Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
Alamat Akun
http://aishliz.kotasantri.com
Bergabung
8 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Matsudo - Chiba
Pekerjaan
Guru
http://aishliz.multiply.com
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz
Tulisan Lizsa Lainnya
Asinan Yakumo
7 Maret 2010 pukul 20:05 WIB
Memohon yang Terbaik
26 Februari 2010 pukul 15:30 WIB
Merapat Malam, Andai ...
18 Februari 2010 pukul 17:40 WIB
Bakso Ikan
14 Februari 2010 pukul 20:45 WIB
Maafkan Jika Saya Belum Memahami
11 Februari 2010 pukul 15:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 11 Maret 2010 pukul 15:15 WIB

Teguran Melalui Sebuah Jempol

Penulis : Lizsa Anggraeny

Terkadang, ketika memandang wajah di cermin, saya merasa tubuh ini memiliki banyak kekurangan. Hidung yang tak mancung, bulu mata yang tak lentik, tinggi badan yang jauh dari kata semampai, serta berbagai titik minus lainnya yang kadang menimbulkan kekecewaan dalam diri. Jika sudah demikian, timbulah angan-angan. Andai saja hidung saya lebih mancung, kulit lebih putih, tinggi badan lebih semampai, tentu saya akan merasa makin "PD" saja.

Sampai suatu hari, Sang Pemilik kesempurnaan memberikan teguranNya. Saat saya sedang mengerjakan tugas rutin mencuci piring, tanpa disadari jempol tangan kiri terluka oleh pecahan gelas yang ditumpuk bersama-sama dengan piring kotor. Luka tersebut menganga lebar dengan darah yang tak henti-hentinya mengalir. Tentu saja saya panik dengan kejadian tersebut dan segera melarikan diri ke UGD (Unit Gawat Darurat) terdekat diantar suami.

Setelah mendapat penanganan seksama, dokter ahli syaraf mengatakan bahwa otot jempol saya ada yang terputus. Satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk menyambung otot tersebut adalah dengan operasi. Jika tidak, jempol tangan kiri akan mengalami cacat, tidak bisa digerakan untuk selamanya. Inna lillahi... saya tersentak dengan pernyataan tersebut.

Singkat cerita, operasi akhirnya dijalankan dan tangan kiri saya harus digips selama tiga minggu. Tentu saja dengan digips, gerakan tangan kiri saya tidak sebebas seperti sebelumnya. Dengan tidak bisa bebasnya bergerak inilah, saya benar-benar merasa kehilangan nikmat Allah terbesar. Dalam menjalankan rutinitas sehari-hari yang sederhana sekalipun, seperti memasang kancing, retsleting di belakang baju, atau bahkan menggunting kuku, saya harus meminta bantuan orang terdekat.

Pun ketika setelah tiga minggu gips tersebut dibuka, jempol saya tidak bisa langsung bergerak. Perlu waktu kira-kira tiga bulan untuk rehabilitasi mengembalikan fungsi otot tersebut. Jangankan untuk menekan, untuk menekuk saja, jempol tersebut belum bisa. Saya disadarkan akan satu karunia tak ternilai, yang sebelumnya tidak pernah disadari, yaitu bisa menggerakan jempol tangan.

Betapa selama ini saya lalai, tidak mensyukuri anugerah yang ada. Berkutat dalam ketidakpuasan atas kekurangan diri tanpa melihat kebaikan yang telah didapat. Lupa bahwa betapa banyaknya jumlah karunia dan nikmat yang telah Allah berikan. Tidak hanya nikmat fisik tapi juga nikmat sehat, nikmat keindahan, ilmu, kekuatan, hikmah, dan beberapa nikmat lainnya yang tidak akan pernah bisa dihitung.

Allah Maha Pengasih, telah memberikan peringatannya melalui jempol ini. Saya sadar, sebenarnya diri ini telah berada dalam kenikmatan yang tiada tara. Allah telah memberikan kesempurnaan. Namun sayang, saya lupa untuk mensyukurinya dengan selalu merasa memiliki banyak kekurangan.

Saya teringat akan perkataan salah seorang shahabat Rasulullah SAW bernama Abu Darda RA, "Barangsiapa yang tidak melihat (merasakan) nikmat yang Allah berikan kepadanya kecuali hanya pada makanan dan minumannya, maka sesungguhnya ilmu (ma'rifat)nya sangat dangkal dan azab pun telah menantinya." Astaghfirullah... bergidik rasanya jika mengingat semua itu.

***

Hari ini, saya kembali memandang wajah di cermin. Masya Allah, begitu sempurnanya ciptaan Allah. Semua panca indera saya berfungsi dengan sempurna. Bagian internal tubuh saya dapat terus berfungsi dengan izin Allah tanpa pernah disadari.

Segala hal yang ada dalam tubuh saya, menunjukan betapa besarnya nikmat yang telah dikaruniakan Allah bagi jiwa yang sempurna. Suatu kesempurnaan yang tidak bisa ditiru oleh robot secanggih apa pun buatan manusia. Selusup, berjuta rasa syukur saya ucapkan, Alhamdulillahi rabbil'alamin.

"Ya Allah, tolonglah hamba untuk dapat terus berdzikir kepadaMu, bersyukur kepadaMu, dan beribadah dengan baik kepadaMu." (HR. Abu Daud dan Nasa'i).

http://aishliz.multiply.com

Suka
NURIN menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Widia | guru
Semailah hikmah dengan berpikir, tumbuhkan hikmah dengan menulis, dan petiklah hikmah dengan membaca. Semuanya bisa dilakukan di KotaSantri.com. Tampilannya keren, biru menyejukkan. I like it! Tulisannya sederhana, indah, dan sarat makna. Bisa nulis dan bisa baca juga. Semoga selalu memberikan manfaat bagi pengunjungnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1623 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels