QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Alamat Akun
http://aishliz.kotasantri.com
Bergabung
8 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Matsudo - Chiba
Pekerjaan
Guru
http://aishliz.multiply.com
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz
Tulisan Lizsa Lainnya
Teguran Melalui Sebuah Jempol
11 Maret 2010 pukul 15:15 WIB
Asinan Yakumo
7 Maret 2010 pukul 20:05 WIB
Memohon yang Terbaik
26 Februari 2010 pukul 15:30 WIB
Merapat Malam, Andai ...
18 Februari 2010 pukul 17:40 WIB
Bakso Ikan
14 Februari 2010 pukul 20:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 14 Maret 2010 pukul 18:30 WIB

Episode Torehan Kisah

Penulis : Lizsa Anggraeny

Wanita itu kembali menyulutkan rokok ketiga. Perlahan kepulan asap dikeluarkan dari mulutnya dengan tatapan mata kosong menerawang, kelam. Sesekali tangannya membetulkan letak tatanan rambut yang dicat pirang sambil menyeruput secangkir chai yang terhidang.

"Non, duduk sini dekat gue," pintanya dengan tatapan menjurus ke arahku yang duduk di dekat jendela.

Hanya tarikan napas panjang yang bisa kujawab. Bukan! Bukan aku tak sudi, tapi kepulan asap yang menemaninya membuatku selalu sesak tersedak. Rasanya jendela yang terbuka lebar tidak sanggup menghilangkan bau kepulan asap rokok yang menyebar dalam apartemen kecil ini.

"Shota kabur lagi, Non!" ucapnya memecahkan hening sambil kembali menghembuskan asap rokok.

Kutatap Joy, wanita itu. Berkali-kali sudah ia selalu menceritakan Shota, anak laki-laki semata wayangnya yang berumur lima belas tahun. Shota telah berubah. Muara kasih sayangnya sudah tak peduli lagi dengan keadaan rumah. Ia kini bagaikan piring terpecah yang memiliki torehan tajam di semua belahan sisinya. Matanya selalu sinis menatap Joy. "Pemberontak!" begitu biasanya Joy memanggilnya.

"Kamu tahu, Non, Takahashi sekarang punya gundik baru. Setiap hari pulangnya dini hari," ucapannya beralih pada Takahashi, suaminya. "Dasar buaya!" ujar Joy sambil mematikan kasar rokok di tangan ke dalam asbak, terlihat kemarahan dalam rona wajahnya.

"Sudah cek kebenarannya? Jangan khawatir, cinta sejati akan membawa dia kembali, Joy," ucapku menimpali.

"Wuek, siang-siang gini jangan bicara cinta deh, Non. Gerah," Joy tersenyum kecut.

Sesaat setelah mematikan rokok, tangan Joy terlihat merogoh tas mencari sesuatu. Hup! Dalam sekejap di genggaman tangannya telah terdapat botol putih kecil. Joy berusaha memutar tutup botol tersebut untuk membukanya.

"Apa itu, Joy?" tanyaku curiga.

Joy mengacungkan botol tersebut. Tampak jelas tertulis "Sake" pada botol itu. Dengan cepat aku mendekati Joy dan merampas botol tersebut.

"Kamu sadar dong, Joy. Ini minuman api!" ucapku dengan suara tinggi.

"Apa pedulimu? Dengan ini gue bisa bahagia, Non," tangan Joy berusaha kembali merebut botol tersebut.

"Jelas peduli, ini apartemenku! Ini rumahku! Dan kamu sahabatku, Joy!" darahku mulai naik, sambil tetap mempertahankan botol tersebut. "Kamu boleh isi ruangan ini dengan asap rokok, cerita pilu, kegetiran hatimu, tapi jangan isi ruang kecil ini dengan barang haram!" lanjutku di antara cekat suara menahan marah dan mata perih menahan tangis. Lelah rasanya mengajak Joy berubah. "Kamu bisa bahagia tanpa benda durjana ini. Kamu masih punya Shota, Takahashi, dan aku yang bisa kamu ajak bahagia. Sadar, Joy!"

Beberapa saat aku dan Joy bergumul saling berebut botol tersebut. Buih alkohol keluar dari tutup botol yang mulai terbuka, membasahi bajuku.

"Joy, keluar! Kalau kamu masih tergantung pada minuman api ini, lebih baik keluar!" ujarku dengan butiran air membuncah dari mata sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah pintu. Menatap tajam ke arah Joy.

Joy tercengang, sesaat terdiam. Segera diambil tasnya dan menghambur ke pintu dengan segrukan kecil terdengar.

"Bruk!" terdengar bantingan pintu tertutup. Joy meninggalkan aku dalam kemarahan dengan botol putih kecil di tangan, terduduk lesu.

"Joy..." hanya lirih yang bisa kuucap menatap sosoknya yang menghilang.

Joy adalah penari. Di atas panggung sebuah club Shinjuku, tubuhnya sering melenggak-lenggok menari penuh gairah mengekspresikan diri, menghibur para tamu. Lagu berirama funky pop kerap mengiringi cipta seninya dalam tubuh yang gemulai, menghibur para lelaki hidung belang agar tersenyum puas. Joy tak pernah risih pada tatapan nanar para lelaki yang penuh hasrat. Tidak tampak di wajah manisnya usia kepala empat. Ia selalu tampak lebih muda dalam balutan kostum blackless atau V neck yang dikenakan tubuh tinggi langsingnya.

Di situ pula ia bertemu Takahashi 15 tahun yang lalu, pria yang kemudian menikahinya. Joy selalu berkata bahwa bukan cinta yang menyatukannya, tapi keadaan. "Untuk mempermudah pengurusan tinggal di Jepang, Non," salah satu alasan Joy yang sering diutarakan kenapa menerima pinangan Takahashi.

Lima tahun pertama, pernikahan Joy diselimuti bahagia. Ia melepaskan profesi penari untuk mengabdi pada suami. Sayang, seiring berjalannya waktu, cinta Takahashi lambat laun mendingin. Ia berubah bagai gunung es untuk Joy. Lelaki tersebut lebih senang menghabiskan waktu berkutat dengan pekerjaan ataupun bermain di club hostess Ginza, ditemani para wanita-wanita cantik yang menuangkan botol minuman. Dasar gila! Begitu Joy selalu mengumpat. Biduk rumah tangga Joy mulai oleng. Dan Joy membiarkannya dengan alasan tak ada cinta.

Bohong jika Joy tidak cinta Takahashi, cinta itu ada! Bahkan terkadang terpancar dalam sudut binar bola matanya. Ia cinta pada lelaki setengah baya itu. Sayang Takahashi tidak pernah tahu, bahkan tak peduli. Joy meranggas ditelan sepi.

Untuk mengisi kesepian, Joy kembali berekspresi di club penari. Berbaur dengan para lelaki iseng, menghidangkan minuman penyaji yang memabukkan, mendampingi tamu bersuka ria. Meninggalkan dan menyerahkan Shota yang saat itu masih butuh perhatian dalam pelukan panti penitipan anak. Balas dendam pada Takahashi, begitu Joy selalu berdalih.

Kini, aku mencari Joy. Tak terasa sudah enam bulan berlalu sejak peristiwa perebutan botol kecil itu. Tidak ada berita dari Joy. Berkali-kali kucoba menghubungi, tapi tanpa hasil. Kata maaf, hanya itu yang ingin kuucapkan. Betapa beribu penyesalan bertumpuk di dada. Joy tidak sepenuhnya salah. Ia hanya butuh pelampiasan, butuh seseorang yang bisa diajaknya berbicara. Dan orang itu adalah aku. Seorang sahabat yang belum bisa sepenuhnya menyusup dinding hati Joy untuk diajak berbagi. Semakin mengingat Joy, semakin bertumpuk penyesalan. Andai aku bisa memahamimu, Joy.

Pernah kudatangi apartemennya, sayang sosok Joy tak kuketemukan. Penghuninya telah berganti. Begitu pun dengan club tempatnya bekerja, Joy tak ada. Aku tergugu dalam rindu pilu. Berjuta lamunan kembali terekam. Ingin rasanya apartemen kecil ini terisi kembali oleh cerita Joy. Menangis bersama, tertawa berdua, menghapus segala emosi jiwa.

Sampai suatu senja, lamunanku tiba-tiba dibuyarkan oleh sebuah dering telpon. "Sa... salam, Non. Gue Joy!" suara ragu terdengar di sana.

"Joy?!" pekik kecilku memastikan di antara gejolak kaget.

"Surprise! Bener, Non. Ini gue, lagi di jalan nih, boleh mampir?" ucap Joy masih dengan nada riang. "Tunggu gue sepuluh menitan lagi, bye..." Klik! Terdengar bunyi nada handphone ditutup.

Aku bagai melambung tak menapak, gembira. Segera kunyalakan kompor. Chai, aku ingin membuat teh susu kegemaran Joy yang selalu terhidang saat ia bertandang. Belum lagi susu mendidih, bel pintu berbunyi. Berlari aku membukanya.

"Jo... Joy...?!" aku tersentak menatap sosok di hadapanku. Ingin rasanya kuhamburkan badan memeluknya. Penampilannya berubah. Begitu anggun dengan balutan baju panjang biru muda dengan penutup kepala berbunga-bunga.

"Iiiih... Kok bengong? Bener, ini gue, Non. Boleh masuk nggak?" dalam bola matanya aku melihat kerinduan yang sama. "Pinjam kamar mandi, Non. Nggak tahan nih," ujar Joy memecah keterpakuanku, berlari masuk, seolah tak pernah terjadi sesuatu. "Pintu depan jangan ditutup, Takahashi dan Shota masih di tempat parkiran," pinta Joy di balik pintu kamar mandi.

Takahashi? Shota? Apa aku tidak salah dengar? Belum lagi hilang penasaranku, tiba-tiba Takahashi dan Shota muncul di depan pintu dengan wajah ramah, berkata "Ojamashimasu" setelah kupersilakan masuk.

Tak berapa lama, Joy keluar dari kamar mandi dengan tetesan air di wajahnya. Aku tetap dalam bisuku tak tahu harus berkata apa sambil menatap kagum perubahan Joy.

"Loh, kok masih bengong? Cepetan pinjem sajadah, Non. Gue mau ikut shalat nih," ucapnya membuyarkan aku yang terpaku bagai patung.

Kikuk, segera kuhamparkan sajadah sambil sesekali mencuri pandang ke arah Joy, Takahashi, Shota, satu persatu bergantian.

Rasa syukur begitu menderu. Aku tak menyangka dengan penampilan baru Joy. Tak mengira dengan perubahan Joy. Sudah beberapa lama aku tak pernah melihat Joy bersujud di hadapanNya. Namun sekarang, kejaiban itu sedang kulihat. Ketiga tamuku membentuk tiga deretan barisan rapi. Paling depan adalah Takahashi yang memimpin shalat. Terdengar ejaan bacaan yang masih terbata-bata keluar dari mulutnya. Aku hanya bisa menatap haru ketiga punggung tamuku.

Kini Joy telah berubah. Cahaya Allah telah menuntunnya tersadar sejak peristiwa pertikaian botol kecil itu. Joy mengatakan, masa enam bulan adalah masa perenungan diri. Ia tinggalkan panggung tari dan mulai kembali menapaki kebenaran jalan cintanya. Berusaha meluruskan biduk purinya yang terseok bersama Takahashi. Mengumpulkan kepingan piring tajam yang terpecah dari hati Shota untuk disatukan kembali dalam rumah kasih. Tidak ada lagi puntung rokok di tangan dan kepulan asap di bibir. Joy kini tengah berusaha meniti bahagia hakiki menuju ridhaNya.

Dan aku, tetap berada di sini menjadi sahabat yang setia untuk setiap ceritanya. Menikmati semua tutur katanya, baik canda tawa ataupun getir luka. Berusaha menisik lubang hari-hari sepinya agar tertutup menjadi bahagia bersama.

Semua cerita Joy, akan kusimpan dalam file berlabel episode torehan kisah seorang sahabat, di dalam hati.

Catatan
- Chai = Minuman teh susu.
- Sake = Minuman keras khas Jepang.
- Ojamashimasu = Permisi, maaf mengganggu.

http://aishliz.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

salman dikz | Karyawan
KotaSantri.com... Ya Allah, kereeeen. Tooop daaaaah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1321 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels