai (Kalau berkenan, tolong hubungi)," sambil sedikit membungkukkan badan, lalu berpamitan. Meninggalkan saya dengan kartu nama di tangan.

Dari jarak beberapa meter, saya perhatikan si kecil yang sedang tertawa-tawa senang sambil berlari-lari kecil mengejar burung merpati liar. Matanya yang bulat, pipinya yang memerah, serta jilbab kecilnya yang tertiup semilir angin musim dingin, menambah 'cute' penampilan si kecil yang baru genap berumur satu tahun.

Memandang si kecil, ingatan saya kembali melayang-layang ke masa lalu. Hampir dua belas tahun pernikahan saya menantikan kehadiran buah hati. Beberapa terapi dan pengobatan telah dijalani. Kadang melelahkan, menjemukan, dan memilukan dengan beberapa kegagalan-kegagalan. Kehadiran si kecil dalam penantian panjang merupakan hadiah terindah dalam kehidupan saya. Bagai anak kecil yang kegirangan ketika mendapatkan hadiah mainan, begitu pun dengan perasaan saya ketika berhasil mendapatkan buah hati. Rasanya, ingin sekali menjaga hadiah tersebut agar tetap indah.

Tawaran menjadi model? Ini bukan kali pertama si kecil ditawari. Beberapa bulan ke belakang, saat saya dan si kecil sedang berjalan-jalan di pertokoan, tiba-tiba seseorang yang mengaku agen model mendekati. Dengan pertanyaan yang kira-kira sama, saya menerima kartu nama dan diminta menghubungi jika berminat.

Jujur, ketika pertama kali si kecil mendapat tawaran di menjadi model, hati saya melonjak riang. Jadi model anak? Di Jepang? Wah... Kesempatan bagus! Selain dapat memupuk potensi si kecil yang mungkin cocok di dunia modeling, juga dapat menjadi penghasilan tambahan yang nantinya bisa jadi tabungan si kecil. Begitu pikir saya awalnya.

Namun pikiran tersebut saya buang jauh-jauh ketika pada satu kesempatan, saya melihat kejadian yang tak terduga. Si kecil mulai bisa melambai-lambaikan tangan dan meniru posisi membungkukkan badan. Dua keahlian baru si kecil yang tak pernah saya ajarkan sebelumnya. Si kecil mempelajari dua gerakan tadi dari lingkungan di sekelilingnya, yang mungkin ia serap ketika saya ajak belanja, main di taman, atau berjalan-jalan sore. Kebiasaan "bye-bye" dan "ojigi (tanda hormat sambil membungkuk)" dari masyarakat umum Jepang.

Si kecil dalam usianya saat ini sedang senang meniru dan menyerap banyak hal. Bagaimana jika sedari kecil dijadikan model lalu menjadi kerasan hingga dewasa? Dunia modeling diserapnya sebagai bagian dari hidup. Melenggak-lenggok di depan kamera, di atas panggung untuk dikagumi orang-orang menjadi hal biasa. Terseok dalam kehidupan dunia gemerlap, mengikuti fashion empat musim negeri Jepang, tumbuh menjadi sosok dewasa yang terlepas dari gengaman erat Islam. Na'udzubillahi min dzalik. Merinding saya jika memikirkan hal tersebut.

Saya makin merinding ketika mengingat sebait syair dari buku "25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak" yang berbunyi seperti ini, "Apakah kau akan menangis atas anak yang sebenarnya telah kau bunuh? Ia telah mati dan kini apa yang bisa kau lakukan?"

Tidak, saya memang tidak sedang ataupun tidak ingin membunuh perkembangan anak. Tapi melibatkan anak dalam dunia modeling yang mungkin jauh dari tatacara Islami, sama saja dengan siap membuka gerbang untuk 'membunuh' generasi penerus yang Islami. Saya tidak mau menangis, menyesali anak yang nantinya terlanjur hidup di luar tatanan aqidah Islam.

Anakku sayang....

Dua belas tahun menanti, ingin rasanya Ummi menjaga amanat yang telah diberikan ini sebaik-baiknya. Hingga waktunya tiba, Ummi dapat mengembalikan amanat tersebut sama seperti saat pertama kali menerimanya. Putih, bersih tanpa noda, terjaga fitrahnya.

Percayalah, Nak, menjadi model, bukan satu-satunya jalan untuk mengembangkan potensi, kreasi dan prestasi.

http://aishliz.multiply.com

Suka
NURIN menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

lila | mahasiswa
Saya sangat senang sekali bisa bergabung dengan KotaSantri.com, karena saya sendiri memang santri.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1373 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels